Logo BeritaSatu

Perubahan Iklim Akan Perburuk Krisis di Afghanistan

Sabtu, 18 September 2021 | 19:37 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / WIR

Kabul, Beritasatu.com- Setelah dua dekade, misi Amerika di Afghanistan telah berakhir dan Taliban telah mengumumkan pemerintahan baru. Tetapi bagi jutaan rakyat Afghanistan, perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia hanya memperbesar perselisihan.

Sebagian besar Afghanistan kering dan panas sepanjang tahun. Dari 1950 hingga 2010, negara yang terkurung daratan itu menghangat 1,8 derajat Celcius atau sekitar dua kali rata-rata global. Tetapi Afghanistan hanya bertanggung jawab atas sebagian kecil emisi gas rumah kaca.

Dalam wawancara dengan Jariel Arvin dari vox.com, Rabu (15/9/2021), Ahmad Samim Hoshmand mengaku telah ditetapkan untuk mewakili Afghanistan di COP26. Tapi sekarang dia salah satu dari ribuan orang Afghanistan yang melarikan diri dan mengungsi ke Tajikistan, ketika Taliban menyapu kota-kota besar dan mengambil alih kekuasaan.

Sebagai petugas ozon nasional untuk Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pekerjaan Hoshmand untuk menegakkan larangan global terhadap zat perusak ozon membuatnya menjadi musuh orang yang memperdagangkannya. Setelah melakukan pekerjaan yang berisiko di Afghanistan, Hoshmand sekarang takut akan pembalasan sebagai pengungsi.

Namun terlepas dari ancaman keamanan yang dihadapi dan negara asal, Hoshmand menekankan, “Jika kita tidak mengatasi perubahan iklim, konflik dan kekerasan hanya akan menjadi lebih buruk.”

Pada Konferensi Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP26) di Glasgow November ini, hampir 200 pemerintah dunia memiliki kesempatan untuk memenuhi komitmen mereka untuk menjaga pemanasan global hingga 2 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri, sejalan dengan kesepakatan iklim Paris 2016.

Negara-negara berkembang, termasuk Afghanistan telah meminta beberapa ekonomi top dunia untuk lebih mengurangi emisi, dan memberikan bantuan keuangan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim dan transisi ke energi bersih melalui mekanisme seperti Dana Iklim Hijau.

“Afghanistan adalah salah satu negara yang paling rentan di dunia dalam hal perubahan iklim, berdasarkan geografi, kepekaan, dan kemampuannya untuk mengatasi pemanasan global. Saya 100 persen yakin bahwa ketika Anda menambahkan konflik ke kriteria tersebut, Afghanistan adalah negara paling rentan di dunia,” papar Hoshmand.

Menurut Hoshmand, berbagai data menunjukkan bahwa negara menghadapi kerawanan pangan, kelangkaan air, kekeringan, dan banjir bandang. Semua masalah ini terkait dengan perubahan iklim, dan dalam beberapa tahun terakhir, kita telah menyaksikan situasinya menjadi lebih buruk.

“Kami telah mengalami cuaca ekstrem seperti banjir di utara, sementara pada saat yang sama, kami mengalami kekeringan di bagian selatan Afghanistan,” katanya.

Tetapi, kata Hoshmand, ada juga dampak tidak langsung dari perubahan iklim pada masyarakat Afghanistan. Kekerasan, konflik, pelanggaran hak asasi manusia, dan pernikahan di bawah umur terkait dengan perubahan iklim. Delapan puluh lima persen ekonomi Afghanistan bergantung pada pertanian. Jadi ketika petani kehilangan mata pencaharian, mereka akan melakukan apapun mereka bisa untuk bertahan hidup. Di negara rapuh seperti Afghanistan, alternatifnya seringkali berbahaya.

“Kami telah mengambil banyak tindakan praktis, seperti mengembangkan strategi dan rencana aksi perubahan iklim. Kami juga menyelesaikan inventarisasi gas rumah kaca untuk pertama kalinya dalam sejarah Afghanistan, yang merupakan pencapaian yang sangat besar bagi kami,” paparnya.

“Kami mendapatkan lebih dari $20 juta dalam bentuk hibah dan pembiayaan dari Green Climate Fund (GCF), untuk mendukung pengembangan energi terbarukan. Pada saat yang sama, kami juga telah meningkatkan target iklim nasional kami sesuai dengan kesepakatan Paris 2016. Kami berencana mengirimkannya di COP26,” ujar Hoshmand.

Meskipun berada di pengungsian Tajikistan, Hoshmand masih berharap Afghanistan ikut serta dalam KTT COP26. Tetapi dia pun mengaku pesimistis, mengingat situasi saat ini cukup sulit untuk mengatur semuanya.

“Paling tidak, saya ingin melihat ruang untuk Afghanistan di COP26. Seharusnya tidak ada kursi kosong. Harus ada seseorang yang mewakili negara, dan orang itu harus berbagi di tingkat kepemimpinan bahwa Afghanistan adalah negara yang paling rentan di dunia, dan kita membutuhkan dukungan keuangan untuk mengatasi guncangan perubahan iklim, demi anak-anak kita dan generasi berikutnya,” tambahnya.

Menurut Hoshmand, perubahan iklim berbeda dengan masalah internal, masalah ekonomi, atau bahkan perdamaian dan keberlanjutan. Ini adalah masalah hidup dan mati, tentang komunitas, pemerintahan, rakyat.

“Keluarga saya masih ada. Jika perubahan iklim tidak dikelola dengan baik, mereka mungkin akan melarikan diri dari Afghanistan suatu hari nanti, bukan karena perang tetapi karena bencana terkait iklim,” tambahnya.

Terlepas dari masalah politik lain, kata Hoshmand, komunitas internasional perlu membantu rakyat Afghanistan. Ada komunitas yang sangat terpencil di mana kebanyakan orang tidak tahu tentang perubahan iklim.

“Mereka tidak tahu mengapa ada banjir, mengapa ada kekeringan, mengapa ada ketidakpastian dengan bencana nasional. Dan itu adalah mandat ahli iklim untuk mengurus mereka,” ujarnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Tekanan terhadap ECB Meningkat untuk Menanggapi Kenaikan Inflasi

Tekanan meningkat pada bank sentral Eropa (ECB) untuk menanggapi kenaikan inflasi di zona euro.

DUNIA | 26 Oktober 2021

PM India Konfirmasi Kehadiran di COP26

Perdana Menteri India Narendra Modi dipastikan akan menghadiri KTT iklim COP26.

DUNIA | 26 Oktober 2021

Inggris Mengumumkan Pengeluaran Kesehatan £ 6 Miliar

Pemerintah Inggris akan memberikan tambahan £ 6 miliar kepada Dinas Kesehatan Nasional (NHS) untukatasi backlog yang terjadi sebagai salah satu dampak pandemi.

DUNIA | 26 Oktober 2021

AS Tegaskan Kemitraan Strategis dengan Indonesia

Pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali mempererat kerja sama dengan Indonesia sebagai teman dan mitra kunci di Asia Tenggara.

DUNIA | 26 Oktober 2021

PBB: Tingkat Gas Rumah Kaca Capai Rekor

Konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer mencapai tingkat rekor tahun lalu, kata pernyatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Senin (25/10/2021).

DUNIA | 26 Oktober 2021

Setelah Kebakaran, Ribuan Pohon di California Harus Ditebang

Setelah kebakaran hutan California, Amerika Serikat (AS), lebih dari 10.000 pohon yang sekarat oleh kebakaran, kekeringan, penyakit, atau usia harus ditebang.

DUNIA | 26 Oktober 2021

Militer Sudan Bubarkan Pemerintah

Perdana Menteri Abdalla Hamdok dan para anggota kabinet dikenakan tahanan rumah atau dan ditahan di lokasi rahasia.

DUNIA | 25 Oktober 2021

Dubes RI untuk Belgia Ajak Mahasiswa Jadi “A Good Indonesian

Ketua PPI William Rotty dan Wakil Ketua PPI Belgia Muhammad Daffa Dezar membuka acara Welcoming Day PPI Belgia.

DUNIA | 25 Oktober 2021

Kabar Taliban Penggal Pemain Voli Afghanistan Dibantah Keluarga

Kabar kematian Mahjabin Hakimi, seorang pemain bola voli nasional wanita Afghanistan yang mati dipenggal Taliban pada awal Oktober dibantah pihak keluarganya.

DUNIA | 25 Oktober 2021

Menlu Retno: Presiden Jokowi Bakal Hadir dan Berpartisipasi di KTT ASEAN

Presiden diagendakan bertolak ke Roma, Italia, untuk menghadiri KTT Group of Twenty (G-20) yang digelar pada tanggal 30-31 Oktober 2021.

DUNIA | 25 Oktober 2021


TAG POPULER

# LRT Tabrakan


# Tabrakan Bus Transjakarta


# Fahri Hamzah


# Tes PCR


# Taliban



TERKINI
Lintasarta Dukung Program Desa Digital di 15 Kabupaten di Jawa Barat

Lintasarta Dukung Program Desa Digital di 15 Kabupaten di Jawa Barat

DIGITAL | 7 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings