Kritikal, Garuda Harap Dana Talangan Rp 8,5 T Cepat Cair

Kritikal, Garuda Harap Dana Talangan Rp 8,5 T Cepat Cair
Ilustrasi Garuda Indonesia (Foto: Antara/M Agung Rajasa)
Lona Olavia / FMB Jumat, 5 Juni 2020 | 13:59 WIB

Tangerang, Beritasatu.com - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk menyatakan dana talangan dari pemerintah sekitar Rp 8,5 triliun kepada perseroan saat ini sudah selesai didiskusikan dan tinggal menunggu penandatanganan resminya. Dana tersebut tidak boleh digunakan untuk membayar utang, melainkan untuk modal kerja.

"Sinyal utama yang sudah disampaikan Kementerian Keuangan, ini (dana talangan) tidak boleh diperuntukkan buat bayar sukuk. Ini sudah disepakati, tapi belum diteken. Untuk modal kerja dan rencana inefesiensi yang dilakukan Garuda. Berharap setelah ini ada cost structure yang lebih sehat," kata Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra usai paparan publik secara virtual, Jumat (5/6/2020).

Stimulus ini, jelasnya merupakan rangkaian dari skema Penyelamatan Ekonomi Nasional (PEN) terhadap sektor-sektor yang paling terdampak pandemi Covid-19. Sehingga, penggunaannya harus dirundingkan bersama antara perusahaan, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Baca juga: Akibat Pandemi Covid-19, Pendapatan Garuda Terjun 90 Persen

Sebelum dicairkan, dana talangan, sambung Irfan juga harus disepakati jangka waktu dan skema pembayaran pengembaliannya serta rincian pemakaiannya. Adapun saat ini, ia berharap dana talangan segera diturunkan mengingat kondisi keuangan perusahaan semakin hari semakin kritis. "Kami gembira atas antusiasme Kementerian Keuangan dan BUMN untuk bantu Garuda. Saya sampaikan kondisi maskapai saat ini yang penting cash. Saya harap prosesnya bisa cepat karena kondisi seperti ini kritikal," ungkap dia.

Lebih lanjut, Irfan menyatakan 90% dari pemegang saham setujui perpanjangan pembayaran utang global sukuk sebesar US$ 500 juta yang telah jatuh tempo pada 3 Juni 2020, dalam tiga tahun ke depan. Usulan terkait perpanjangan pelunasan utang sukuk telah dikirim pada 19 Mei 2020 dan akan diputuskan persetujuan consent solicitation dalam Rapat Umum Pemegang Sukuk pada 10 Juni 2020. Perusahaan dengan kode emiten GIAA itupun telah mengirimkan surat kepada pemegang sukuk yang tercatat di bursa Singapura.

Untuk informasi, penerbitan ini merupakan Global Sukuk berdenominasi USD pertama yang dikeluarkan oleh satu korporasi di Asia Pasifik, dengan jumlah pemesanan 4x lipat dari jumlah yang ditargetkan, dengan jangka waktu 5 tahun dan kupon 5,95%.

Secara geografis, investor penyerap Sukuk Global Garuda di antaranya berasal dari Timur Tengah sebanyak 56%, Asia 32%, dan Eropa 12%. Sementara berdasarkan tipe investor, penyerap Sukuk Global tersebut adalah 52% bank, 29% korporasi, dan 19% manajer investasi.

Di sisi lain, Garuda, dikatakan Irfan selama pandemi ini telah mengalami penurunan penumpang hingga 90%. Untuk itu, maskapai pelat merah itu fokus di bisnis kargo dan pesawat charger untuk repatriasi warga negara asing. Pendapatan perseroan pun kini diakuinya makin berat keuangannya, seiring hilangnya porsi 10% pendapatan akibat penundanaan pemberangkatan jemaah haji 2020.

"Haji kontribusi tahun ke tahun plus minus 10%. Haji dibatalkan akan buat Garuda kehilangan pendapatan yang cukup signifikan. Akhir tahun, Lebaran dan haji, ini masa-masa Garuda sibuk dan ada lonjakan pendapatan di masa tersebut. Padahal untung menerbangkan haji juga tidak boleh banyak-banyak, untung saja belum ada deal yang besar," ungkapnya. 



Sumber: BeritaSatu.com