Ekonom Senior Sebut Butuh Solidaritas Global Hadapi Covid-19

Ekonom Senior Sebut Butuh Solidaritas Global Hadapi Covid-19
Ekonom senior INDEF, Faisal Basri. (Foto: Beritasatu Photo / Herman)
Herman / MPA Senin, 18 Mei 2020 | 15:58 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Faisal Basri mengatakan penanganan virus korona (Covid-19) yang telah menyebar di banyak negara membutuhkan aksi kolektif global. Sebab berbeda dengan perang konvensional yang selalu melahirkan dua kutub yang saling bertentangan, Covid-19 telah menjadi pandemik global yang menjadi musuh bersama.

“Untuk menghadapi Covid-19 ini dibutuhkan global solidarity, negara maju yang memiliki kemewahan membantu negara miskin yang lebih rentan. Kalau tidak, mereka juga akan terkena imbasnya bila terjadi apa-apa di negara miskin, seperti Ebola dan sebagainya,” kata Faisal Basri saat menjadi pembicara dalam ISPE Lecture yang digelar Indef secara virtual, Senin (18/5/2020).

Karenanya, Faisal mengatakan setiap negara perlu menghimpun segala sumber daya dan berbagi data, temuan, pengalaman, dan vaksin untuk percepatan penyelamatan nyawa manusia agar tidak banyak korban yang meninggal seperti kasus Flu Spanyol tahun 1918. Kemudian mencari keseimbangan baru antara interdependency dengan penguatan nation-state.

“Menutup diri bukanlah solusi. Konsolidasi di tingkat nation-state dalam periode transisi, tapi bukan antiasing,” kata Faisal.

Faisal juga melihat akan terjadi perubahan di Indonesia setelah adanya pandemi Covid-19 ini, di mana hubungan negara-buruh atau pekerja-pengusaha di masa mendatang harus semakin erat untuk menjaga jaring pengaman sosial yang lebih kuat.

“Kemudian hubungan pusat-daerah, ini terbukti daerah kuwalahan karena pusatnya maju-mundur, sehingga menimbulkan apatisme, terserah. Karena itu, yang ada di garda terdepan melawan musuh ini adalah daerah. Jadi ke depan justru daerah yang harus kita kuatkan,” kata Faisal.

Yang juga penting menurutnya adalah kembali ke jati diri bangsa sebagai negara maritim, kemudian sumber daya alam untuk menyejahterakan rakyat, termasuk untuk generasi mendatang atau keadilan antargenerasi. “Peluang lainnya adalah penguatan struktur industri, supply chains yang lebih lokal dan kuat,” imbuhnya.

Tumbuh Minus 1,5%

Sementara itu, Dana moneter internasional (IMF) telah memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 ini akan mencapai 0,5%. Namun pada 2021 mendatang, ekonomi Indonesia diprediksi akan langsung pulih dengan pertumbuhan hingga 8,2%. Begitu juga dengan ekonomi dunia yang diprediksi akan -3% di 2020, tetapi akan naik menjadi 5,8% di 2021.

Faisal Basri menilai prediksi IMF ini tak masuk akal. Sebab diperkirakan pada tahun depan ekonomi Indonesia masih akan berat sebagai dampak sisa dari pandemic Covid-19. Proses recovery-nya pun menurutnya tidak akan secepat itu.

“Rasanya ada yang salah dari modeling IMF yang memandang bahwa serta merta ekonomi akan pulih seperti sedia kala pada 2021 tanpa menimbulkan jejak-jejak lagi,” kata Faisal Basri.

Di Indonesia sendiri, saat ini kasus Covid-19 telah menyebar ke semua provinsi di 387 (75,3%) kabupaten/kota. Kasus Covid-19 di Indonesia menurut Faisal masih berada di lereng menuju puncak kurva. Di sisi lain, kapasitas sistem pelayanan kesehatan sangat rendah dan tidak merata, sehingga menyebabkan tingkat kematian (case fatality rate) Indonesia 6,5% atau tertinggi di Asia.

Pandemi Covid-19 juga telah menyebabkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang besar. Berdasarkan berbagai data yang dihimpunnya, Faisal memperkirakan tingkat pengangguran terbuka pada Mei 2020 ini mencapai 7,4%, terendah dalam 20 tahun sebelum muncul Covid-19.

Faisal sendiri memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 akan  minus 1,5% dan bisa lebih buruk lagi. Kemudian di 2021 mencapai 4,9%, 2022 5,0%, 2023 5,2%, dan 2024 5,2%, sehingga rata-ratanya dalam lima tahun sebesar 3,8%. Angka ini lebih rendah dari RPJMN 2020-2024 untuk skenario bawah sebesar 5,7% dan skenario atas 6,0%.



Sumber: BeritaSatu.com