UMKM Terkoneksi Ekosistem Digital Lebih Kuat Hadapi Pandemi

UMKM Terkoneksi Ekosistem Digital Lebih Kuat Hadapi Pandemi
Ilustrasi usaha mikro, kecil, dan menengah. (Foto: Antara)
Herman / FER Rabu, 8 Juli 2020 | 17:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sebagian pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) masih tetap bisa bertahan dan terus bertumbuh di tengah pandemi Covid-19. Terutama, pelaku UMKM yang telah terhubung dengan ekosistem digital atau marketplace online.

Baca Juga: Teten Khawatir Separuh UMKM Terancam Gulung Tikar

Dari survei yang dilakukan Mandiri Institute terhadap pelaku UMKM mitra Bank Mandiri maupun lembaga perbankan lainnya pada Mei 2020 lalu, UMKM dengan online channel ternyata memiliki kelenturan atau resilient, di mana pendapatannya lebih tinggi dibandingkan UMKM offline, masih dapat beroperasi selama pandemi Covid-19, sehingga dapat bertahan lebih lama.

"Pada saat kondisi pandemi, 42 persen UMKM yang tidak memiliki online channel berhenti beroperasi. Sementara UMKM yang memiliki online channel hannya 24 persen,” kata Head of Mandiri Institute, Teguh Yudo Wicaksono, dalam acara diskusi yang digelar Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) melalui webinar, Rabu (8/7/2020).

Dari sisi pendapatan, baik yang sudah online maupun yang masih online sama-sama mengaku mengalami tekanan. Tetapi hasil survei ini menemukan bahwa ada sekitar 6,9 persen pelaku UMKM yang sudah online mengalami peningkatan pendapatan.

Baca Juga: Pemerintah Jamin Kredit Modal Kerja untuk UMKM

"Dengan kapasitas cashflow yang mereka miliki sekarang, kita juga bertanya seberapa lama mereka bisa bisa bertahan. Sebanyak 60 persen] dari UMKM yang tidak memiliki akses online mengaku hanya bisa bertahan kurang dari tiga bulan, bahkan kebanyakan hanya satu bulan. Sementara yang memiliki akses online bisa bertahan tiga bulan atau lebih. Hal ini dikarenakan UMKM tersebut memiliki kemampuan ekspansi pasar yang jauh lebih besar,” tuturnya.

Teguh menambahkan, saat ini adanya UMKM online juga dapat meredam tekanan pandemi Covid-19 sekitar 1,5 persen terhadap PDB nasional. Namun dapat lebih besar lagi jika lebih banyak UMKM yang menggunakan online channel.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha kecil Menengah (UKM), dari sekitar 64 juta pelaku UMKM di Indonesia, saat ini yang sudah go online sekitar 13 persen atau 8 juta pelaku UMKM. Pemerintah sendiri menargetkan pada tahun ini UMKM yang go online bisa mencapai 10 juta.

Baca Juga: PTPP Bantu Modal Usaha Pelaku UMKM di Indonesia

Menurut Teguh, kemampuan recovery UMKM sebetulnya bergantung pada kemampuan dalam memanfaatkan channel penjualan online, serta seberapa dalam integrasi dalam jaringan pemasok indutri terkait. Beberapa sektor di UMKM juga didentifikasi bisa recovery lebih cepat, tetapi ada juga yang akan lambat.

Misalnya, kata Teguh, UMKM di transportasi dan pergudangan, terutama logistik, merupakan sektor yang akan bertahan lebih lama menghadapi pandemi, dan akan pulih lebih cepat. Kemudian UKM di sektor manufaktur akan terkena dampak yang signifikan bila dilakukan pembatasan sosial. Sektor ini diperkirakan akan pulih relatif cepat karena tingginya integrasi dengan industri.

"Untuk UKM di sektor akomodasi dan makanan minuman (restoran) terdampak cukup dalam karena memiliki kemampuan yang rendah untuk switch ke online dan lebih banyak menjual langsung ke konsumen akhir," tandas Teguh.



Sumber: BeritaSatu.com