Survei: Mayoritas Pekerja Ingin Layanan Kesehatan Digital

Survei: Mayoritas Pekerja Ingin Layanan Kesehatan Digital
Presiden Direktur dan CEO Marsh Indonesia, Douglas Ure (duduk) saat memaparkan survei ‘Health on Demand’ yang dilakukan oleh Mercer Marsh Benefits, Mercer dan Oliver Wyman di Jakarta Jumat (7/2/2020). (Foto: Beritasatu Photo / Whisnu Bagus)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Sabtu, 8 Februari 2020 | 00:08 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Survei ‘Health on Demand’ yang dilakukan oleh Mercer Marsh Benefits, Mercer dan Oliver Wyman menyatakan, mayoritas atau 64 persen responden pekerja antusias dengan prospek inovasi layanan kesehatan berbasis digital. Sebanyak 63 persen responden pekerja percaya dengan cara baru dalam layanan kesehatan jika disediakan perusahaan tempat mereka bekerja.

“Temuan hasil survei Health on Demand mengonfirmasi keyakinan kami bahwa perusahaan yang ingin membangun budaya hidup sehat di tempat kerja dan sekaligus meningkatkan upaya dalam retensi karyawan harus mempertimbangkan investasi layanan kesehatan digital,” kata Mercer Marsh Benefits International Leader and Mercer President, Health, Hervé Balzano di Jakarta, Jumat (7/2/2020).

Pasalnya jika tidak dilakukan, risikonya bisa tertinggal dalam persaingan pasar tenaga kerja global yang kompetitif saat ini.

Survei terbaru Health on Demand dilakukan terhadap 16.000 responden pekerja dan 1.300 responden perusahaan di 13 negara di dunia. Sebanyak 68 persen dari total responden perusahaan berencana berinvestasi di layanan kesehatan digital dalam lima tahun ke depan.

Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan yakin dengan layanan kesehatan berbasis digital bisa menjadi solusi dengan biaya efektif membantu karyawannya menjadi lebih sehat. Selain itu, memenuhi harapan layanan kesehatan karyawan dengan biaya terjangkau.

Dari 13 negara yang disurvei, tujuh negara termasuk dalam kelompok negara maju dan enam negara lainnya masuk ke dalam kelompok negara berkembang. Hasil temuan survei dari negara berkembang menunjukkan minat yang tinggi terhadap solusi layanan kesehatan digital. Hal ini terungkap ketika responden ditanya seberapa besar keinginan mereka untuk mencoba setiap layanan yang tertera di urutan daftar 15 layanan kesehatan digital yang diberikan kepada mereka. "Hasil survei menunjukkan mereka bersedia mencoba rata-rata 10 dari daftar 15 layanan kesehatan digital, dibandingkan dengan responden di negara-negara maju yang ingin mencoba rata-rata 5 dari daftar yang diberikan tersebut," kata dia.

Presiden Direktur dan CEO Marsh Indonesia, Douglas Ure mengatakan, saat ini semakin banyak pekerja di negara-negara berkembang yang sudah siap dengan layanan kesehatan digital. "Dari hasil survei terungkap 90 persen responden perusahaan di Indonesia percaya bahwa investasi di layanan kesehatan digital akan memberikan dampak positif di tempat kerja dan pekerja bisa lebih bersemangat," kata Douglas Ure.

Sementara layanan yang dinilai paling besar manfaatnya oleh hampir seluruh responden pekerja adalah aplikasi berupa membantu mencarikan dokter yang tepat atau layanan perawatan kesehatan dimana pun dan kapan pun dibutuhkan. "Hasil temuan ini juga ada di urutan teratas yang dikatakan oleh 66 persen dari responden pekerja di Indonesia," kata Douglas Ure.

Di Inggris, layanan yang paling diminati adalah teknologi yang dapat dipakai dalam kondisi kronis untuk membantu penderita secara mandiri. Di Tiongkok, 76 persen dari responden pekerja mengatakan bahwa mereka bertanggung jawab atas perawatan kesehatan anggota keluarga dibandingkan dengan hasil survei rata-rata 53 persen di 13 negara. Layanan kesehatan digital yang paling diminati oleh responden pekerja di Tiongkok adalah robot pendamping yang membantu para lansia tetap sehat di rumah. Layanan ini merupakan peringkat paling terakhir di 12 negara lain yang disurvei.

Dari hasil survei terhadap responden perusahaan, mereka menyadari pentingnya kesejahteraan karyawan. Sebanyak 95 persen mengatakan akan berinvestasi dengan jumlah lebih atau sama guna melakukan tindakan inisiatif dalam layanan kesehatan untuk lima tahun ke depan.

Lebih lanjut, 71 persen responden perusahaan percaya bahwa mereka peduli dengan kesejahteraan karyawannya. Namun, ketika responden pekerja ditanya pertanyaan yang sama, hanya 50 persen yang mengatakan bahwa perusahaan tempat mereka bekerja peduli dengan karyawan.

Hasil survei juga mengungkapkan saran untuk mengurangi kesenjangan pendapat tersebut. Menurut hasil temuan survei, semakin besar tunjangan kesehatan dan kesejahteraan karyawan yang diberikan oleh perusahaan, semakin besar para pekerja merasa didukung dan dihargai, dan semakin kecil kemungkinannya mereka meninggalkan perusahaan.

Hasil survei mengungkapkan, dari responden pekerja yang ditawari 10 tunjangan kesehatan, 75 persen percaya bahwa perusahaan tempat mereka bekerja peduli dengan karyawan, sedangkan para pekerja yang ditawari 5 tunjangan kesehatan atau kurang, hanya 43 persen yang percaya.



Sumber: BeritaSatu.com