Sri Mulyani: Dampak Corona Jauh Lebih Berat Dibandingkan Krisis 1998 dan 2008

Sri Mulyani: Dampak Corona Jauh Lebih Berat Dibandingkan Krisis 1998 dan 2008
Sri Mulyani Indrawati Lantik 9 Pejabat eselon II (Foto: Youtube.com/BeritaSatu / BSTV)
Herman / IDS Senin, 6 April 2020 | 18:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebut krisis yang dialami akibat wabah virus corona atau Covid-19 jauh lebih kompleks dan berat dibandingkan krisis yang terjadi pada tahun 2008-2009 dan 1997-1998 lalu. Sebab, krisis saat ini tidak hanya mengancam ekonomi dan sektor keuangan, tetapi juga jiwa manusia.

“Covid-19 jauh lebih kompleks dan lebih berat dari krisis keuangan 2008- 2009. Karena Covid-19 mengancam jiwa manusia, betul-betul mematahkan semua fondasi ekonomi di semua negara, serta menimbulkan ketidakpastian dan gejolak di pasar modal yang tidak ada jangkarnya,” kata Sri Mulyani saat mengikuti rapat kerja (raker) bersama Komisi XI DPR secara virtual, Senin (6/4/2020).

Sri Mulyani mengungkapkan, penyebab dari krisis yang terjadi di tahun 2008-2009 adalah lembaga keuangan dan korporasi yang mengalami bangkrut, sehingga upaya mitigasi persoalan menjadi lebih mudah.

“Kalau dulu di 2008 jelas karena ini penyebabnya lembaga keuangan dan korporasi, sehingga kalau sudah diumumkan bangkrut bisa langsung dihitung berapa kerugiannya, itu sudah muncul jangkar. Sementara yang sekarang ini tidak ada jangkarnya karena tidak ada yang tahu kapan Covid-19 berhenti, apakah berhentinya sesudah mengalami puncak yang mengerikan, atau berhenti dalam situasi yang lebih baik,” ujar Sri Mulyani.

Tidak hanya dengan krisis 2008-2009, mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengatakan krisis yang terjadi saat ini juga lebih kompleks dibandingkan krisis Asia tahun 1997-1998.

“Memang jauh lebih kompleks, bahkan dibandingkan 1997-1998 yang mengalami situasi krisis. Saat itu paling tidak kita tahu penyebabnya dan itu bisa ditahan. Kalau yang ini penyebabnya masih belum bisa ditahan. Banyak skenario mengenai containment yang masih perlu diuji. Bahkan di Tiongkok sendiri yang katanya di Wuhan sudah bisa dibuka, sekarang muncul kasus baru di mana salah satu daerah lain juga mengalami penutupan,” kata Sri Mulyani.



Sumber: BeritaSatu.com