Perbanas: Digitalisasi Tak Membuat Perbankan Kurangi Karyawan

Perbanas: Digitalisasi Tak Membuat Perbankan Kurangi Karyawan
Ilustrasi Digital (Foto: istimewa / istimewa)
Lona Olavia / WBP Sabtu, 4 Juli 2020 | 12:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kian masifnya layanan digital yang dikembangkan oleh perbankan di tengah perubahan gaya hidup masyarakat akibat pandemi Covid-19, tidak akan membuat industri ini mengurangi jumlah alias melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap para karyawannya.

Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sekaligus Pengurus Pusat Perbanas Vera Eve Lim mengatakan, para pekerja di dunia perbankan tidak perlu khawatir dengan munculnya era digitalisasi seperti saat ini. Berdasarkan pengalamannya di BCA, semakin banyak produk digital yang diluncurkan justru akan semakin banyak karyawan yang dibutuhkan.

"Jangan khawatir dengan adanya digital, justru dengan adanya digital kita dituntut untuk lebih kreatif dalam bekerja. Saya pun tidak melihat ini peluang kehilangan pekerja. Di BCA ada 25.000 karyawan dan dengan banyaknya platform yang diluncurkan pekerjaan makin bertambah," ujarnya dalam Webinar Perbankan Series VI dengan Tema “Next Level of Bank Digitalization for the New Era” yang diselenggarakan Perbanas Institute Jakarta Jumat (3/7/2020).

Vera menambahkan, semakin banyak produk yang diluncurkan, maka spektrum akan makin luas. Dengan demikian, pada era digital ini job desk karyawan akan lebih fokus kepada penyelesaian masalah yang tidak dapat ditangani oleh layanan digital. "Karyawan tetap dibutuhkan untuk menangani hal-hal yang tidak bisa dilayani dengan digital. Justru skill karyawan akan kita upgrade," tegasnya.

Pihak perbankan pun menyadari, tak semua hal dapat dilakukan oleh teknologi digital, misalnya yang berkenaan dengan transaksi di atas Rp 1 triliun. Untuk itu, digitalisasi harus diikuti dengan membangun bisnis model yang cocok dengan nasabah. "Harus fokus dulu membangun bisnis model yang cocok dengan nasabah. Punya aplikasi mobile bukan berarti sudah digital. Yang paling penting bisnis model yang cocok dan lakukan analisis yang baik agar customer experience juga berkembang," ujarnya.

Terkait persaingan dengan fintech dalam hal digitalisasi, diakui Vera, hal tersebut mendorong perbankan untuk terus berinovasi. Namun di sisi lain, kehadiran fintech mempercepat edukasi ke nasabah. "Intinya kalau ekosistem terus berkembang, kita juga harus terus berubah. Bagaimana bisnis bank kembali ke customer service mindset supaya tepat sasaran ke nasabah," ungkap dia.

Hal senada disampaikan Direktur PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sekaligus Pengurus Pusat Perbanas Rico Usthavia Frans. Menurutnya, fungsi teller dan customer service bank akan berganti dari hanya menghitung uang dan melayani administrasi nasabah, menjadi penyelesai masalah di era digital. Oleh karena itu, karyawan bank dituntut ke depannya harus memiliki skill yang lebih mengarah kepada pelayanan untuk menyelesaikan masalah berat nasabah yang berkaitan dengan fraud transaksi digital.

“Jadi, teller dan customer service harus berubah fungsi yang tadi cabang banyak yang datang untuk menabung sekarang tugasnya adalah menyelesaikan masalah yang kompleks. Ini membutuhkan skill yang berbeda dari teller yang tadinya hanya menghitung uang,” pungkasnya.

Adapun untuk memperkuat kapabilitas teknis, soft-skill, leadership SDM, Bank Mandiri telah menyediakan berbagai training, pelatihan, dan pendidikan melalui kerja sama dengan berbagai kampus terbaik di dalam dan luar negeri. Sehingga dapat menjadikan karyawan sebagai pembelajar yang tangguh atau growth mindset.



Sumber: BeritaSatu.com