Asumsi Pertumbuhan Ekonomi 5,3 Persen Dinilai Sulit Dicapai

Asumsi Pertumbuhan Ekonomi 5,3 Persen Dinilai Sulit Dicapai
Ilustrasi konsumsi rumah tangga. ( Foto: Antara )
Herman / FMB Jumat, 16 Agustus 2019 | 16:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dalam asumsi makro yang tertuang di RAPBN 2020, Pemerintah Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi berada di tingkat 5,3 persen pada 2020 dengan konsumsi dan investasi sebagai motor penggerak utamanya. Inflasi juga akan tetap dijaga rendah pada tingkat 3,1 persen untuk mendukung daya beli masyarakat.

Peneliti INDEF, M. Rizal Taufikurahman mengungkapkan, asumsi pertumbuhan ekonomi pada tingkat 5,3 persen ini menunjukkan bahwa perekonomian nasional berada dalam kondisi stagnan atau tidak jauh lebih baik dari 2019. Tentunya dalam mencapai target ini juga akan menghadapi sejumlah tantangan besar. Apalagi yang diandalkan sebagai motor penggerak utamanya adalah konsumsi dan investasi. Sementara kedua indikator tersebut hingga saat ini belum memberikan sinyal yang lebih baik sesuai yang diharapkan.

"Target investasi masih belum memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan II. Termasuk juga daya beli yang perlu digenjot lagi agar konsumsi masyarakat semakin meningkat," kata M. Rizal Taufikurahman, di Jakarta, Jumat (16/8/2019).

Pertumbuhan Ekonomi RI 2015-2019.

Peneliti INDEF lainnya, Abdul Manap Pulungan juga mengatakan sangat sulit untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen jika melihat capaian dalam beberapa tahun belakangan ini.

"Saya melihat pertumbuhan 5,3 persen untuk 2020 sangat sulit. Selama 2015 sampai 2019, di semester satu ekonomi tumbuh tertinggi hanya 5,27 persen. Apalagi saat ini kondisi global juga semakin berat," kata Abdul Manap.

Di sisi lain, sebagai negara berkembang, ekonomi Indonesia seharusnya bisa tumbuh lebih tinggi lagi agar tidak terjebak pada middle income trap. "Jika tidak mampu, maka perbaikilah struktur pertumbuhan. Namun, kondisi itu cukup sulit, seiring dengan menurunnya peranan sektor-sektor padat karya seperti pertanian, tambang, dan industri pengolahan. Kita perlu sektor tradable karena berperan penting terhadap penyerapan tenaga kerja," imbuhnya.

Dari sisi permintaan, Abdul Manap juga melihat ekonomi belum masuk ke aktivitas produktif karena rendahnya pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB). Bahkan pada triwulan I dan II-2019, pertumbuhannya di bawah pertumbuhan ekonomi.

Terkait inflasi yang akan tetap dijaga rendah pada tingkat 3,1 persen, Abdul Manaf mengatakan memang sudah demikian kondisinya, di mana saat ekonomi tumbuh terbatas, tentu inflasi juga rendah. Akan tetapi, inflasi bahan makanan masih membubung. Artinya, persoalan inflasi belum juga beres.

"Inflasi bergejolak yang sebesar 4,9 persen juga sangat rentan bagi rumah tangga miskin, karena lebih dari separuh pendapatan dialokasikan untuk bahan makanan. Meski saat ini pemerintah tetap memberikan bantuan, namun pola yang menggunakan nontunai terkadang tidak tepat penggunaan. Misalnya dananya lebih digunakan untuk beli kebutuhan nonpangan, " ujar Abdul Manap.



Sumber: BeritaSatu.com