Bursa Bergejolak karena Corona, Selektif Pilih Saham Blue Chip

Bursa Bergejolak karena Corona, Selektif Pilih Saham Blue Chip
Gedung Menara Astra di Jakarta. (Foto: Dok)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 1 April 2020 | 08:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Gejolak pasar saham di dunia termasuk di Indonesia diprediksi akan terus berlanjut selama penanganan virus corona belum menunjukkan hasil positif. Hal itu membuat pelaku pasar lebih selektif mengoleksi saham dan cenderung memilih saham blue chip berkapitalisasi pasar besar. Pasalnya, rata-rata emiten ini memiliki fundamental baik.

Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee Hans mengatakan, walaupun saham-saham blue chip tersebut terkoreksi, investor tetap optimistis jika kondisi membaik maka harga saham emiten itu akan melonjak. Terutama, jika bisnis emiten itu terkait dengan hajat hidup orang banyak. "Ketika terjadi koreksi di pasar dapat kembali dilakukan akumulasi beli saham blue chip,” ujarnya di Jakarta, Rabu (1/4).

Namun, kata dia, saham yang dibeli harus punya valuasi bagus untuk jangka menengah dan panjang. Kuncinya kata dia, pilih saham perusahaan besar karena biasanya lebih cepat recovery. "Perusahaan besar didukung cash yang kuat," kata Hans.

Selain itu, pilih saham yang tidak punya utang besar. "Perlu juga dilihat yang punya potensi pertumbuhan ke depannya,” ujar Hans.

Baca juga: Bursa Asia Pagi Ini di Zona Merah

Sebagai gambaran, indeks harga saham gabungan (IHSG) terus mengalami tekanan pada bulan Maret 2020 akibat pandemi corona. Indeks anjlok dari 5.650,14 pada tanggal 4 Maret 2020 ke 4.414,5 pada 30 Maret 2020. Ketika IHSG berbalik arah ke teritori positif pada Jumat (27/3/2020), sejumlah saham unggulan di Bursa Efek Indonesia (BEI) meroket di antaranya saham PT Astra International Tbk (ASII) mencatat persentase tertinggi dalam 10 top gainer dengan kenaikan 12,7 persen (Rp 460) ke level Rp 4.080 dan kapitalisasi pasar Rp 165,1 triliun.

Baca juga: Simak Daftar Rekomendasi Saham Hari Ini

Dari sektor perbankan, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencacat kenaikan 10,51 persen (Rp 470) ke level Rp 4.940 dengan kapitalisasi pasar Rp 228,2 triliun. Di sektor telekomunikasi, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) naik 3,69 persen (Rp 110) ke kisaran Rp 6.800 dengan kapitalisasi pasar Rp 306,1 triliun. Selanjutnya PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) naik 0,36% (Rp 25) mencapai Rp 6.800 dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 259,4 triliun.

Sebagaimana diketahui, ASII merupakan holding company sejumlah perusahaan yang bergerak dii bidang otomotif, jasa keuangan, alat berat, pertambanganm konstruksi & energi, agribisnis, infrastruktur dan logistik, teknologi informasi, serta properti. Astra International Tbk pada tahun 2019 membukukan laba bersih Rp 21,7 triliun atau naik tipis 0,18 persen dari tahun 2018 yang mencapai Rp 21,67 triliun. Sedangkan, pendapatan bersih konsolidasi grup pada 2019 turun 1 persen menjadi Rp 237,2 triliun.



Sumber: BeritaSatu.com