PHK 677 Karyawan, Ini Kondisi Indosat

PHK 677 Karyawan, Ini Kondisi Indosat
Petugas memantau jaringan di Kantor Pusat Indosat Ooredoo. (Foto: BeritaSatu Photo / mohammad defrizal)
Faisal Maliki Baskoro / FMB Senin, 17 Februari 2020 | 20:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Indosat Tbk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 677 karyawannya sejak 14 Februari 2020 lalu. Sebelum melakukan PHK, Indosat tengah melakukan restrukturisasi di mana perusahaan berhasil menyusutkan kerugian dan melepas 3.100 menara telekomunikasi.

Indosat mengatakan PHK dilakukan sebagai "akibat dari kebijakan perseroan melakukan perubahan organisasi yang dirancang untuk menjadikan bisnis lebih lincah sehingga lebih fokus kepada pelanggan serta lebih dekat dengan kebutuhan pasar."

Saham ISAT hari ini ditutup terkoreksi 2,38 persen ke Rp 2.050 di perdagangan hari ini, Senin (17/2/2020).

Ini Alasan Indosat Ooredoo Harus Kurangi 677 Karyawan

Menurut laporan keuangan terakhir, per kuartal-III tahun lalu, Indosat mencatat kerugian Rp 256,19 miliar, menyusut dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,25 triliun. Pendapatan perusahaan mencapai Rp 18,9 triliun, atau bertumbuh sebesar 12,4 persen.

Layanan selular mencatat kenaikan 14,5 persen menjadi Rp 15,1 triliun, layanan Midi (multimedia, komunikasi data, internet) tumbuh sebesar 7,4 persen ke Rp 3,25 triliun.

Rata-rata pendapatan bulanan per pelanggan (ARPU) untuk pelanggan selular pada sembilan bulan 2019 adalah sebesar Rp 27.800, naik sebesar Rp 11.000 dibanding sembilan bulan 2018. Rata-rata menit pemakaian (MOU) per pelanggan turun menjadi 33,7 menit atau turun 3,5 persen dibandingkan sembilan bulan 2018, seiring dengan tren industri atas penurunan layanan suara.

Pada Desember 2019, Indosat juga telah merampungkan transaksi penjualan 3.100 menara telekomunikasi dengan PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) dan PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo). Mitratel telah memenangkan 2.100 menara dan Protelindo memenangkan 1.000 menara, dengan total transaksi senilai Rp 6,39 trilliun. Transaksi penjualan 1.000 menara ke Protelindo telah selesai dilakukan pada akhir November 2019 lalu. Sedangkan transaksi dengan Mitratel baru saja dilakukan pada Jumat, 20 Desember 2019.

JK: Daripada Buyback Indosat, Lebih Baik Bangun yang Baru

Pada Maret 2019, mantan calon wakil presiden (cawapres) Sandiaga Uno mengatakan akan membeli kembali (buyback) PT Indosat jika dirinya terpilih. Pasalnya, Indosat dibangun oleh Indonesia tetapi dijual ke Singapura pada masa Menteri BUMN Laksamana Sukardi. Kini, Singapura telah menjual lagi ke perusahan dari Qatar.

Wacana ini ditolak mentah-mentah oleh Jusuf Kalla, wakil presiden saat itu. Menurut JK, keuntungan perusahaan yang bergerak dalam telekomunikasi tidak besar sehingga tidak menarik bagi pemerintah.



Sumber: BeritaSatu.com