Deputi BI: Tantangan Global Semakin Berat, RI Perlu Lebih Andalkan Sektor Domestik

Deputi BI: Tantangan Global Semakin Berat, RI Perlu Lebih Andalkan Sektor Domestik
Destry Damayanti. ( Foto: ID/David Gita Roza )
Lona Olavia / FMB Rabu, 7 Agustus 2019 | 14:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ekonomi Indonesia perlu lebih mandiri dengan mengandalkan kekuatan dari sektor domestik, seperti pada sisi konsumsi dan investasi. Langkah itu perlu ditempuh untuk menahan terpaan gejolak pasar keuangan global yang saat ini sedang terjadi, misalnya trade war antara Tiongkok-AS yang tak kunjung surut.

Dewan Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) yang baru dilantik Destry Damayanti mengakui, hari-hari ke depan akan makin sulit, terlihat dari dua minggu terakhir dengan bertambahnya sentimen negatif dari global. Hal ini pun harus diwaspadai dengan mempererat koordinasi antar lembaga baik BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Pemerintah.

"Dari domestik, pertumbuhan ekonomi di kuartal II cukup solid meski melambat dibanding kuartal I. Dari komponen yang kontribusi pertumbuhan ekonomi, konsumsi masyarakat dan investasi itu tumbuh bagus dan memberikan kontribusi signifikan 80 persen ke PDB," kata dia.

Sementara dari sisi ekspor, diakuinya Indonesia belum bisa berharap banyak, mengingat dua negara pangsa pasar ekspor terbesar yakni AS dan Tiongkok tengah melemah ekonominya. Untuk itu, perlu didorong diversifikasi tujuan ekspor ke pasar yang sifatnya nonkonvensional.

Sedangkan, Indonesia punya potensi ekonomi domestik yang besar. Oleh karena itu, ia mengatakan, perlu adanya upaya untuk menjaga kestabilan di sektor keuangan domestik. "Ini tantangan BI untuk menjaga stabilitas sektor keuangan, khususnya nilai tukar. Kadang di domestik tidak ada apa-apa, tetapi di global ada guncangan kita ikut tergoncang. Padahal, kalau kita menjaga makro kita, kita tidak perlu panik karena guncangan sifatnya hanya sementara," tegasnya.

BI, sambungnya juga akan terus membuka ruang kredit yang sifatnya produktif. Selain itu, pada rapat pertamanya malam ini, Destry akan mengutarakan soal lima area strategis.

Pertama, kebijakan campuran yang mana hampir semua bank sentral di dunia menerapkan terobosan itu, termasuk untuk instrumen moneter dan makroprudensial. Kedua, stabilitas sektor keuangan yang dalam. "Tantangan kita karena keuangan kita dangkal, jadi global goyang kita ikut goyang. Ini PR BI, OJK, dan pemerintah," ungkapnya.

Ketiga, digital payment, di mana harus tercipta pembayaran yang efisien, ramah pengguna dan konsumen terlindungi. Keempat, ekonomi syariah perlu diperluas produk-produknya supaya dikenal luas masyarakat. Kelima, sinergi antar lembaga keuangan. "Saya pribadi punya komitmen untuk tingkatkan koordinasi antar lembaga," pungkas Destry. 



Sumber: BeritaSatu.com