Menteri Airlangga: Perekonomian RI Mulai Bergeliat Kembali

Menteri Airlangga: Perekonomian RI Mulai Bergeliat Kembali
Sebuah keluarga kecil sedang meninjau rumah yang sedang dibangun memakai fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk di pinggiran Jakarta, Jumat (3/7/2020). (Foto: Beritasatu Photo/Istimewa)
Herman / FMB Rabu, 8 Juli 2020 | 08:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Menyusul adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah wilayah untuk meminimalisir penyebaran Covid-19, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 diprediksi akan terkontraksi hingga minus 3%. Agar bisa kembali positif, berbagai faktor pengungkit akan terus dioptimalkan. Antara lain dari isi belanja pemerintah dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang penyerapannya akan lebih dioptimalkan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, untuk bisa kembali mencapai pertumbuhan yang positif pada 2020, pada dua kuartal terakhir ini dibutuhkan kenaikan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4% setelah sebelumnya mengalami pertumbuhan yang minus. Pemerintah Indonesia sendiri pada 2020 ini menargetkan pertumbuhan ekonomi antara 0,5% hingga sekitar 2%.

“Dari belanja pemerintah yang ditargetkan sampai Rp 600 triliun dan dari program PEN sekitar Rp 300 triliun, kedua kegiatan ini diharapkan dapat men-trigger kenaikan pertumbuhan ekonomi di kuartal III. Kemudian di kuartal IV, harapannya sebagian dari sektor usaha sudah bisa recovery, sehingga ada kontribusi dari sektor swasta pada kuartal IV,” kata Airlangga Hartarto di acara Special Dialog bertajuk "Geliat Ekonomi di New Normal" yang disiarkan Beritasatu TV, Selasa (7/7/2020).

Airlangga menyampaikan, beberapa program percepatan realisasi stimulus fiskal penanganan Covid-19 dan PEN juga terus dilakukan. Misalnya pada Selasa (7/7/2020) dilakukan peluncuran program Penjaminan Kredit Modal Kerja Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Sebelumnya pada 25 Juni 2020, pemerintah juga telah menempatkan uang negara di bank umum milik pemerintah atau Himpunan Bank-Bank Milik Negara (Himbara) dengan total Rp 30 triliun. Dana tersebut diharapkan dapat mendorong sektor rill melalui kredit modal kerja baru di perbankan untuk UMKM.

Ekonomi Mulai Naik
Melalui kebijakan transisi menuju tatanan kehidupan normal yang baru atau new normal, Airlangga mengatakan hal tersebut juga mulai memerlihatkan hasil yang baik bagi ekonomi Indonesia. Beberapa sektor yang sebelumnya turun mulai mengalami kenaikan.

“Efeknya kita sudah mulai melihat ada kenaikan. Kalau di awal restoran itu turunnya 90%, sekarang ini turunnya 35%. Demikian juga sektor pariwisata yang kemarin turun 90%, sekarang sudah mulai naik (berkurang pelemahannya) ke 70%. Otomotif yang kemarin turun dalam, sekarang turunnya sekitar 30%. Jadi kita melihat adanya kenaikan dan diharapkan pada kuartal III dan IV angkanya lebih baik lagi,” paparnya.

Airlangga mengatakan Indonesia juga bisa mengambil peluang terjadinya relokasi industri dari Tiongkok ke Indonesia. Berdasarkan data yang disampaikan Presiden Joko Widodo, ada potensi 119 perusahaan yang akan relokasi perusahaannya keluar dari Tiongkok.

Menurutnya, yang perlu dilakukan adalah transformasi di sektor perekonomian, antara lain mendorong pembiayaan pembangunan jangka panjang, begitu juga dari sisi tenaga kerja dan kemudahan perizinan. Hal-hal tersebut menurutnya dapat dilakukan apabila RUU Cipta Kerja bisa diselesaikan di parlemen.

“Para investor maupun lembaga-lembaga besar berharap transformasi ekonomi bisa dilakukan, antara lain melalui RUU Cipta Kerja. Mereka yang akan masuk ke Indonesia sudah melihat beberapa faktor. Artinya kita lihat Lotte Chemical terus berjalan, Hyundai masih membangun, kemudian data center sedang dibangun. Kita juga menerima di kawasan Batam sudah ada berapa relokasi, bahkan akan dikembangkan agriculture dan aquaculture di Batam maupun Bintan, kemudian pabrik aluminum di Batam juga terus melakukan ekspansi. Jadi kalau kita lihat di lapangan investor masuk ke kita, tinggal bagaimana kita menangkap mereka yang baru mau akan pindah,” kata Airlangga.

Mengingat sekitar 215 negara di seluruh dunia mengalami pandemi Covid-19, peningkatan kinerja ekspor saat ini belum bisa diharapkan. Tetapi Airlangga melihat potensi pasar domestik dan regional ASEAN bisa dioptimalkan. Beberapa pendekatan juga telah dilakukan, antara lain berbicara dengan Menteri Perdagangan dan Industri Filipina agar tidak mengenakan safeguard kepada indutri makanan dan minuman Indonesia.

“Kalau kita mengharapkan negara lain menjadi penghela perekonomian, mungkin ini belum bisa dalam waktu dekat. Ini akan kembali dalam satu-dua tahun ke depan. Tetapi dari segi regional ASEAN, ini yang bisa dimanfaatkan, apalagi ada 600 juta penduduk, di mana yang terbesar adalah Indonesia. Sehingga kita akan mendorong demand dari domestik dan regional,” kata Airlangga.

Selain itu, perjanjian perdagangan dengan berbagai negara juga akan terus diperluas, sehingga ekspor Indonesia bisa didorong pada saat pasar negara-negara tersebut mulai dibuka. Di sisi lain, belanja negara juga diarahkan untuk dapat menyerap produk-produk lokal.

Menurutnya, beberapa sektor yang menjadi andalan Indonesia untuk bisa tetap meraih pertumbuhan ekonomi yang positif antara lain yang mampu menghela dalam situasi seperti sekarang seperti infrastruktur, serta sektor-sektor yang selama pandemi tidak mengalami penurunan, antara lain industri makanan dan minuman, industri farmasi, Alat Pelindung Diri (APD), dan juga logistik.

“Yang jadi pengungkit tambahan adalah sektor digital. Karena sektor ini potensinya sampai 2025 untuk eCommerce US$ 125 miliar. Kita ketahui Indonesia memiliki keunggulan di bidang teknologi, karena beberapa perusahan unicorn kita juga beroperasi di beberapa negara ASEAN, sehingga ini bisa digunakan untuk menghela pertumbuhan post-pandemic,” kata Airlangga.



Sumber: BeritaSatu.com