Libia Umumkan Force Majeure, Minyak Meroket

Libia Umumkan Force Majeure, Minyak Meroket
Ilustrasi minyak. ( Foto: Istimewa )
/ WBP Selasa, 21 Januari 2020 | 08:56 WIB

London, Beritasatu.com - Harga minyak naik ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan pada perdagangan terakhir Senin atau Selasa pagi WIB (21/1/2020), setelah dua basis produksi minyak mentah besar di Libia mulai ditutup di tengah blokade militer. Hal ini berisiko mengurangi aliran minyak mentah dari anggota OPEC menjadi lebih sedikit.

Minyak mentah berjangka Brent, naik 35 sen atau 0,5 persen, menjadi US$ 65,20 per barel, setelah sebelumnya menyentuh US$ 66 per barel, tertinggi sejak 9 Januari.

Sementara dikutip dari Reuters, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) terakhir diperdagangkan 12 sen atau 0,2 persen lebih tinggi, pada US$ 58,66 per barel, setelah naik menyentuh US$ 59,73 per barel, tertinggi sejak 10 Januari.

Dua ladang minyak utama di Libia barat daya mulai ditutup pada Minggu (19/1/2020) setelah pasukan yang setia kepada Khalifa Haftar menutup satu saluran pipa, yang berpotensi memangkas produksi nasional menjadi lebih kecil dari level normalnya.

"National Oil Corporation (NOC) mengatakan force majeure pada pemuatan minyak mentah dari ladang minyak Sharara dan El Feel," menurut sebuah dokumen yang dilihat oleh Reuters.

Penutupan, setelah blokade pelabuhan minyak besar timur, berisiko menghambat hampir semua produksi minyak negara itu.

Kondisi ini membuat produksi akan melambat menjadi 72.000 barel per hari (bph), dari rata-rata sekitar 1,2 juta barel per hari.

Namun, kenaikan harga minyak sebelumnya mereda setelah beberapa analis dan pedagang mengatakan gangguan pasokan di Libia hanya sementara dan bisa diimbangi produsen lain.

Sementara itu di Irak, dua perwira polisi dan dua pengunjuk rasa tewas ketika kerusuhan anti-pemerintah berlanjut setelah jeda beberapa minggu. Namun, produksi di ladang minyak selatan tidak terpengaruh oleh kerusuhan itu, kata para pejabat.



Sumber: Reuters, Antara