Banjir Jakarta 25 Februari, Dunia Usaha Hanya Rugi Rp 56,7 M

Banjir Jakarta 25 Februari, Dunia Usaha Hanya Rugi Rp 56,7 M
IIustrasi Banjir ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Lenny Tristia Tambun / FMB Jumat, 28 Februari 2020 | 22:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) menyebutkan nilai kerugian akibat bencana banjir Jakarta pada Selasa (25/2/2020) jauh lebih kecil dibandingkan kerugian banjir pada banjir tahun baru.

Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPP) DKI Sarman Simanjorang mengatakan kerugian banjir yang terjadi pada 25 Februari 2020 sebesar Rp 56,7 miliar, jauh lebih rendah dibandingkan angka kerugian banjir pada 1 Januari 2020 yang hampir mencapai Rp 1 triliun.

“Boleh dikatakan dampak banjir pada 25 Februari jauh lebih rendah dibandingkan pada kerugian banjir pada 1 Januari 2020 yang hampir Rp 1 triliun,” kata Sarman Simanjorang dalam acara Forum Diskusi Wartawan dengan BI DKI di Sabang, Jakarta Pusat, Jumat (28/2/2020).

Dijelaskan angka kerugian banjir lebih besar pada awal tahun 2020, dikarenakan banjir terjadi dalam waktu cukup panjang mencapai empat hari. Lalu, saat itu puncaknya masyarakat liburan tahun baru sehingga banyak pusat destinasi wisata yang sepi pengunjug.

“Kalau banjir yang terjadi pada 25 Februari itu kan hanya satu hari, cepat surutnya, sehingga hitungan kerugiannya sangat ringan,” ujar Sarman Simanjorang.

Diakuinya, saat terjadi banjir pada 25 Februari, banyak toko-toko yang tutup. Tetapi bukan karena kawasannya terkena banjir, namun karyawannya yang tidak bisa datang bekerja karena akses menuju tempat bekerja tertutup karena banjir dan kemacetan lalu lintas.

“Karena banyak karyawan yang tidak masuk, ternyata yang pegang kunci kios atau toko. Sehingga ketika mereka tidak bisa datang bekerja karena akses jalan menuju toko tertutup banjir dan macet, ya tokonya tidak buka,” ungkap Sarman Simanjorang.

Diungkapkannya, total kerugian transaksi pusat bisnis akibat banjir sebesar Rp 56,7 miliar. Kebanyakan kerugian dialami pusat bisnis di wilayah barat dan utara karena, kegiatan transaksi di sana lumpuh saat banjir. Dua wilayah tersebut, yaitu kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara dan kawasan Glodok/Mangga Dua, Jakarta Barat.

Dari angka tersebut, ia merincikan, untuk kawasan Jakarta Barat, tercatat sebanyak 21 pertokoan tutup karena ruas jalan menuju kawasan itu tidak dapat diakses. Dampak kerugian transaksi mencapai Rp 31 miliar. Sementara, kawasan Jakarta Utara, tercatat sembilan pusat pertokoan mengalami hal serupa akibat banjir dan dampak kerugian mencapai Rp 18 miliar.

Sedangkan 400 dari 1000 ritel yang ada di Jakarta harus merugi sebesar Rp 4 miliar. Kemudian, kerugian juga terjadi di pasar tradisional. Sebanyak 20 pasar tradisional dengan kapasitas 2.500 kios merugi sebesar Rp 1,25 miliar. Terakhir untuk usaha restoran, tercatat sebanyak 3.957 gerai mengalami penurunan omzet sebesar 50 persen dengan total kerugian Rp 1,97 miliar.

"Kerugian tersebut dihitung dari jumlah transaksinya, belum dari sisi logistik dan transportasinya. Meski demikian jika ditambahkan pun nampak tidak beda jauh,” terang Sarman Simanjorang.



Sumber: BeritaSatu.com