2020 Tahun Terburuk Ekonomi Global Sejak Resesi Besar

2020 Tahun Terburuk Ekonomi Global Sejak Resesi Besar
Petugas medis mengenakan pakaian pelindung saat membawa pasien infeksi virus korona jenis baru (Covid-19) dari Rumah Sakit Daenam, ke rumah sakit lain di Kota Daegu, Korea Selatan, Jumat, 21 Februari 2020. ( Foto: AFP )
Heru Andriyanto / HA Jumat, 28 Februari 2020 | 02:47 WIB

Beritasatu.com - Perekonomian global diprediksi akan tumbuh paling lambat tahun ini sejak era Resesi Besar 2009 akibat dari virus korona dan faktor-faktor lain, menurut para ekonom Bank of America.

Pertumbuhan produk domestik bruto global diproyeksikan hanya 2,8 persen tahun ini, dan untuk pertama kalinya berada di bawah angka 3 persen sejak Resesi Besar dan krisis finansial 2009.

Penghambat terbesar pertumbuhan ekonomi global adalah wabah virus korona, yang menghantam aktivitas perekonomian Tiongkok begitu penyakit ini menyebar. Selain itu, perang dagang AS-Tiongkok, ketidakpastian politik, dan pelemahan ekonomi di Jepang dan sejumlah negara Amerika Selatan juga makin membebani ekonomi dunia.

“Disrupsi berkepanjangan di Tiongkok akan mengganggu mata rantai pasokan global. Menurunnya jumlah wisatawan akan menjadi hambatan lain bagi Asia,” kata ekonom BofA Aditya Bhave.

“Wabah [virus korona] terbatas, seperti yang terjadi di Italia, sangat mungkin terjadi di banyak negara lain sehingga akan lebih banyak dilakukan karantina dan membebani kepercayaan [pasar].”

Menurut riset BofA, pertumbuhan ekonomi Tiongkok akan melambat ke 5,2 persen pada 2020 dari 5,9 persen tahun lalu. Pertumbuhan PDB global tanpa Tiongkok hanya akan tercatat 2,2 persen, juga yang terendah sejak resesi.

Meskipun demikian, para ekonom BofA tidak memprediksi berulangnya resesi atau pandemik korona secara global. Mereka justru melihat perkembangan ini sebagai tren penurunan yang diakibatkan oleh berbagai faktor yang akan diperburuk oleh pemilihan presiden di Amerika dan kemungkinan berlanjutnya efek sengketa dagang AS dan Tiongkok.

“Pemilihan presiden mendatang akan menambah rumit permasalahan, karena kebijakan dagang AS bisa berubah drastis di bawah presiden dari Partai Demokrat,” tulis Bhave. Presiden Amerika sekarang, Donald Trump, berasal dari Partai Republik.

“Investasi bisnis kemungkinan masih akan lesu sampai aturan mainnya makin jelas.”

Bhave mengatakan masalah ketidakpastian ini cenderung punya dampak yang besar dan tahan lama.

Kebijakan perbankan yang lebih ketat dan dampak susulan dari perlambatan pertumbuhan ekonomi global 2019 juga masih membebani pertumbuhan ekonomi yang sekarang.

“Lemahnya perekonomian global menghalangi terciptanya bemper yang kuat jika terjadi hantaman keras. Sialnya, hantaman keras itu telah datang dalam bentuk wabah Covid-19,” jelasnya.



Sumber: CNBC