Bisnis Indekos Prospektif di Tengah Mahalnya Harga Properti

Bisnis Indekos Prospektif di Tengah Mahalnya Harga Properti
Rumah kos. ( Foto: Iswt )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Sabtu, 8 Februari 2020 | 00:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Sektor properti tahun 2020 berpotensi lebih baik dibanding tahun 2019. Menangkap peluang itu, perlu kreativitas pelaku industri untuk menyediakan hunian yang paling digemari saat ini seperti co-living termasuk rumah indekos.

Department Head Research & Consultancy PT Savills Consultants Indonesia Anton Sitorus mengatakan, pengembang perlu kreatif dalam mengemas produknya. “Permintaan besar, tetapi untuk bisa tumbuh pengembangnya harus kreatif dalam membuat produk, dan harga terjangkau. Jika itu terpenuhi, saya yakin market meningkat,” kata Anton Sitorus, Jumat (7/2/2020).

Menurutnya, salah satu konsep yang saat ini tengah digemari adalah co-living. Namun jika co-living ditawarkan dengan harga tinggi, pembelinya terbatas. “Market co-living seperti properti lain pasarnya ada, asalkan harga cocok,” kata Anton Sitorus.

Hal senada diungkapkan Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda. Menurutnya, saat ini harga properti sudah sangat tinggi sehingga kesulitan untuk dijual. Kondisi ini menyebabkan masyarakat lebih memilih menyewa dibandingkan membeli, terutama di kota-kota besar. Bahkan dalam survei yang dilakukan IPW, generasi milenial di kota-kota besar, seperti di Jakarta, lebih senang menyewa dibandingkan membeli properti. “Hasil survei kami sekitar 47,4 persen pilih tinggal di indekos, kemudian 47,1 persen berkeinginan untuk tinggal di apartemen, sedangkan sisanya memilih tinggal di kediaman keluarga atau saudara," kata Ali Tranghanda.

Dengan penghasilan rata-rata kaum milenial berkisar Rp 6 juta - Rp 7 juta per bulan, mereka hanya mampu membeli properti dengan cicilan Rp 2 juta - Rp 2,5 juta per bulan atau seharga Rp 200-300 jutaan. Dengan rentang harga tersebut sulit untuk mereka mendapatkan properti di Jakarta. Itu sebabnya, milenial lebih memilih menyewa apartemen atau indekos.

Berdasarkan riset IPW, saat ini ada sebanyak 39,9 persen kaum milenial tinggal di indekos atau apartemen dengan besaran sewa di bawah Rp 2 juta per bulan. Lalu 38,5 persen menyewa dengan harga Rp 2-3 juta per bulan, dan 21,6 persen menyewa dengan harga di atas Rp 3 juta per bulan.

Besarnya pasar indekosan di kota-kota besar diakui PT Hoppor International. Perusahaan yang dikenal dengan nama Kamar Keluarga itu mengatakan bahwa setiap tahun tren penyewa indekosan tumbuh.

Hal itu juga yang membuat Kamar Keluarga terus meluaskan jaringanya di kota-kota besar dan daerah penyangganya. Selama dua tahun berdiri, Kamar Keluarga kini telah memiliki 2.041 kamar yang tersebar di 75 lokasi di Jabodetabek dan Bandung. “Kami akan terus melihat setiap potensi pengembangan bisnis kosan. Hal ini untuk menjawab kebutuhan pasar,” ujar CEO Kamar Keluarga Charles Kwok.

Untuk mendukung ekspansi tersebut, Kamar Keluarga tahun ini akan melakukan Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dana hasil IPO tersebut sebagian besar akan digunakan untuk menambah jaringan dibeberapa daerah.

Selain mendirikan indekos sendiri, Kamar Keluarga juga membuka peluang kepada para pemilik aset berupa tanah atau properti mengganggur untuk dijadikan produktif dan menghasilkan passive income. "Sistemnya bagi hasil, Kamar Keluarga akan menjadikan lahan atau bangunan tidak produktif menjadi kamar kos atau hunian co-living. Nantinya pemilik akan mendapat uang sewa jangka panjang 10 tahun hingga 25 tahun," kata Charles Kwok.

Anton melihat tahun ini adalah waktu yang tepat untuk mencari dana segar di pasar. Terutama bagi perusahaan properti segmen menengah yang fokus di segmen harga terjangkau. “Sebenarnya ini kesempatan bagi pemain baru pengembang untuk masuk bursa dan fokus di segmen harga terjangkau, itu yang prospektif. Jadi menurut saya ini momen tepat,” kata Charles Kwok.



Sumber: BeritaSatu.com