Prospek Bisnis Fintech P2P Lending Diyakini Masih Cerah

Prospek Bisnis Fintech P2P Lending Diyakini Masih Cerah
Beritasatu TV menyiarkan secara langsung Zooming with Primus yang mengangkat tema “Prospek Bisnis Fintech”, Kamis (9/7/2020). (Foto: Beritasatu Photo / Istimewa)
Herman / FER Kamis, 9 Juli 2020 | 17:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Industri layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi atau Peer-to-Peer Lending (P2P) Lending dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan pertumbuhan yang pesat. Apalagi masih cukup banyak kebutuhan pendanaan yang tidak bisa dipenuhi oleh perbankan. Meskipun ikut terhantam pandemi Covid-19, para pelaku di industri ini juga masih meyakini bahwa masa depan industri fintech P2P lending masih sangat cerah.

Baca Juga: OJK Minta Pegawainya Berpikir Out of The Box

Deputi Direktur Pengaturan, Penelitian dan Pengembangan Fintech Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Munawar Kasan menyampaikan, saat ini total jumlah penyelenggara fintech P2P lending di Indonesia sebanyak 158 perusahaan, di mana yang terdaftar ada 125 perusahaan dan yang sudah berizin 33 perusahaan. Dari jumlah tersebut, 147 perusahaan perupakan fintech P2P lending konvensional, sementara sisanya syariah.

"Di tengah pandemi Covid-19, bisnis fintech P2P lending juga mendapatkan tekanan yang sama beratnya dengan sektor lain. Tetapi kami di OJK dan juga pelaku di industri ini tetap optimistis bahwa ke depannya akan semakin berkembang. Apalagi jika melihat data dalam beberapa tahun terakhir ini yang menunjukkan perkembangan signifikan,” kata Munawar Kasan dalam acara Zooming with Primus bertajuk 'Prospek Bisnis Fintech' yang disiarkan langsung Beritasatu TV, Kamis (9/7/2020).

Diskusi kali ini juga menghadirkan Wakil Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia (AFPI) Sunu Widyatmoko, Founder dan CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra, serta CFO Koinworks Mark Bruny.

Munawar menyampaikan, akumulasi penyaluran pinjaman secara nasional lewat perusahaan fintech P2P lending sampai dengan Mei 2020 mencapai Rp 109,18 triliun, atau naik sebesar 166,03 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Baca Juga: Penyaluran Pinjaman Akseleran Tumbuh 6%

Meskipun di bulan April 2020 terjadi penurunan penyaluran pinjaman akibat pandemi Covid-19, Munawar mengatakan secara agregat masih memberikan pertumbuhan yang tinggi apabila dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan juga pertumbuhan industri lainnya. Penurunanya sendiri lebih disebabkan oleh kehati-hatian para pemain di industri ini dalam menyalurkan pinjaman untuk menjaga tingkat keberhasilan pengembalian tetap tinggi. Tetapi di bulan Mei 2020 mulai kembali terlihat adanya perbaikan.

"Kenapa pertumbuhan fintech P2P lending sangat tinggi? Karena memang demand-nya ini sangat tinggi. Kalau berdasarkan data yang pernah diriset oleh OJK tahun 2016, ada sekitar Rp 1.600 triliun kebutuhan pendanaan, dan yang bisa didanai oleh lembaga finansial sekitar Rp 600-an triliun. Artinya sekitar Rp 1.000 triliun tidak bisa ada yang mendanai. Sehingga ada kebutuhan yang sangat besar terhadap fintech P2P lending, makanya industri ini terus tumbuh,” kata Munawar.

Selain penyaluran pinjaman yang terus meningkat, akumulasi rekening borrower dan lender juga terus bergerak naik. Sampai Mei 2020, akumulasi rekening borrower secara nasional mencapai 25.189.941 entitas (naik 187,87 persen yoy), sementara akumulasi rekening lender keseluruhan 654.201 entitas (naik 36,22 persen yoy).

Dukung UMKM dan Sektor Produktif

Salah satu pemain di bisnis ini adalah Amartha yang fokus memberikan pendanaan untuk usaha mikro dan kecil di pedesaan. Andi Taufan Garuda Putra mengungkapkan, hingga saat ini Amartha sudah menyalurkan total pinjaman Rp 2,4 triliun kepada sekitar 550.000 perempuan pengusaha mikro dan kecil di daerah.

Untuk wilayah penyaluran, menurut Andi, penyaluran di Jawa cukup stagnan, apalagi di masa pandemi Covid-19 ini karena posisinya yang dekat dengan episentrum Covid-19, serta kebijakan pembatasan sosial yang cukup merata. Sedangkan di luar Pulau Jawa seperti Sumatera dan Sulawesi, tren pertumbuhan bisnisnya terlihat lebih baik.

"Kita melihat peluang bisnisnya (di luar Jawa) lebih positif ke depan, meskipun sekarang ini ada tantangan pandemi Covid-19,” kata Andi.

Amartha sendiri saat ini fokus memberikan permodalan untuk perempuan pengusaha mikro dan kecil yang menjalankan bisnis produktif. "Memberikan permodalan ke perempuan itu secara signifikan memberikan kesejahteraan untuk keluarga. Fokus kita adalah bagaimana perempuan ikut menggerakkan ekonomi di pedesaan,” kata Andi.

Baca Juga: P2P Lending Setujui Restrukturisasi Pinjaman Rp 237 M

Sektor yang menjadi fokus Amartha dalam memberikan pembiayaan adalah ekonomi informal seperti perdagangan, pertanian, hingga peternakan. "Di masa pandemi ini, prioritas kami justru di sektor pertanian dan peternakan. Sebab dari credit scoring tim data analytic, kami melihat risikonya lebih rendah dibandingkan sektor yang memerlukan interaksi fisik,” kata Andi.

Sebagai dampak dari pandemi, Andi mengakui Tingkat Keberhasilan 90 hari (TKB90) memang mengalami penurunan sekitar 2,5 persen dari sebelumnya 99,95 persen menjadi 96 persen. Mayoritas karena usahanya terdampak pandemi Covid-19, sehingga mengalami kesulitan untuk membayar cicilan pinjaman. Namun, sejak dibukanya kembali aktivitas ekonomi, Andi melihat ke depannya akan lebih baik.

"Saat ini kita melihatnya justru lebih positif ke depannya. Ekonomi piramida bawah secara bertahap mulai bangkit, sehingga kami meyakini TKB90 akan kembali naik di angka 99,95 persen,” kata Andi.

Terkait rencana pemerintah yang akan memungut pajak untuk layanan fintech P2P lending, Andi menyampaikan, para pemain di industri ini pastinya akan mengikuti aturan yang berlaku. Saat ini para pemain P2P lending juga tengah menunggu aturan pajak tersebut.

Baca Juga: Rentenir Online dan Investasi Bodong Menjamur

Pemain lainnya di industri ini adalah Koiworks. Menurut Mark Bruny, saat ini pengguna aplikasi KoinWorks telah mencapai lebih dari 400.000 yang terdiri dari borrower dan lender. Jumlah ini juga diprediksi akan terus bertambah lantaran banyak pelaku UKM membutuhkan pinjaman untuk memulai kembali usahanya. Sedangkan total dana yang sudah disalurkan mencapai lebih dari Rp 2 triliun.

"Di masa Covid-19, kami juga mendapatkan pendanaan baru dari institusi keuangan global untuk mendukung UMKM dan sektor produktif di Indonesia,” kata Mark Bruny.

Mark menambahkan, KoinWorks juga terus menjaga kualitas pinjamannya dengan melakukan pendekatan berbasis data yang dikombinasikan dari proses perbankan tradisional untuk credit scoring.

Terkait profil risiko peminjam ini, Sunu Widyatmoko menambahkan, saat ini Asosiasi Fintech Pendanaan Indonesia juga sudah memiliki Fintech Data Center (FDC) untuk pengintegrasian data penyelenggara fintech lending. Dengan sistem ini, para anggota lebih mudah dalam melakukan credit assessment untuk melakukan penyaluran kredit, dan juga menghindari risiko terjadinya kredit macet.

Baca Juga: Julo Financial Restrukturisasi Pinjaman Nasabah

"Saat ini AFPI sudah memiliki Fintech Data Center yang didalamnya berisi track record dari seluruh pengguna fintech lending, termasuk juga yang masuk dalam black list. Sehingga secara signifikan profil risiko akan berkurang dengan adanya data center ini,” kata Sunu.

RUU Perlindungan Data Peribadi yang saat ini tengah digodok di Parlemen, menurut Sunu, juga bisa menjadi angin segar bagi bisnis fintech P2P lending ke depan.

"Ini sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu karena akan meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk mengakses pinjaman yang bersifat digital. Ini juga menjadi alat yang penting untuk menghilangkan praktik-praktik fintech ilegal,” kata Sunu.



Sumber: BeritaSatu.com