Komisi X Jaring Masukan RUU Ekraf di Jatim

Komisi X Jaring Masukan RUU Ekraf di Jatim
Hetifah Sjaifuddin. ( Foto: Istimewa )
Anselmus Bata / RIX Rabu, 21 Agustus 2019 | 08:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim Kunjungan Kerja Spesifik Panitia Kerja (Panja) Rancangan Undang-Undang Ekonomi Kreatif (RUU Ekraf) menjaring masukan untuk memperkaya pembahasan RUU tersebut dari pemerintah daerah, pelaku ekonomi kreatif, hingga akademisi di Provinsi Jawa Timur.

Wakil Ketua Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian yang memimpin tim ini menilai Jatim merupakan salah satu provinsi yang antusias terhadap pengembangan industri kreatif di Indonesia.

“Kunjungan Panja RUU Ekraf ke Jawa Timur kali ini untuk mendapatkan masukan terkait uji publik RUU Ekraf. Kami berharap agar RUU ini bisa disahkan sebelum periode DPR 2014-2019 berakhir. Kami optimistis, karena banyak masukan berharga dan kontributif terhadap penyempurnaan RUU ini,” kata Hetifah saat memimpin tim Komisi X DPR bertemu jajaran Pemerintah Provinsi Jatim dan pihak terkait lainnya di Surabaya, Jatim, Selasa (20/8/2019).

Politisi Partai Golkar itu menilai Jatim merupakan salah satu provinsi pionir dalam pengembangan hal-hal yang kreatif dan inovatif, sehingga dalam pertemuan tersebut, beberapa stakeholder penting memberikan pengalaman dan catatan-catatan kritisnya terhadap RUU Ekraf. 

“Ada beberapa catatan pada pertemuan kali ini, di antaranya kelembagaan. Jika kelembagaannya tersebar luas dan tidak ada kejelasan kewenangan ataupun pengaturan yang tegas dan jelas, mungkin hal ini akan sangat sulit dalam pelaksanaannya. Kemudian kita ingin ada bentuk-bentuk pembinaan yang selama ini berjalan, termasuk pihak perbankan yang sudah memfasilitasi dan memberikan support,” ujar Hetifah.

Selain itu, lanjutnya, perlu dipertegas dukungan pemerintah dalam bentuk pembiayaan bagi pelaku ekraf. Selama ini pembiayaan kerap menjadi hambatan, maka diperlukan skema-skema khusus, bukan saja dari perbankan atau lembaga publik, tetapi bisa diciptakan badan layanan publik.

“Hal-hal terkait dengan pemasaran dan pendidikan, bagaimana kita mulai menciptakan embrio-embrio mulai dari pelajar sampai mahasiswa. Namun, setelah diberikan motivasi dan pelatihan, setidaknya tidak akan dilepas begitu saja. Mungkin itu harapan-harapan yang muncul pada diskusi kali ini,” jelas legislator dapil Kalimantan Timur itu.

Hetifah memastikan, RUU Ekraf tidak untuk membatasi ruang gerak pelaku ekraf, tetapi memberikan fasilitas, sehingga pelaku dan pengelola ekraf lebih cepat berkembang.

"Peran pemerintah yang disarankan adalah mempermudah proses pendaftaran, serta menyediakan program khusus, karena memang usaha kreatif itu berbasis pengetahuan, karya cipta, serta inovasi. Maka dari itu, akan sangat rentan barangkali hasil karyanya bisa dicuri ataupun disalahgunakan. Mereka perlu satu perlindungan dalam bentuk hak kekayaan intelektual yang perlu difasilitasi lebih dalam lagi, sehingga sekaligus bisa mengembangkan potensi ekonomi kreatif di Indonesia,” tutur Hetifah.

Di sisi lain, dia berharap hasil pertemuan tersebut benar-benar bisa diadopsi dalam bentuk penyempurnaan dengan kebijakan yang ada dalam RUU Ekraf.

“Masukan berupa kelembagaan, kolaborasi dan koordinasi, serta catatan-catatan lain yang cukup detail, sekaligus dapat memperkuat sebagai undang-undang yang bisa diterapkan dengan bijak,” tutupnya. 



Sumber: BeritaSatu.com