Asosiasi Pengusaha Tunggu Penurunan Harga Gas

Asosiasi Pengusaha Tunggu Penurunan Harga Gas
Ilustrasi gas industri (Foto: antarannews)
Leonard AL Cahyoputra / FMB Kamis, 20 Februari 2020 | 10:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sektor industri menunggu realisasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 40/2016 terkait Penetapan Harga Gas Bumi yang menjanjikan harga gas US$ 6/Million British Thermal Unit (MMBTU). Penurunan harga gas akan mendukung pertumbuhan ekonomi 6 persen dan terwujudnya industrialisasi di Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemicals Indonesia (Apolin) Rapolo Hutabarat, menjelaskan bahwa oleokimia termasuk tujuh sektor industri di dalam Perpres Nomor 40/2016 yang mendapatkan ketetapan harga gas industri sebesar US$ 6/MMBTU.

Ketujuh sektor industri tersebut antara lain oleokimia, pupuk, petrokimia, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet.
Setiap tahun, berdasarkan data Apolin kebutuhan gas industri oleokimia mencapai 11,7 juta-13,9 juta per MMBTU dari 11 perusahaan anggota Apolin. Saat ini, industri oleokimia harus membayar harga gas industri rerata US$10-US$12 per MMBTU. Dalam struktur biaya produksi, biaya gas berkontribusi sekitar 10 persen-12 persen untuk produksi fatty acid dan sebesar 30 persen-38 persen dalam menghasilkan fatty alcohol beserta produk turunan di bawahnya.

Dia menerangkan jika Perpres 40/2016 terealisasi, maka akan terjadi penghematan antara US$ 47,6 juta-US$ 81,8 juta atau Rp 0,68 triliun-Rp 1,1 triliun per tahun. Selain iti akan ada investasi baru, perluasan menambah kapasitas produksi, peningkatan kesempatan bekerja, dan daya saing global produk-produk oleochemical lndonesia ke negara tujuan ekspor akan lebih tinggi sehingga perolehan devisa lebih besar.

"Hingga kini, perpres belum berjalan. Selama empat tahun lamanya, pelaku oleokimia menantikan regulasi bisa terlaksana dan dapat diimplementasikan," ujar Rapolo di Jakarta, Rabu (19/2/2020).

Sementara itu, Sekjen Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono menuturkan penurunan harga gas akan memberikan empat dampak positif yaitu biaya produksi turun, harga jual turun, memperkuat daya saing ekspor, dan daya beli masyarakat meningkat.

Saat ini, dikatakan Fajar, industri petrokimia mesti membeli gas sebesar US$ 9,17 per MMBTU. Pada tahun ini, kebutuhan gas 24 industri petrokimia mencapai 74 BBTUD (Billion British Thermal Unit per Day).

"Yang harus dipahami pemerintah, turunnya harga gas menggerakkan industrialisasi sehingga pertumbuhan ekonomi nasional berpeluang naik lewati 5 persen ," jelas dia.

Ketua Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) Yustinus Gunawan menjelaskan pelaku industri menunggu kepastian dari pemerintah untuk menurunkan harga gas yang belum terlaksana hingga sekarang. Sebab, investor meminta regulasi bisa dijalankan secepatnya. Penundaan Implementasi Perpres menurunkan daya saing dan kepercayaan investor
"Saya dapat informasi Presiden Jokowi akan merealisasikan penurunan harga gas industri. Harapan kami ini segera berjalan," ucap dia.

Kepala Sub Direktorat Industri Hasil Perkebunan Non Pangan Kementerian Perindustrian Lila Harsyah Bakhtiar menjelaskan bahwa Kementerian telah meminta pelaku industri untuk memasukkan usulan data harga gas dalam rangka menjalankan arahan Presiden supaya harga gas turun mulai 1 April 2020.Dalam hal ini, Kementerian meminta adanya keterbukaan data/informasi (open book), kebenaran data (truth), kecepatan respon, dana saling percaya (trust) bahwa data tetap terjaga.

"Dengan harga gas saat ini memperlihatkan perlambatan pertumbuhan industri pengolahan non migas pengguna gas dan di bawah laju pertumbuhan industri pengolahan non migas secara keseluruhan," jelas dia.



Sumber: BeritaSatu.com