Rupiah Menguat, Ditutup di Posisi Rp 15.880/Dolar AS

Rupiah Menguat, Ditutup di Posisi Rp 15.880/Dolar AS
Ilustrasi rupiah. (Foto: Antara / Rahmad)
Lona Olavia / MPA Kamis, 9 April 2020 | 16:13 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com- Kurs rupiah terhadap dolar AS kini berada di bawah Rp 16.000an per dolar AS. Pasar pun dikatakan Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim optimistis bahwa rupiah akhir tahun ini bisa terus menguat di Rp 14.000-14.500 per dolar AS. Mengutip data Bloomberg, rupiah terhadap dolar AS menguat 370 poin atau 2,28 persen menjadi Rp 15.880 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (9/4).

Kenaikan rupiah didukung faktor eksternal dan internal. Eksternal misalnya, penyebaran pandemi Covid-19 mulai menunjukkan pelambatan di Eropa dan AS. Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan dalam kurun waktu 20 Januari-6 April rata-rata pertumbuhan jumlah kasus corona adalah 12.52% per hari. Sejak 24 Maret, pertumbuhan jumlah kasus baru sudah di bawah itu yakni 9,67%. Bahkan beberapa hari terakhir pertumbuhan kasus baru per harinya sudah satu digit persentase. Hal ini memunculkan harapan pandemi Covid-19 akan segera berakhir, dan perekonomian bisa segera bangkit. Sentimen pelaku pasar pun membaik dan masuk ke aset-aset berisiko.

Yang juga menarik adalah pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya ketika mereka berusaha untuk menyeimbangkan pasar minyak yang kelebihan pasokan menyusul merosotnya permintaan global akibat wabah Covid-19

Selain itu para menteri keuangan zona euro berkumpul lagi untuk mencoba dan menyetujui cara terbaik strategi regional untuk membiayai langkah-langkah mitigasi krisis. Adanya kesepakatan tentang bagaimana membantu negara-negara anggota yang sakit terkena coronavirus. Poin yang menonjol tampaknya adalah penerbitan instrumen utang umum untuk membiayai pengeluaran terkait coronavirus, umumnya dikenal sebagai 'coronabonds', yang didorong oleh Prancis, Italia, dan Spanyol, sementara Jerman, Belanda, Austria, dan Finlandia menentang.

Sedangkan dari internal yakni pernyataan IMF bahwa Indonesia salah satu negara di Asia yang tahan akan resesi akibat pandemi virus corona mengakibatkan pasar kembali tertarik terhadap pasar Indonesia sehingga wajar kalau arus modal asing kembali masuk ke pasar dalam negeri. Di samping itu Pemerintah akan menerbitkan tiga surat utang global dengan mata uang asing senilai US$ 4,3 miliar dengan tenor terpanjang 50 tahun atau setara Rp 68,6 triliun dengan kurs Rp 16.000 per US$.

“Pernyataan baik oleh IMF maupun Pemerintah membawa angin segar bagi perekonomian dalam negeri dan semua tau bahwa fundamental ekonomi cukup bagus sehingga rupiah kembali menguat dan penguatannya cukup tajam dan dibawah 16.000,” ujar Ibrahim, dalam risetnya, Kamis (9/4)

Sementara, dalam perdagangan Senin depan, ia memprediksi rupiah kemungkinan akan diperdagangkan menguat di level Rp 15.700-16.000 per dolar AS.



Sumber: BeritaSatu.com