Wapres Sebut Santri Bisa Bangkitkan Ekonomi Kerakyatan

Wapres Sebut Santri Bisa Bangkitkan Ekonomi Kerakyatan
Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, ketiga dari kanan, membuka Rakernas IPPNU dan Gelar Karya Santri Nusantara, Santri Digital Fest, di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 23 Jan. 2020. ( Foto: Istimewa )
Yustinus Paat / HA Jumat, 24 Januari 2020 | 00:48 WIB

Jombang, Beritasatu.com - Wakil Presiden Ma’ruf Amin mendorong santri dan pesantren turut berkontribusi aktif menekan angka kemiskinan di masyarakat dan meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) melalui penguatan kemandirian dan kewirausahaan.

“Saya harapkan dapat menciptakan kemandirian umat melalui santri, masyarakat, dan pesantren itu sendiri agar memajukan kemandirian ekonomi, sosial, dan memacu perkembangan skill teknologi dan skill pemasaran melalui pendekatan kratif, inovatif, dan strategis,” kata Ma'ruf saat membuka Rakernas Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) dan Gelar Karya Santri Nusantara, Santri Digital Fest, di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (23/1/2020).

Dalam konteks inilah, menurut Ma'ruf, tema Rakernas IPPNU “Santri Goes beyond Digital Society” dinilai tepat. Dia menilai kemampuan pelajar dan santri harus ditingkatkan. Revolusi Industri 4.0 telah membawa perubahan besar dalam tatanan masyarakat di segala lini meliputi antara lain ekonomi, budaya, dan sosial.

"Kita perlu ingat pentingnya mendorong terus menerus kreativitas yang strategis dan dinamis dan penekanan agar santri dan pelajar benar-benar memahami tren digital saat ini," tanda dia.

Ma'ruf juga menyampaikan dukungannya agar ekonomi pesantren sebagai bagian penguatan ekonomi kerakyatan dapat terus mengurangi kesenjangan antara pelaku ekonomi lemah dan pelaku ekonomi kuat. Dia menyebutnya sebagai Arus Baru Ekonomi Indonesia yang berbasis kolaborasi antara pelaku ekonomi kuat dan lemah. Bukan konfrontasi, juga bukan sekadar menungu trickle down effect.

"Program one pesantren one product (OPOP) Jatim juga berintikan kolaborasi. Pilarnya adalah sinergi antara koperasi pondok pesantren, forum bisnis, pengusaha alumni pesantren, dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin). Ekosistem pengembangan OPOP menggunakan metode antara lain training, mentoring, fasilitasi pemasaran, dan fasilitasi permodalan. OPOP Training Center telah didirikan di Universitas NU Surabaya atau UNUSA," ungkap dia.

Jaringan program ini tediri kementerian, BUMN, perusahaan swasta, organisasi internasional, dan lembaga pendidikan.

Dia menyebutkan, sejumlah pesantren besar yang tergabung dalam program OPOP ini merata di seluruh Jawa Timur. Mulai Pesantren di Lamongan (Sunan Drajat), Tuban (Langitan), Pasuruan (Sidogiri), Mojokerto (Amanatul Ummah), Ponorogo (Gontor), Malang (Al Hikam), Probolinggo (Nurul Jadid), Sumenep (An Nuqoyyah, Al Amin), sampai Banyuwangi (Blok Agung).

"Pilar OPOP Jawa Timur bukan hanya individu santri menjadi santripreneur, melainkan juga institusi pesantren menjadi pesantrenpreneur, tetapi juga alumni pesantren yang teberannya sangat luas dan jumlahnya terus bertambah, menjadi sosiopreneur. Muaranya adalah menghasilkan produk sesuai standar syariah dan halal, yang diterima pasar, berdaya saing, dan berbasis ekonomi digital," terang dia.

Lebih lanjut, Ma'ruf mengatakan gerakan OPOP yang dimulai Pemprov Jatim sejak 2019 ini, sampai 2023 menargetkan 1 juta santriprenuer dan 1.000 produk unggulan, baik barang atau jasa. Pada 2019 ditargetkan 100.000 santripreneur dan 150 produk unggulan. Pada tahun ini targetnya adalah 200.000 santripreneur dan 200 produk unggulan, sama seperti target tahun depan. Selanjutnya pada 2022 diharpak bisa muncul 250.000 santripreneur dan 200 produk unggulan. 

"Saya mendorong gerakan semacam OPOP ini juga bergerak di provinsi-provinsi lain. Saat ini, selain Jawa Timur, program OPOP juga berkembang dinamis di Jawa Barat sejak 2018," tutur dia.

Wapres menegaskan gerakan ekonomi pesantren sudah lama berlangsung. Bila gerakan ini terus digerakkan, didampingi, difasilitasi, dan dikolaborasikan dengan berbagai pemangku kepentingan, akan menjadi kekuatan ekonomi kerakyatan yang strategis bagi upaya meningkatkan kesejahteraan umum.

“Saya ingin ada Santri Gus Iwan Santri Bagus Pintar dan wirausawahan, sehingga pesantren bukan hanya pusat pencetak ulama yang mutafaqqih fiddin tetapi juga pusat pemberdayaan ekonomi dengan semangat kebangkitan Nahdlatut Tujjar yang didirikan kaum santri,” kata dia.

Dalam kesempatan itu, Wapres juga meninjau Pameran “Gelar Karya Santri Nusantara”, terdiri 60 dari stand dan diikuti 20 santripreneur dari SMK Mini di bawah naungan pondok pesantren, 20 pesantrenpreneur dari perwakilan koperasi pesantren dan 20 sociopreneur alumni pesantren yang punya usaha. Mereka terpilih dari seluruh Jawa Timur yang terbina melalui OPOP.

Turut hadir dalam kegiatan ini, Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah, Menteri Koperasi Teten Masduki, Wakil Menteri Agama Zainut Tauhid Saadi, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indarparawansa.

Gubernur berpesan agar anak muda tak terkecuali kader IPPNU berhati-hati berada di lingkungan anak muda era post truth. Dalam industri ecommerce, Khofifah mengetahui peta kompetisi luar biasa dengan membanjirnya produk luar negeri.

Dirinya mengajak santri dan pesantren menghadapi persaingan ketat dan beradaptasi dengan percepatan teknologi. Gempuran pasar online, kata dia, turut berdampak pada ketidaksiapan sejumlah industri di Jatim dengan penurunan omzet sebagaimana kasus di sentra tas Tanggulangin.

“Saya ingin mengajak mereka bangkit. Kita ingin Wapres memotivasi IPPNU dengan potensi luar biasa, harapannya tumbuh Nahdlatut Tujjar, baik online atau onffline dengan sinergitas dan semangat yang NKRI-nya harga mati,” kata Khofifah.

Ketum IPPNU, Nurul Hidayati Ummah, mengatakan Rakernas yang mengangkat tema “Santri Goes beyod Digital Society” kali ini akan membahas sejumlah isu strategis terutama penguatan pengkaderan di internal organisasi.

Rakernas yang dihadiri 30 pimpinan wilayah dari Sabang sampai Merauke ini, kata dia, juga akan merumuskan kebijakan aplikatif di tingkat pimpinan pusat hingga ranting komisariat.

"Dalam kegiatan ini juga dihelat Gelar Karya Santri, menghadirkan karya-karya santri yang tergabung dalam program One Pesantren One Product di stan-stan bazar yang tersedia si lokasi Rakernas. Hal ini sebagai wujud kepedulian IPPNU terhadap santri yang memiliki karya luar baisa di era digital," kata Nurul.

Menurut dia, di era ini banyak kreasi dan inovasi santri nusantara yang perlu diberikan perhatian lebih agar santri bisa berkiprah di dunia digital. Perkembangan era digital, kata dia, merupakan tantangan sekaligus peluang santri untuk mencetak sumber daya manusia yang unggul sehingga Indonesia bisa menjadi negara maju

"Kita ingin ke depan di era digital santri bisa menguasai pasar nasional dan internasional. Mohon doa dan bimbingan menciptakan generasi bangsa unggul untuk berkontribusi bagi Indonesia yang maju,” pungkas Nurul.



Sumber: BeritaSatu.com