Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Kenapa Taliban Begitu Mudah Rebut Kekuasaan?

Rabu, 25 Agustus 2021 | 12:34 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / HA

Beritasatu.com – Ketika kelompok milisi Taliban merebut kota Kabul dengan begitu mudah 10 hari lalu untuk memastikan kendali di hampir seluruh wilayah Afghanistan, masyarakat dunia terperanjat.

Setelah 20 tahun tersingkir dari kekuasaan dan dipojokkan pasukan Amerika Serikat dan NATO di pegunungan dan pedesaan, kenapa Taliban bisa melenggang begitu saja masuk ibu kota dan mengambil alih istana kepresidenan?

Kenapa Amerika mendadak bersikap lunak pada Taliban dan menarik seluruh pasukan?

Kenapa Presiden Afghanistan Ashraf Ghani kabur ke luar negeri? Kenapa pasukan Afghanistan yang dilatih, dipersenjatai dan digaji Amerika menyerah hampir tanpa perlawanan di kaki Taliban?

Jawaban atas semua pertanyaan itu ternyata sudah ada sejak tahun lalu ketika AS masih dipimpin oleh Presiden Donald Trump.

Sejak Amerika melakukan invasi ke Afghanistan pada 2001, Trump adalah presiden pertama yang memutuskan dihentikannya aksi militer AS di sana.

“Sudah waktunya pulang ke rumah. Mereka ingin berhenti setelah bertempur sangat lama,” kata Trump tahun lalu, menyinggung kondisi pasukan AS di Afghanistan menurut versinya.

Lalu, 29 Februari 2020 menjadi hari bersejarah yang menentukan jalan cerita dengan akhir seperti yang kita dengar sekarang.

Hari itu di kota Doha di Qatar, Amerika dan Taliban melakukan perundingan damai. Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga hadir di sana, menunjukkan pentingnya acara tersebut.

Presiden AS Donald Trump (kiri) mendengarkan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dalam rapat Kabinet di Gedung Putih, Washington DC, 21 Okt. 2019. (AFP)

Sebelum membahas isi perjanjian, perlu dijelaskan lebih dulu bahwa AS punya standar ganda soal Taliban.

Pemerintah AS memberi label teroris untuk kelompok Taliban di Pakistan, atau Tehrik-I Taliban.

Sedangkan kelompok Taliban di Afghanistan dianggap sebagai kelompok pemberontak, bukan teroris, yang menguasai banyak wilayah di sana dan bercita-cita memerintah negara itu.

Padahal, dua kelompok itu sama-sama menyebut dirinya Taliban, dan sama-sama sering melakukan serangan bunuh diri dan menyerang warga sipil tanpa ampun.

Untuk bisa masuk daftar organisasi teroris di Kementerian Luar Negeri AS, kelompok dimaksud harus terbukti telah melakukan aksi terorisme dan mengancam keselamatan warga negara serta kepentingan nasional AS.

Taliban di Afghanistan sebetulnya memenuhi kriteria tersebut.

Namun, pertimbangan politik membuat kelompok Taliban Afghanistan dikesampingkan dari daftar kelompok teroris yang dibuat AS, yang saat ini memiliki 61 nama dari Islamic State, Hamas, hingga Taliban Pakistan.

Kalau Taliban Afghanistan dianggap teroris, maka AS dan pemerintah Afghanistan akan dilarang melakukan kontak diplomatik atau memulai perundingan damai dengan mereka.

Perlakuan berbeda ini mengizinkan rezim Trump untuk berunding dengan Taliban Afghanistan di Doha.

Isi Perjanjian
Dalam perundingan di Doha, Taliban diwakili pemimpin politiknya Mullah Abdul Ghani Baradar. Sebelumnya, dia dibebaskan dari penjara di Pakistan atas permintaan AS.

Bagian terpenting perjanjian itu menyebutkan AS akan sepenuhnya menarik pasukan dari Afghanistan pada 1 Mei 2021, asalkan Taliban juga menepati janji mereka. Tenggat ini kemudian diperpanjang oleh Biden hingga 31 Agustus.

Di pihak lain, Taliban setuju untuk tidak menyerang personel militer AS, dan tidak melakukan aktivitas terorisme yang mengancam AS di Afghanistan maupun di negara lain.

“Taliban tidak akan mengizinkan para anggotanya, orang-orang atau kelompok-kelompok lain termasuk al-Qaeda, untuk menggunakan bumi Afghanistan sebagai tempat untuk mengancam keamanan AS dan sekutunya,” bunyi pasal lain dalam perjanjian tersebut.

Sebagai imbalannya, AS sepakat membebaskan ribuan tawanan perang dan tawanan politik Taliban “sebagai cara membangun kepercayaan dengan koordinasi dan persetujuan semua pihak terkait”.

Masalahnya Adalah …
Pemerintah Afghanistan tidak dilibatkan dalam perundingan Trump-Taliban.

Presiden Ghani dan pasukannya tidak tahu sebelumnya bahwa mereka akan ditinggalkan oleh AS.

Pemerintah Afghanistan dan Taliban sebetulnya sudah beberapa kali berunding tanpa hasil. Rupanya, Taliban memang lebih segan kepada Amerika dan memandang remeh pemerintahan Ghani.

Trump, entah kenapa, juga memandang sebelah mata pada pemerintah Afghanistan sehingga merasa tidak perlu melibatkan mereka.

Padahal, perjanjian di Doha menyebutkan “pemerintahan Islam Afghanistan yang baru ditentukan oleh dialog dan perundingan internal Afghanistan”. Dengan kata lain, ditentukan oleh Taliban dan pemerintahan Ghani.

Ironis bahwa pemerintahan sipil Afghanistan -- yang juga bentukan Amerika -- tidak dilibatkan dalam perundingan Doha yang menjadi pondasi perkembangan selanjutnya.

Pasca-Doha, masa depan Afghanistan sudah ditetapkan.

Amerika bakal pergi, yang membuat pemerintahan Ghani makin lemah, dan membuat Taliban makin kuat -- plus ribuan pentolannya sudah bebas dari penjara.

Milisi Taliban mulai masuk Kabul pertengahan Agustus 2021. (AFP)

Bahkan HR McMaster, salah satu mantan penasihat keamanan Trump, menggambarkan perjanjian Doha sebagai “pernyataan menyerah Amerika” pada Taliban.

Lisa Curtis, pakar soal Afghanistan yang juga pernah bekerja untuk Trump, menyebut perundingan Doha tidak adil karena tidak ada seorang pun yang memikirkan kepentingan pemerintah Afghanistan.

Juga nyaris tidak pernah terjadi sebelumnya sebuah kesepakatan untuk mengakhiri konflik tidak melibatkan sama sekali pemerintah negara dimaksud.

Biden Datang
Pemerintah Afghanistan mungkin masih berharap situasi akan berbalik dan mereka akan memiliki suara penting setelah masa jabatan Trump resmi berakhir 20 Januari 2021.

Harapan itu musnah oleh pernyataan pedas Presiden Biden tentang pemerintah dan pasukan Afghanistan.

“Kami sudah memberi mereka semua alat yang dibutuhkan. Kami membayar gaji mereka, menyediakan dana perawatan untuk Angkata Udara mereka. Kami beri mereka semua kesempatan untuk menentukan masa depan mereka sendiri,” kata Biden dalam pidato di Gedung Putih 16 Agustus lalu.

"Warga Amerika tidak bisa dan tidak boleh meninggal dan bertempur dalam peperangan di mana warga Afghanistan sendiri tidak berminat untuk ikut angkat senjata," tegas Biden, presiden ke-4 AS sejak invasi ke Afghanistan pada 2001.

Menurut Biden, begitu menjabat dia hanya punya dua pilihan soal Afghanistan: menghormati perjanjian yang dibuat presiden sebelumnya, atau meneruskan perang tanpa kejelasan kapan berakhir.

“Tugas ini harus berakhir di saya, dan tidak akan saya wariskan ke presiden kelima,” kata Biden.

Jelas sudah sikapnya -- goodbye Afghanistan!

Pemerintah Afghanistan yang diharapkan Biden akan bertempur melawan Taliban adalah rezim yang sama yang ditinggalkan Trump dalam perundingan Doha.

Rezim Ghani tidak diberitahu sebelum Amerika memulai proses penarikan pasukan besar-besaran Juli lalu.

Bukannya “membangun kepercayaan”, perjanjian Doha itu berdampak sebaliknya bagi pemerintah Afghanistan dan hubungan dengan rakyatnya sendiri yang juga masih sangat rentan.

Poin Penting
Rentetan peristiwa ini tidak menyimpulkan apakah AS salah atau benar dengan memutuskan hengkang dari Afghanistan.

Namun, paling tidak menggambarkan konsekuensi nyata yang terjadi kemudian.

Mullah Abdul Ghani Baradar dulu dipenjara, tetapi dia ikut tanda tangan perjanjian di samping Pompeo dan sekarang menjadi figur nomor satu menjelang dibentuknya pemerintah baru.

Lalu tengok Ashraf Gani, dia adalah presiden terpilih Afghanistan yang sah ketika perundingan berlangsung, tetapi dia tidak dilibatkan dan sekarang mengandalkan akun media sosial untuk membuat pernyataan dari pengasingan.

Amerika di bawah Biden dan Trump mengatakan dia tidak lagi figur penting di Afghanistan.

Ashraf Ghani membuat pernyataan video di Facebook pada 18 Agustus 2021. (AFP)

Berikutnya, kronologi tersebut juga menjawab pertanyaan kenapa Taliban begitu mudah merebut kekuasaan nyaris tanpa perlawanan dari pasukan pemerintah:

- Amerika sebagai guardian pemerintah Afghanistan pergi tanpa pamit pada mereka. Trump ingin melupakan Afghanistan, dan rupanya Biden juga demikian.
- Pasukan NATO bahkan sudah mengakhiri misi di Afghanistan sejak 2014, sehingga pemerintah sendirian menghadapi Taliban.
- Taliban diberi ruang untuk negosiasi dan membentuk pemerintahan baru oleh Amerika.
- Taliban mendapat tambahan kekuatan baru dengan dibebaskannya ribuan pentolan mereka dari penjara.
- Pemerintah Afghanistan ditinggalkan dalam perundingan paling penting AS-Taliban.
- Taliban lebih dulu paham kapan AS pergi dan bagaimana sikap AS terhadap pemerintahan Ghani, sehingga bisa menghimpun kekuatan dan membuat rencana penaklukan lebih matang.
- Taliban tahu dari awal mereka boleh bersikap ofensif, asalkan tidak mengganggu kepentingan Amerika, sementara pemerintah Afghanistan masih sia-sia mengharap adanya perundingan lain.
- Presiden Ghani, sadar tidak lagi punya daya tawar dan kekuatan, memilih kabur, otomatis menandai runtuhnya rezim.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Singapura Memperluas Skema Kedatangan Tanpa Karantina bagi Pendatang dengan Vaksin

Pendatang yang divaksinasi penuh dari delapan negara akan dapat memasuki Singapura tanpa karantina mulai Selasa (19/10/2021).

DUNIA | 18 Oktober 2021

Kuartal III-2021, Pertumbuhan Ekonomi Tiongkok Melambat

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat lebih dari yang diharapkan pada kuartal III-2021.

DUNIA | 18 Oktober 2021

Mantan Menlu Amerika Colin Powell Meninggal Akibat Covid

Popularitasnya melesat setelah Perang Teluk 1991 ketika pasukan multinasional di bawah PBB mengusir pasukan Irak dari Kuwait.

DUNIA | 18 Oktober 2021

Akibat Pandemi, 59.757 Calon Jemaah Tunda Ibadah Umrah

Terdapat 59.757 calon jemaah umrah tertunda keberangkatannya akibat pandemi Covid-19.

DUNIA | 18 Oktober 2021

Kemenag Siapkan Skema Ibadah Umrah di Masa Pandemi

Kementerian Agama telah menyusun skema penyelenggaraan perjalanan ibadah umrah pada masa pandemi Covid-19.

DUNIA | 18 Oktober 2021

Kemenangan Taliban di Afghanistan Mendorong Radikal Pakistan

Gerakan Taliban Pakistan telah dikuatkan oleh kembalinya kekuasaan Taliban di Afghanistan.

DUNIA | 18 Oktober 2021

Pemimpin Junta Myanmar Salahkan Oposisi Atas Aksi Kekerasan

Pemimpin junta Myanmar Min Aung Hlaing menyalahkan oposisi atas aksi kekerasan yang terjadi.

DUNIA | 18 Oktober 2021

Israel Perkirakan 2.000 Serangan Roket Hizbullah Per Hari

Israel tidak ingin berperang dengan Hizbullah Lebanon tetapi siap menghadapi sekitar 2.000 roket sehari dari kelompok bersenjata itu jika konflik pecah

DUNIA | 18 Oktober 2021

PM Jepang: Pelepasan Air Limbah Fukushima Tidak Bisa Ditunda

PM baru Jepang Fumio Kishida mengatakan rencana pembuangan massal air limbah yang disimpan di pembangkit nuklir Fukushima tidak bisa ditunda

DUNIA | 18 Oktober 2021

Mantan Presiden AS Clinton Pulang dari RS California

Mantan presiden Amerika Serikat (AS) Bill Clinton pada Minggu (18/10/2021) diizinkan pulang dari rumah sakit California Selatan.

DUNIA | 18 Oktober 2021


TAG POPULER

# Jembatan Gantung


# Merah Putih


# Piala Thomas


# Luhut Pandjaitan


# Kasus Covid-19



TERKINI
Persiapan Tersisa 8 Bulan, Wagub DKI Optimistis Formula E Berjalan Lancar

Persiapan Tersisa 8 Bulan, Wagub DKI Optimistis Formula E Berjalan Lancar

MEGAPOLITAN | 4 jam yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings