Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Perang Dagang dalam Perspektif Rhenald Kasali

Kamis, 15 Agustus 2019 | 17:54 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / HA

Jakarta, Beritasatu.com - Guru besar Universitas Indonesia Rhenald Kasali mengatakan heboh perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang terjadi sekarang sebetulnya merupakan fenomena lumrah di tengah persaingan global yang makin terbuka dan ketat.

Berbicara di acara Virtus Showcase 2019 di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (15/8/2019), Rhenald mengingatkan di setiap aspek bisnis yang berskala global, indikasi perang dagang itu selalu ditemukan, betapa pun kecilnya.

Dia mencontohkan ketiika menjabat Komisaris Utama Angkasa Pura II, menjelang dioperasikannya Terminal 3, kebocoran air yang ada di sana menjadi berita besar.

"Kejadiannya cuma tiga menit, tetapi beritanya berbulan-bulan. Ada kejadian kecil saja sudah diberitakan," ujarnya.

Saat dilakukan penyelidikan internal, ditemukan ada 18 kabel CCTV yang dipotong sebelum kejadian.

"Kita bisa baca pattern (pola)-nya, ternyata (beritanya) selalu dibandingkan dengan airport tetangga. Ternyata itu dimainkan negara tetangga karena mereka tidak happy dengan Terminal 3," kata Rhenald.

Peran Trump
Perang dagang diibaratkan sebagai kumpulan angsa yang sedang terbang. Angsa yang di belakang memulai perang agar dia bisa bergantian di depan.

"Pada 1990an, Jepang berada di puncaknya, dengan bonus demografi dan kemajuan yang diraih. Begitu itu terjadi, Hollywood bikin film-film yang menunjukkan Jepang adalah penjahat," ulas Rhenald.

Terkait perang dagang AS-Tiongkok, Rhenald lebih melihatnya sebagai ulah Presiden Donald Trump.

"Jangan lupa bahwa dia juga seorang pengusaha," kata Rhenald.

Dalam presentasinya tersebut diputar video dokumenter di mana pada 1990an, Trump muda saat itu juga menyerukan perang dagang melawan Jepang. Pada 2000, Trump mulai berkampanye membidik jabatan presiden.

Lalu pada 2011, lanjut Rhenald, Trump menulis di akun media sosial "China is neither an ally or a friend, they want to beat us and own our country." (Tiongkok bukan sekutu atau teman kita. Mereka ingin mengalahkan kita dan menguasai negara kita.)

Pada 2016, pada puncak kampanye pemilihan presiden, Trump menulis "China robbed us".

Ketika menjabat presiden pada 2017, Trump menyambut kedatangan Presiden Tiongkok Xi Jinping dan bicara yang manis-manis tentang kerja sama ekonomi dua negara.

"Setelah itu dia menerapkan tarif 25% atas produk baja China," kata Rhenald.

Mobilisasi dan Okestrasi
Apa pun bentuk interaksi perekonomian global saat ini, Rhenald mengatakan pemenangnya adalah entitas bisnis yang mampu menjalankan konsep mobilisasi dan orkestrasi, mengutip bukunya yang dirilis pekan lalu berjudul #MO.

Untuk menyudutkan pesaing, bisa dilakukan dengan mobilisasi publik misalnya membuat tagar #UninstallSariRoti atau #UninstallBukaLapak, ujarnya.

Gerakan mobilisasi dan orkestrasi ini juga terjadi dalam perang dagang skala terbatas antara Indonesia dengan Uni Eropa terkait minyak sawit.

"Lebih dari 60% produk konsumsi di Amerika menggunakan minyak sawit, di Eropa juga begitu. Dibawa ke WTO (Organisasi Perdagangan Dunia) kita menang karena kita tidak melakukan dumping. Lalu dibawa ke FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian PBB), lalu diisukan masalah kesehatan, dengan campaign "palm oil-free product"," kata Rhenald.

Upaya memobilisasi perlawanan terhadap produk minyak sawit Indonesia dilanjutkan dengan isu lingkungan, lewat film dokumenter menghebohkan tentang orangutan yang menjadi korban deforestasi, kata Rhenald.

Pendek kata, di era transformasi digital sekarang ini, MO membawa perubahan sangat besar pada bagaimana orang berbisnis dan bagaimana negara saling berinteraksi.

Perusahaan yang memiliki aplikasi dengan pengikut ratusan juta atau super app akan lebih unggul dari perusahaan yang berbisnis secara konvensional, lanjut Rhenald.

"GoJek itu tidak punya mobil, tapi valuasinya lebih tinggi dari Garuda," kata Rhenald.

Kemampuan memobilisasi pelanggan oleh pemilik super app benar-benar menentukan keunggulan mereka atas pelaku bisnis konvensional.

Rhenald mencontohkan bagaimana aplikasi belanja online Tiongkok Alibaba meraup miliaran dolar dalam beberapa menit saja. Perusahaan milik Jack Ma itu membuat kampanye belanja bagi kaum lajang dengan tanda pagar #1111 pada 11 November lalu.

"Dalam 1 menit 25 detik, nilai belanja sudah menembus US$ 1 miliar," kata Rhenald.

Selain itu, para pemilik perusahaan harus menyadari konsep baru "the main is no longer the main", sumber pendapatan utama sangat mungkin tidak lagi menjadi lumbung.

Contohnya, tidak ada lagi koran yang hidup dari oplah, kata Rhenald. Perusahaan telekomunikasi juga tidak bisa mengandalkan pendapatan dari pulsa telepon, karena orang bisa berkomunikasi suara melalui WhatsApp dengan berbasis data internet.

Maka sekarang ini ada dua kelompok yang berhadapan. Pertama adalah tipe manusia old power yang dulu sukses mengandalkan kekuasaan dan cara-cara lama, namun sekarang mulai digerus oleh penguasaan teknologi dan data.

Kedua, generasi #MO yaitu anak-anak muda yang berbasis teknologi dan penguasaan data yang mampu memobilisasi dan mengorkestrasi massa. Kelompok ini bersandar pada enam pilar: artificial intelligence, big data, super apps, broadband network, internet of things, dan cloud computing, pungkasnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA LAINNYA

Ananta Wahana: Manfaat Asuransi Luar Biasa

Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Ananta Wahana menegaskan manfaat asuransi luar biasa.

EKONOMI | 19 September 2021

Kawasan Industri Berikan Kontribusi Signifikan untuk Ekonomi Daerah

Kemperin terus mendorong peran kawasan industri (KI) untuk dapat memberikan kontribusi signfikan bagi ekonomi daerah dan nasional.

EKONOMI | 19 September 2021

Menteri Teten Dorong UMKM Jadi Bagian Rantai Pasok Global

Kemkop UKM tengah membuat master plan agar wsaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Indonesia menjadi bagian dari rantai pasok industri pembuat komponen.

EKONOMI | 19 September 2021

Pemerintah Akan Kaji Ulang Tingkat IJP KUR Askrindo dan Jamkrindo

Tingkat imbal jasa penjaminan (IJP) kredit usaha rakyat (KUR) pada PT Askrindo dan PT Jamkrindo sebesar 1,175% dinilai belum sesuai dengan risikonya.

EKONOMI | 19 September 2021

Bank KB Bukopin Partial Delisting, Bosowa Terdepak

PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) melakukan partial delisting efektif dilakukan pada Senin (20/9/2021).

EKONOMI | 19 September 2021

KoinWorks Kembali Dipercaya Lendable Inc Salurkan Pembiayaan Rp 435 Miliar

KoinWorks kembali dipercaya Landable Inc untuk menyalurkan pembiayaan modal usaha senilai US$ 30 juta atau sekitar Rp 435 miliar.

EKONOMI | 19 September 2021

Tiga Tahapan BRI Pasca-Rights Issue

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melakukan aksi korporasi rights issue guna mengembangkan ekosistem ultramikro.

EKONOMI | 19 September 2021

La Nyalla: Impor Bukan Solusi Kenaikan Harga Jagung

Ketua DPD RI AA La Nyalla Mahmud Mattalitti mengatakan bahwa impor tidak bisa dijadikan solusi atas masalah tingginya harga jagung.

EKONOMI | 19 September 2021

Kisah Evergrande, Raksasa Properti Tiongkok yang Terancam Bangkrut

China Evergrande Group, perusahaan properti terbesar kedua di Tiongkok berdasarkan penjualan, terancam bangkrut karena terlilit utang hingga US$ 300 miliar.

EKONOMI | 19 September 2021

Desmigratif Hadirkan Pelindungan Komprehensif untuk Pekerja Migran dan Keluarganya

Kemnaker menghadirkan program Desmigratif dengan tujuan untuk memberikan pelindungan yang komprehensif bagi PMI dan keluarga.

EKONOMI | 19 September 2021


TAG POPULER

# Myanmar


# Ali Kalora


# Mujahidin Indonesia Timur


# Inter Milan


# Persib



TERKINI
Menit Ke-49, Thiago Silva Bawa Chelsea Ungguli Tottenham

Menit Ke-49, Thiago Silva Bawa Chelsea Ungguli Tottenham

BOLA | 7 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings