Industri Perbankan Butuh Komitmen Kuat Soal Setoran Modal

Industri Perbankan Butuh Komitmen Kuat Soal Setoran Modal
Ilustrasi perbankan. (Foto: Antara)
Lona Olavia / FER Kamis, 9 Juli 2020 | 18:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Peran serta komitmen kepemilikan modal perbankan nasional saat ini sangat dibutuhkan guna menjaga keberlangsungan kinerja bank di tengah tekanan pandemi Covid-19. Di sisi lain, kepemilikan bank apakah mayoritas dimiliki asing atau non asing tidak seharusnya dikotomi dalam kondisi ini, selama ada komitmen dalam pemilik modal untuk menjaga kesehatan bank.

Baca Juga: Prospek Bisnis Fintech P2P Lending Diyakini Masih Cerah

Apalagi, hingga saat ini pangsa kepemilikan modal perbankan nasional masih dikuasai oleh domestik sebesar 73 persen. Sementara, kepemilikan asing hanya sebesar 27 persen. Begitupun dengan porsi kredit, serta porsi dana pihak ketiga (DPK) secara nasional.

"Kekuatan pemilik menentukan keberlangsungan dari kinerja bank. Siapapun pemiliknya yang penting mampu memberikan modal yang memadai, kalau tidak bank tidak akan tumbuh. Industri bank itu capital intensive, dalam artian kapabilitas pemilik yang menentukan bank akan maju, berhenti atau mundur kebelakang, bukan hanya sesaat setor modal dan dibiarkan,” kata Direktur Eksekutif Penelitian dan Pengaturan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Anung Herlianto, dalam diskusi 'Peran Pemilik Dalam Mendukung Kinerja Bank: Potret Modal dan Likuiditas di Era New Normal' di Jakarta, Kamis (9/7/2020).

Oleh karena itu, kata Anung, OJK menyayangkan beberapa pihak yang membuat isu yang meresahkan masyarakat mengenai kepemilikan asing di perbankan nasional. Tercatat dari sisi domestik, kepemilikan dibagi atas 3 unsur yakni bank pemerintah sebanyak 4 bank, bank pembangunan daerah 27 bank, serta bank swasta nasional yang mencapai 39 bank.

Baca Juga: Tindak Penyebar Rumor yang Ingin Merusak Kredibilitas Perbankan

Sementara itu, untuk bank dengan kepemilikan asing yang jumlahnya lebih kecil dibagi menjadi dua bagian yakni bank asing yang memiliki kantor cabang di Indonesia yakni sebanyak 8 bank, serta bank dengan mayoritas kepemilikan asing sebanyak 32 bank.

Terlepas itu, Anung menegaskan, OJK terus memonitor resiko likuiditas dan kredit sebagai dampak dari keringanan kredit atau restrukturisasi yang diberikan perbankan akibat Covid-19. OJK pun sudah menyiapkan infrastruktur konsolidasi, yang diantaranya adalah penggabungan, peleburan, pengambilalihan, integrasi, dan konversi. Hal itu mengingat, kian besarnya pengajuan restrukturisasi akan membuat cashflow perbankan terganggu.

Ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk, Ryan Kiryanto menilai, permodalan merupakan hal penting bagi bank ditengah kondisi pandemi yang belum diketahui ujungnya. Sebab, dengan modal yang cukup, bank bisa lebih kuat lagi dalam mendukung operasionalnya apalagi di tengah pandemi.

Baca Juga: Perbankan Semakin Tersaingi Perusahaan Fintech

Tercatat, rasio permodalan (capital adequacy ratio/CAR) secara industri sejauh ini sudah menurun dari 23 persen ke level 21 persen hingga Maret 2020. Artinya, sejauh ini telah banyak bank-bank telah mengeluarkan dana pencadangannya. "Karena likuiditas itu diibaratkan seperti darah. Disitu ada vitamin, nutrisi dan sebagainya. Jika bank likuiditasnya kering, bisa bahaya,” tegas Ryan Kiryanto.

Chairman Infobank Institute, Eko B Supriyanto menambahkan, perbankan butuh tambahan modal besar demi menjaga posisi likuiditas tetap terjaga, ditengah kondisi pandemi saat ini. Tidak peduli, jika kepemilikan saham pihak asing di suatu bank harus bertambah, asalkan kinerja bank bisa terangkat dan kembali kencang dengan setoran modal.

"Setor modal bagi bank adalah harus. Kita harus menghargai pemilik bank yang rajin setor modal, selain memperkuat bank, tapi sekaligus menunjukan komitmen dalam membesarkan bank, karena bank itu bisnis jangka panjang yang padat modal,” pungkasnya.

Sementara itu, menyoroti bank asal Korea Selatan (Korsel) KB Kookmin Bank dalam menginjeksi modal Bank Bukopin, Direktur Utama Bank Bukopin, Rivan A Purwantono mengatakan, hal tersebut tepat karena menghadapi tekanan kualitas kredit, bank akan melakukan penguatan internal untuk menjaga kualitas kredit, serta melakukan percepatan penyelesaian kredit bermasalah.

Baca Juga: Digitalisasi Tak Membuat Perbankan Kurangi Karyawan

"Dinamika global saat ini luar biasa, harus ada kepastian bisnis dan kepastian dari pemilik, ditambah lagi kemampuan pemilik untuk pengembangan teknologi yang sangat dibutuhkan pada saat masuk new normal. KB Kookmin punya itu dan punya karakteristik bisnis yang sama dengan Bukopin, sama-sama menyasar penyaluran kredit ke sektor UMKM. Jadi, kami merasa ini ada transfer knowledge dan best practice yang baik,” ujar Rivan.



Sumber: BeritaSatu.com