Pertumbuhan Ekonomi Indonesia QI-2020 Dipredisi di Bawah 5%

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia QI-2020 Dipredisi di Bawah 5%
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati. ( Foto: BeritaSatu Photo / Mohammad Defrizal )
Lenny Tristia Tambun / FMB Senin, 17 Februari 2020 | 15:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Akibat wabah penyakit virus korona di Tiongkok, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksikan berada di bawah 5 persen.

Demikian disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (17/2/2020).

Sri Mulyani mengakui laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama akan melambat di bawah 5 persen, akibat wabah virus korona di Tiongkok. Kondisi tersebut sudah dilaporkan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan akan dibahas dalam rapat kabinet.

“Ya, kita tadi ada laporan beberapa hal. Nanti kan sebentar lagi sidang kaninet. Nanti akan disampaikan,” kata Sri Mulyani.

Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan meski laju pertumbuhan ekonomi di Singapura akan mengalami downgrade akibat adanya virus korona, belum terlalu berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Kalau Indonesia kan, kemarin sudah saya sampaikan, bahwa efeknya akan tergantung dari Tiongkok. Kalau dia turun 2 persen, kita dari efek ekonomi Tiongkok, akan turun 0,3 persen,” kata Airlangga Hartarto.

Karena, lanjut Airlangga Hartarto, beberapa produk hortikultura dan bahan baku obat sangat tergantung pada Tiongkok. Namun untuk melihat dampak secara keseluruhan akibat virus korona di Tiongkok, ia meminta semua pihak menunggu hingga akhir Februari 2020. Disaat Tiongkok sudah memastikan virus korona berhasil diatasi dan waktu libur sudah ditetapkan selesai. Baru setelah itu, pihaknya akan menentukan langkah selanjutnya.

“Ya itu tergantung kepada berapa lama mereka libur kan. Kita yang tergantung mereka kan beberapa produk hortikultura, dan juga bahan baku obat. Sedang sektor manufaktur yang lain, value chainnya relatif tidak sepenuhnya tergantung pada Tiongkok. Bahkan kalo Industri baja kan bisa menigkatkan produksi dalam negeri. Jadi tentu kita melihat ini di akhir bulan Februari ini,” terang Airlangga Hartarto.

Begitu juga dengan neraca perdagangan Januari 2020 yang mengalami defisit sebesar US$ 870 juta, Airlangga Hartarto enggan berkomentar. “Ya ini kan kita lihat ke depan,” ujarnya singkat.



Sumber: BeritaSatu.com