Ekspor Tak Lagi Dijadikan Motor Utama Pertumbuhan Ekonomi

Ekspor Tak Lagi Dijadikan Motor Utama Pertumbuhan Ekonomi
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kiri) serta (dari kanan) Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Menteri BUMN Rini Soemarno memberikan keterangan kepada wartawan seusai pelepasan ekspor komoditas Indonesia menggunakan kapal kontainer berukuran raksasa dari Jakarta International Container Terminal (JICT) menuju Los Angeles, Amerika Serikat di Terminal JICT, Jakarta, beberapa waktu lalu. ( Foto: istimewa )
Herman / FMB Jumat, 16 Agustus 2019 | 20:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perbaikan kinerja ekspor dan laju investasi sering kali disebut sebaga kunci utama dalam upaya menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun dalam asumsi makro yang tertuang di RAPBN 2020, Pemerintah Indonesia justru menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,3 persen di 2020 dengan konsumsi dan investasi sebagai motor penggerak utama, tidak lagi menyebut soal ekspor.

Melihat perubahan orientasi dari outward ke inward ini, Peneliti INDEF Abdul Manap Pulungan menyampaikan, pemerintah sepertinya melihat kondisi ekonomi global masih sangat berat, terutama karena perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang belum berakhir. Dampaknya pun cukup terasa bagi Indonesia, terutama pada neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan.

Akan tetapi, menurut Abdul Manap bergeraknya fokus pemerintah dari outward menjadi inward cukup mengkhawatirkan, sebab ekspor menjadi sumber utama penerimaan negara lewat ekspor komoditas (CPO dan batu bara). Porsi keduanya rata-rata sekitar 25 persen dari nilai ekspor nonmigas. Ekspor juga menjadi sumber utama devisa untuk pembiayaan transaksi luar negeri (pembayaran utang swasta, pemerintah dan impor). Di sisi lain, defisit neraca perdagangan dan neraca transaksi berjalan bisa semakin membengkak karena tidak adanya terobosan dalam menggenjot ekspor.

"Outward ke inward ini menunjukkan ketidaksiapan pemerintah mengantisipasi gejolak global. Banyak PR yang tidak tuntas, seperti dominasi struktur ekspor komoditas dan struktur pasar ekspor ke negara-negara tradisional,” kata Abdul Manap Pulungan dalam acara diskusi yang digelar INDEF, Jumat (16/8/2019).

Abdul Manap menambahkan, investasi juga sudah seharusnya didorong ke industri-industri yang berorientasi ekspor, sehingga memiliki nilai tambah yang besar bagi ekonomi. Tetapi memang hal ini dinilainya sulit terealisasi, sebab penanaman modal asing (PMA) cenderung bergerak ke sektor-sektor tersier sejalan dengan boomingnya investasi pada jasa, terutama yang berhubungan dengan teknologi dan keuangan. Industri Indonesia juga masih sangat bergantung pada impor bahan baku, sehingga relatif lebih mahal dibandingkan barang yang sama di luar negeri.

Hal senada juga diungkapkan peneliti INDEF lainnya, M. Rizal Taufikurahman. Menurut Rizal, upaya pemerintah mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen di 2020 akan menghadapi tantangan besar, apabila konsumsi dan investasi dijadikan sebagai motor penggerak utama. Sebab kedua indikator tersebut hingga saat ini belum memberikan sinyal yang lebih baik sesuai yang diharapkan.

Pemerintah menurutnya juga belum mempertegas faktor pendorong pertumbuhan investasi, khususnya terkait industri yang berorientasi ekspor. Padahal apabila kinerja ekspor ditingkatkan atau diprioritaskan, Rizal menyebut hal itu akan berdampak pada investasi asing langsung (foreign direct investment/ FDI) dan defisit neraca berjalan (current account deficit/ CAD) yang positif. Dengan begitu, kesenjangan antara kinerja ekspor dengan impor akan menjadi lebih teratasi.

"Asumsi makro yang ditargetkan pada APBN 2020 hanya dari kedua indikator makro (investasi dan konsumsi) sudah dapat diprediksi akan sangat berat tercapai. Alih-alih akan membaik kinerjanya, justru dikhawatirkan akan semakin berat dan membuat ekonomi kita stagnan,” kata Rizal.



Sumber: BeritaSatu.com