Logo BeritaSatu

India Tunda Janji Iklim hingga Negara Kaya Bayar Rp 14.242 Triliun

Sabtu, 13 November 2021 | 17:47 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / WIR

Beritasatu.com- India telah menolak untuk memperbarui tujuan iklim resminya di negosiasi KTT iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa COP-26. Seperti dilaporkan Bloomberg, Kamis (11/11/2021), India menyatakan sedang menunggu negara-negara kaya membayar US$ 1 triliun (Rp 14.242 triliun) dalam pembiayaan iklim pada akhir dekade ini.

Oposisi India kontras dengan pengumuman mengejutkan pada 1 November, tepat sebelum negosiasi COP-26 dimulai, bahwa India akan menetapkan tujuan baru yang ambisius untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2070.

Perdana Menteri Narendra Modi memulai negosiasi di Glasgow, Skotlandia, dengan mengumumkan niat negaranya untuk meningkatkan pangsa kapasitas pembangkit listrik terbarukan sambil juga berkomitmen untuk tujuan jangka panjang netralitas karbon.

Modi juga menuntut negara-negara kaya menyediakan hingga US$ 1 triliun dalam pendanaan iklim untuk India. Jumlah itu jauh lebih banyak dari US$ 100 miliar (1.424 triliun) per tahun untuk semua negara miskin berdasarkan kesepakatan sebelumnya.

Namun, tidak jelas sampai saat ini apakah permintaan India datang dengan tenggat waktu. Para pejabat mengumumkan pada Rabu (10/11) bahwa India sedang mencari jumlah kompensasi itu pada tahun 2030 untuk mendanai pengembangan energi terbarukan, penyimpanan energi, dekarbonisasi industri, dan pertahanan infrastruktur terhadap pemanasan global.

Meskipun 121 negara telah menyerahkan janji iklim resmi kepada PBB dalam bentuk dokumen yang dikenal sebagai kontribusi yang ditentukan secara nasional, India tetap menahan diri.

“Mari kita perjelas,” kata seorang delegasi yang tidak disebutkan namanya kepada Hindustan Times.

“India tidak akan memperbarui NDC-nya sampai ada kejelasan tentang pendanaan iklim. Rakyat India menginginkan janji yang jelas untuk membuat dana tersedia sesegera mungkin,” kata seorang pejabat kepada Bloomberg News.

Bulan lalu satu laporan yang digagas Inggris dan berdasarkan data OECD oleh Jerman dan Kanada, menemukan bahwa negara-negara maju diperkirakan mencapai angka mendekati US$ 97 miliar (Rp 1.381 triliun) pada tahun 2022 dari US$ 100 miliar untuk semua negara miskin.

Terlambat lebih dari dua tahun, menurut laporan lain, target itu mungkin tidak akan tercapai hingga 2023.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# Deddy Corbuzier


# UAS


# Timnas Indonesia


# Minyak Goreng


# Lin Che Wei


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
SEA Games 2021: Leo/Daniel Bidik Laga Final Ganda Putra

SEA Games 2021: Leo/Daniel Bidik Laga Final Ganda Putra

SPORT | 7 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings