Rizal Ramli: Ekonomi Indonesia Akan Nyungsep, Hanya Tumbuh 4,5%
INDEX

BISNIS-27 541.037 (-2.19)   |   COMPOSITE 6389.83 (-67.98)   |   DBX 1207.48 (-6.95)   |   I-GRADE 186.044 (-1.8)   |   IDX30 536.499 (-4.06)   |   IDX80 144.214 (-1.63)   |   IDXBUMN20 435.358 (-10.84)   |   IDXESGL 149.259 (-0.62)   |   IDXG30 145.988 (-1.78)   |   IDXHIDIV20 471.745 (-3.45)   |   IDXQ30 152.642 (-1.01)   |   IDXSMC-COM 293.915 (-4.87)   |   IDXSMC-LIQ 367.505 (-7.32)   |   IDXV30 148.997 (-3.22)   |   INFOBANK15 1075.9 (-4.86)   |   Investor33 460.647 (-2.84)   |   ISSI 189.211 (-2.58)   |   JII 668.85 (-10.91)   |   JII70 234.095 (-3.95)   |   KOMPAS100 1287.09 (-14.11)   |   LQ45 998.257 (-9.21)   |   MBX 1767.88 (-20.12)   |   MNC36 340.661 (-2.42)   |   PEFINDO25 338.558 (0.19)   |   SMInfra18 329.085 (-4.86)   |   SRI-KEHATI 393.501 (-2.17)   |  

Rizal Ramli: Ekonomi Indonesia Akan Nyungsep, Hanya Tumbuh 4,5%

Senin, 12 Agustus 2019 | 15:37 WIB
Oleh : Herman / IDS

Jakarta, Beritasatu.com – Ekonom senior yang juga mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini tidak akan mencapai target, bahkan bisa “nyungsep” (turun drastis) hingga hanya 4,5%.

"Tahun ini ekonomi Indonesia akan semakin nyungsep. pertumbuhan ekonomi Indonesia paling hanya 4,5%. Pemerintah sebelumnya mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal 5,2%, tetapi data terakhir hanya 5,0% sekian. Dugaan kami akan anjlok terus jadi 4,5%,” kata Rizal Ramli di kawasan tebet, Jakarta Selatan, Senin (12/8/2019).

Prediksi Rizal Ramli tersebut didasarkan pada indikator makro yang menunjukkan kecenderungan semakin merosot. Antara lain, kondisi defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) kuartal II-2019 sebesar US$ 8,4 miliar atau 3,04% dari produk domestik bruto (PDB).

“Grafik transaksi berjalan makin lama semakin merosot, bahkan data terakhir sudah US$ 8 miliar lebih. Dari PDB juga meningkat lumayan. Ini sebetulnya sangat membahayakan dan semua analisis keuangan melihat hal ini,” kata Rizal.

Indikator lainnya adalah kondisi neraca perdagangan yang terus merosot. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), untuk semester pertama 2019 ini defisitnya mencapai US$ 1,93 miliar.

“Sering dikatakan kalau neraca perdagangan yang defisit ini karena faktor eksternal seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Padahal, negara lain seperti Vietnam, Thailand dan Myanmar bisa mengambil manfaat dari trade war ini. Sementara kita salahnya tidak mengantisipasi kejadian ini sebelumnya, padahal ini semua bisa diperkirakan,” paparnya.

Hal lainnya yang juga disoroti adalah capaian rasio jumlah pajak (tax ratio) yang dibandingkan dengan PDB. Rizal memaparkan, data tax ratio 2018 hanya 8,85%. Padahal di 2010 jumlahnya mencapai 9,52%. Penghitungan itu hanya rasio pajak, tanpa dihitung dengan bea dan cukai, serta royalti dari SDA migas dan tambang. Untuk rasio pajak keseluruhan (pajak + bea cukai + royalty SDA migas & tambang) juga turun dari 13,61% pada 2010, menjadi 11,45% pada 2018.

“Karena tax ratio-nya merosot, akhirnya kita meminjam uang lebih banyak dengan bunga yang lebih tinggi. Ini akan menimbulkan masalah di tahun-tahun mendatang,” ungkapnya.

Rizal berharap apa yang disampaikannya ini bisa menjadi peringatan bagi pemerintah agar bisa segera melakukan langkah-langkah antisipasi dan perbaikan. Namun menurutnya pemerintah selalu membantah dan mengatakan kalau kondisi perekonomian Indonesia masih baik. "Bukannya cari solusi bagaimana keluar dari masalah ini, tetapi malah sibuk membantah," sesal Rizal.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Lewat Agen Profesional, Prudential Dorong Inklusi Asuransi

Prudential Indonesia menempati peringkat 22 MDRT secara global.

EKONOMI | 12 Agustus 2019

Tekan Impor LPG, Jonan Ajak Masyarakat Beralih ke Kompor Listrik

"Saya juga tidak membebani negara yang harus mengimpor LPG selama ini sebanyak 4,5 sampai 5 juta ton setahun," kata Jonan.

EKONOMI | 12 Agustus 2019

Bisnis Suku Cadang dan Aksesori Suzuki Tumbuh Positif

Permintaan SGP secara keseluruhan tumbuh sebesar 12,5 persen dibanding semester pertama di tahun sebelumnya.

EKONOMI | 12 Agustus 2019

2021, Pasar Modal Ditargetkan Punya 5 Juta Investor

Saat ini terdapat sekitar 2,7 juta SID di pasar modal.

EKONOMI | 12 Agustus 2019

Rupiah Melemah 28 Poin ke Rp 14.222

Rupiah berada di level Rp 14.222,5 per dolar AS atau terdepresiasi 28,5 poin (0,2 persen).

EKONOMI | 12 Agustus 2019

Sesi I, IHSG Berbalik Melemah 0,5%

IHSG melemah 0,5 persen ke kisaran 6.248,8.

EKONOMI | 12 Agustus 2019

Pengelolaan JKK dan JKM Oleh BPJSTK, Pemerintah Segera Revisi PP 44 Tahun 2015

Pengelolaan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKm) segera diambil BPJSTK.

EKONOMI | 12 Agustus 2019

Konstruksi Tol Semarang-Demak Mulai Tahun 2019

Konstruksi Jalan Tol Semarang-Demak tuntas tahun ini.

EKONOMI | 12 Agustus 2019

OJK: Pasar Modal Harus Terus Bertumbuh

"Kami yakin pasar modal bisa go up. Kami masih menginginkan lebih dari pasar modal," kata Wimboh.

EKONOMI | 12 Agustus 2019

IHSG Dibuka Menguat ke 6.306 Pagi Ini

IHSG menguat 0,4 persen ke kisaran 6.306,03.

EKONOMI | 12 Agustus 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS