Pelonggaran RIM Picu Tambahan Likuiditas Rp 128 Triliun

Pelonggaran RIM Picu Tambahan Likuiditas Rp 128 Triliun
Ilustrasi Rupiah ( Foto: Antara/Akbar Nugroho Gumay )
Nida Sahara / WBP Jumat, 20 September 2019 | 15:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Bank Indonesia (BI) mencatat akan ada tambahan pendanaan atau likuiditas sebesar Rp 128 triliun menyusul penyempurnaan rasio intermediasi makroprudensial (RIM). Jumlah tersebut diharapkan dapat mendorong pasokan likuiditas perbankan untuk menyalurkan kredit.

Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Juda Agung mengatakan, dampak reformulasi RIM tersebut dapat membuka ruang intermediasi bagi industri perbankan. "Terdapat ruang tambahan pendanaan sebesar Rp 128 triliun dengan menambahkan komponen pinjaman yang diterima dengan tenor lebih dari satu tahun ke dalam penyebut RIM," jelas Juda Agung di Jakarta, Jumat (20/9/2019).

Adapun saat ini yang termasuk dalam komponen RIM yakni dana pihak ketiga (DPK), surat-surat berharga (SSB) korporasi yang diterbitkan. Kemudian bank sentral menambahkan komponen RIM yakni pinjaman yang diterima perbankan, yakni seperti pinjaman bilateral dan juga sindikasi dengan sisa jangka waktu lebih dari 1 tahun.

"Untuk pinjaman yang diterima perbankan itu bisa bersumber dari dalam negeri dan luar negeri. Untuk yang dalam negeri, pinjaman antar bank itu tidak dihitung, itu dikecualikan. Kalau yang luar negeri bisa bersumber dari bank dan non bank," papar Juda Agung.

Adapun, rasio ideal untuk RIM perbankan saat ini adalah antara batas bawah 84 persen sampai dengan batas atas 94 persen. Pelonggaran RIM tersebut dilakukan karena bank sentral melihat mulai banyak bank yang hampir menyentuh batas atas RIM atau mendekati 94 persen.

"Karena dilihat ada bank yang mendekati batas atas RIM, makanya kami longgarkan untuk mendukung bank agar bisa tetap ekspansi kredit," kata Juda.

Meski demikian, pihaknya juga mencatat terdapat sejumlah bank yang dinilai malas menyalurkan kredit, padahal memiliki pendanaan yang memadai. Tercermin dari RIM yang berada di bawah 84 persen. Hal tersebut membuat bank sentral juga menerapkan disinsentif atau pinalti bagi bank yang memiliki rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) antara 14 persen-19 persen dan juga yang memiliki CAR di atas 19 persen namun mencatatkan RIM di bawah 84 persen.



Sumber: Investor Daily