Indef: Kinerja 100 Hari Kabinet Baru di Bidang Ekonomi Belum Memuaskan

Indef: Kinerja 100 Hari Kabinet Baru di Bidang Ekonomi Belum Memuaskan
Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menggelar diskusi media, di Jakarta, 6 Februari 2020. ( Foto: Beritasatu.com / Herman )
Herman / FMB Kamis, 6 Februari 2020 | 15:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai kinerja 100 hari kerja Kabinet Indonesia Maju belum mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia, sehingga realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV-2019 jauh dari harapan.

Dari data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2019 kembali melambat menjadi 4,97 persen. Capaian pertumbuhan ekonomi ini merupakan yang terendah sejak triwulan IV 2016, di mana pada waktu itu ekonomi tumbuh sebesar 4,94 persen. Dengan laju pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2019 yang semakin melambat ini, maka secara keseluruhan perekonomian Indonesia pada 2019 hanya tumbuh 5,02 persen, lebih rendah dari target APBN 2019 sebesar 5,3 persen.

Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad menyampaikan, berbagai momentum yang menyertai aktivitas ekonomi triwulan IV 2019 baik itu Natal, libur akhir tahun, maupun Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) tenyata tidak mampu mengakselerasi perekonomian. Sehingga menurutnya harus ada upaya terobosan yang konkret dari tim ekonomi Kabinet Indonesia Maju untuk membuat laju pertumbuhan ekonomi sesuai target dan ekspektasi masyarakat.

“Dalam 100 hari kerja Kabinet Indonesia Maju, kita fokus pada kinerja di triwulan IV-2019, di mana ternyata pertumbuhan ekonominya semakin melambat dan jauh dari harapan. Secara keseluruhan ekonomi kita di 2019 hanya tumbuh 5,02 persen,” kata Tauhid Ahmad, di acara diskusi yang digelar Indef di ITS Office Tower, Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Tauhid menyampaikan, secara siklus triwulan IV sebetulnya merupakan salah satu periode yang sering memberi harapan bagi akselerasi perekonomian. Perayaan hari besar keagamaan yaitu Natal dan libur akhir tahun selalu terjadi di triwulan IV. Ini terlihat dari pertumbuhan ekonomi triwulan IV di dua tahun terakhir, di mana pada triwulan IV 2017 ekonomi tumbuh sebesar 5,19 persen dan triwulan IV 2018 sebesar 5,18 persen. Bahkan, dalam 20 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi triwulan IV hampir selalu di atas 5 persen. Tercatat hanya lima kali triwulan IV tumbuh di bawah 5 persen yaitu tahun 2001, 2002, 2003, 2016, dan 2019.

“Turunnya pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2019 di bawah 5 persen menggambarkan semakin beratnya persoalan ekonomi yang dihadapi Indonesia. Hadirnya Kabinet baru yang hingga akhir 2019 berarti telah bekerja dua bulan lebih ternyata belum mampu membuat berbagai gebrakan yang dapat menyulut optimisme perekonomian, sehingga realisasi pertumbuhan bisa lebih tinggi. Justru optimisme pebisnis kian meredup seiring turunnya Indeks Tendensi Bisnis di Desember 2019 (104,82), setelah sebelumnya di September 2019 sebesar 105,33, dan Juni 2019 sebesar 108,81,” paparnya.

Ditegaskan Tauhid, gejolak global juga bukan menjadi “biang kerok” perlambatan ekonomi Indonesia. Selama ini keterbukaan ekonomi nasional terhadap ekonomi global relatif terbatas (small open economy). Porsi ekspor (barang dan jasa) tidak lebih dari 20 persen dari PDB. Sementara itu, Foreign Direct Investment (FDI) baru setiap tahunnya tidak cukup tinggi, hanya 2,65 persen terhadap PDB pada 2018. Porsi Penanaman Modal Asing (PMA) baru setiap tahunnya pada Pembentukan Modal Tetap Bruto Domestik (PMTDB) tidak Iebih dari 10 persen.

“Data-data tersebut dapat menyimpulkan bahwa kekuatan ekonomi Indonesia justru berada di sisi domestik, sehingga tidak ada alasan untuk tumbuh rendah selama komponen domestik bisa dipacu,” tegasnya.

Menurut Tauhid, Indonesia tidak dapat memacu pertumbuhan tinggi karena lemahnya fundamental ekonomi. Struktur pertumbuhan ditopang oleh konsumsi rumah tangga secara terus-menerus, sehingga ekonomi sangat rapuh. Belum lagi inflasi pangan terus menekan daya beli rumah tangga. Pada triwulan IV-2019, pertumbuhan konsumsi rumah tangga juga mengalami perlambatan, di mana hanya tumbuh 4,97 persen atau lebih rendah dari kuartal IV 2018 yang mencapai 5.08 persen dan 4,99 persen di kuartal IV 2017.



Sumber: BeritaSatu.com