42 Tahun Pasar Modal Indonesia

OJK: Pasar Modal Harus Terus Bertumbuh

OJK: Pasar Modal Harus Terus Bertumbuh
Ketua OJK Wimboh Santoso bersama Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen dan Direktur Utama BEI Inarno Djajadi disaksikan SRO lainnya memencet tombol perdagangan bursa saham saat peringatan 42 Tahun Diaktifkannya Kembali Pasar Modal Indonesia di BEI, Jakarta, Senin (12/8/19). BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal ( Foto: BeritaSatu Photo / Mohammad defrizal )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Senin, 12 Agustus 2019 | 10:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengharapkan pasar modal bisa tumbuh lebih pesat lagi dan menjadi alternatif pembiayaan-pembiayaan jangka menengah dan jangka panjang.

"(Raising fund/mencari pendanaan) sangat terbatas apabila didanai perbankan, karena pendanaan perbankan didominasi jangka pendek. Perbankan sumber dananya kecil tetapi peminjamnya besar-besar, jangka waktunya juga pendek. Untuk itu kami mengharapkan pasar modal mempunyai ruang yang lebih besar bagi pengusaha untuk menjadi media raising fund bagi emiten lama maupun menarik emiten baru," kata Wimboh dalam pidato 42 Tahun Pasar Modal Indonesia di Jakarta, hari ini, Senin (12/8/2019).

Hingga 9 Agustus 2019 (year-to-date), tercatat ada 90 penawaran umum (PU) di pasar modal, dengan nilai mencapai Rp 109,2 triliun. Dari 90 PU tersebut, 29 IPO berhasil mengumpulkan dana Rp 8,5 triliun, 12 HMETD meraih Rp 25,7 triliun, 3 PU penerbitan efek bersifat utang dan/atau sukuk (EBUS) Rp 2,25 triliun, 16 PU EBUS tahap I Rp 17,02 triliun, dan 330 PU EBUS tahap II Rp 55,75 triliun.

Pasar modal juga memiliki berbagai alternatif pembiayaan sektor strategis pemerintah untuk jangka panjang, seperti Reksa Dana Penyertaan Terbatas Sektor Riil yang memiliki dana kelolaan Rp 23,5999 triliun hingga akhir Juni lalu, lalu ada Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) dengan dana kelolaan Rp 6,72 triliun, Efek Beragun Aset-Surat Partisipasi (EBA-SP) senilai Rp 3,13 triliun.

"Pasar modal Indonesia memiliki perkembangan paling baik seASEAN dan volatilitas terkendali berkat sinergi antar pemerintah, kementerian keuangan, dan Bank Indonesia dalam mensetting kebijakan," kata Wimboh.

Dalam empat tahun terakhir, jumlah perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia naik 25,3 persen (sejak 2014-2018) menjadi 634 perusahaan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Thailand 16,2 persen dan Vietnam 23,6 persen. Secara year-to-date, IHSG mencatat pertumbuhan 1,41 persen dengan net buy investor asing Rp 64,93 triliun. Kapitalisasi pasar tumbuh 2,58 persen menjadi Rp 7.205 triliun per 9 Agustus lalu dibandingkan posisi akhir tahun 2018. Emisi Surat Berharga Negara secara year to date mencapai Rp 113,38 triliun. Indeks Komposit Obligasi Indonesia juga mencatat pertumbuhan 9,03 persen. Dana kelolaan reksa dana juga naik 7,2 persen dari Rp 748,54 triliun menjadi Rp 802,4 triliun.

Meski demikian, OJK belum puas. "Kami yakin pasar modal bisa go up. Kami masih menginginkan lebih dari pasar modal. Pertama, pertumbuhan kita semakin sulit. Dalam tiga tahun terakhir pertumbuhan tertahan di 5,1-5,2 persen. Pertumbuhan ini bisa lebih kalau sektor riil bangkit. Kredit perbankan sudah double digit sementara pasar modal tahun lalu malah lebih rendah dari 2017. Pertumbuhan pasar modal kita harapkan lebih lagi," kata Wimboh.

Wimboh melanjutkan seluruh sedang melonggarkan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi global yang jelas menurun. Beberapa bank sentral sudah menurunkan suku bunga, termasuk Bank Indonesia.

"Pemerintah sangat agresif menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru yang bisa menyerap tenaga kerja, mendorong ekspor dan barang substitusi impor. Kami harapkan insan pasar modal proaktif bersama OJK, pemda, dan kementerian lainnya bisa bersinergi memberikan insentif. Kami harapkan emiten tambah banyak," tutupnya.

Saksikan videonya di sini:



Sumber: BeritaSatu.com