Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Anak Perempuan Afghanistan Kehilangan Harapan Bisa Sekolah Lagi

Senin, 18 Oktober 2021 | 11:48 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / WIR

Kabul, Beritasatu.com- Anak perempuan Afghanistan mulai kehilangan harapan untuk bisa sekolah lagi. Seperti dilaporkan NDTV, Minggu (17/10/2021), Taliban yang memerintah Afghanistan masih melarang anak perempuan bersekolah.

“Saya ingin belajar, melihat teman-teman saya dan memiliki masa depan yang cerah, tetapi sekarang saya tidak diizinkan," keluh Amena, 16 tahun, kepada AFP di rumahnya di Kabul barat.

“Situasi ini membuat saya merasa tidak enak. Sejak Taliban tiba, saya sangat sedih dan marah,” ratap Amena.

Saat ini, seperti kebanyakan siswi sekolah menengah di negara itu, Amena dilarang mengikuti pelajaran sama sekali setelah rezim garis keras Taliban mengeluarkan mereka dari kembali ke kelas satu bulan lalu. Namun, tidak disebutkan guru perempuan atau pelajar perempuan.

Taliban kemudian menyatakan anak perempuan yang lebih tua dapat kembali ke sekolah menengah, yang sebagian besar sudah terbagi berdasarkan jenis kelamin. Tetapi kebijakan itu berlaku hanya setelah keamanan dan pemisahan yang lebih ketat di bawah interpretasi mereka terhadap hukum Islam dapat dipastikan.

Laporan telah muncul tentang gadis-gadis yang kembali ke beberapa sekolah menengah - seperti di provinsi Kunduz di mana Taliban mempromosikan kepulangan dengan demonstrasi yang diatur panggung.

“Seorang pemimpin Taliban mengatakan kepada badan anak-anak PBB bahwa kerangka kerja untuk memungkinkan semua anak perempuan pergi ke sekolah menengah akan segera diumumkan,” kata seorang eksekutif senior UNICEF, Jumat.

Tetapi untuk saat ini, sebagian besar anak pperempuan dilarang mengikuti pelajaran di seluruh negara berpenduduk sekitar 39 juta orang, termasuk di ibu kota Kabul.

Amena tinggal tidak jauh dari Sekolah Menengah Sayed Al-Shuhada, di mana 85 orang yang kebanyakan gadis-gadis muda, tewas dalam serangan bom Mei.

"Gadis-gadis yang tidak bersalah dibunuh. Saya melihat dengan mata kepala sendiri gadis-gadis yang sekarat dan terluka. Namun, saya masih ingin pergi ke sekolah lagi," ratap Amena, matanya berkaca-kaca.

Amena akan berada di Kelas 10 mempelajari mata pelajaran favoritnya seperti biologi, tetapi malah terjebak di dalam dengan beberapa buku melakukan "tidak ada yang istimewa".

Sebagai remaja, Amena mengaku bermimpi menjadi seorang jurnalis, tetapi sekarang "tidak memiliki harapan di Afghanistan".

Kakak-kakak Amena membantunya di rumah, dan terkadang dia mendapat pelajaran dari psikolog yang datang menemui adik perempuannya, yang masih trauma dengan serangan sekolah.

"Mereka bilang: 'Belajarlah jika tidak bisa sekolah -- belajarlah di rumah agar kelak bisa menjadi seseorang," kata Amena.

Tapi Amena tidak mengerti mengapa anak laki-laki diperbolehkan belajar dan anak perempuan tidak.

"Setengah dari masyarakat terdiri dari anak perempuan dan setengahnya lagi terdiri dari anak laki-laki. Tidak ada perbedaan di antara mereka," ujarnya.

Setelah pasukan pimpinan AS menggulingkan Taliban pada tahun 2001, kemajuan dicapai dalam pendidikan anak perempuan.

Jumlah sekolah meningkat tiga kali lipat dan literasi perempuan hampir dua kali lipat menjadi 30 persen, tetapi perubahan itu sebagian besar terbatas di kota-kota.

“Perempuan Afghanistan telah membuat prestasi besar dalam 20 tahun terakhir,” kata Nasrin Hasani, seorang guru berusia 21 tahun di sebuah sekolah menengah Kabul yang sekarang membantu siswa sekolah dasar.

Hasani menilai situasi saat ini telah menurunkan moral guru dan para siswa dan mempertanyakan alasan larangan pemerintah Taliban.

“Sejauh yang kita ketahui, agama Islam tidak pernah menghalangi pendidikan dan pekerjaan perempuan,” serunya.

Hasani mengaku belum mengalami ancaman langsung dari Taliban. Tetapi Amnesty International melaporkan seorang guru sekolah menengah menerima ancaman pembunuhan dan dipanggil untuk dituntut karena dia dulu mengajar olahraga pendidikan bersama.

Hasani masih berpegang teguh pada harapan bahwa Taliban akan "sedikit berbeda" dari rezim brutal mereka pada 1996-2001, ketika perempuan bahkan tidak diizinkan keluar rumah tanpa pendamping.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Dokter Penemu Omicron: Gejalanya Ringan Saja

Gejala akibat varian Omicron berbeda dengan gejala yang ditumbulkan oleh varian Delta dan Alpha.

DUNIA | 29 November 2021

Varian Omicron, Maroko Tangguhkan Penerbangan Internasional

Maroko akan menangguhkan semua penerbangan penumpang internasional reguler selama dua minggu karena kekhawatiran pada varian baru Covid-19 Omicron.

DUNIA | 29 November 2021

Laos Berharap Kereta Peluru Dorong Peningkatan Ekonomi

Pemerintah Laos berharap kereta peluru dapat mendorong peningkatan ekonomi negara.

DUNIA | 29 November 2021

Botswana Temukan Lagi 15 Kasus Omicron

Menteri Kesehatan Botswana Edwin Dikoloti mengatakan telah mendeteksi 15 kasus lagi varian virus corona Omicron, pada Minggu (28/11/2021)

DUNIA | 29 November 2021

Filipina Beli Lagi 20 Juta Dosis Vaksin Covid Pfizer

Filipina akan membeli tambahan 20 juta dosis vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Pfizer dan BioNTech.

DUNIA | 29 November 2021

Pidato Pertama, Pemimpin Taliban Minta Bantuan Internasional

Pemimpin Taliban, Mullah Mohammad Hassan Akhund meminta bantuan internasional untul Afghanistan.

DUNIA | 29 November 2021

WHO Belum Pastikan Omicron Penyebab Sakit Parah

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan belum dapat memastikan apakah varian baru Omicron lebih menular atau menyebabkan sakit parah.

DUNIA | 29 November 2021

Prancis Deteksi Sejumlah Kasus Terduga Omicron

Kementerian Kesehatan Prancis telah menemukan delapan kemungkinan kasus varian Omicron.

DUNIA | 29 November 2021

Mesir Izinkan Vaksin Covid Pfizer untuk Remaja

Mesir mengesahkan penggunaan vaksin Covid-19 Pfizer untuk remaja berusia 12-15 tahun pada Minggu (28/11/2021).

DUNIA | 29 November 2021

Varian Omicron, WHO Minta Negara Tetap Buka Perbatasan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendorong negara-negara untuk tetap membuka perbatasan, meskipun ada kekhawatiran varian Omicron dari Covid-19.

DUNIA | 29 November 2021


TAG POPULER

# Ameer Azzikra


# Omicron


# Bens Leo


# Cristiano Ronaldo


# Infeksi Lever



TERKINI
Ormas PP Kabupaten Tangerang Gelar Demo di DPRD

Ormas PP Kabupaten Tangerang Gelar Demo di DPRD

MEGAPOLITAN | 5 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings