Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

IMF, Bank Dunia Mendorong Opsi Penukaran Utang dengan Proyek Hijau

Minggu, 11 April 2021 | 23:21 WIB
Oleh : Grace El Dora / EHD

Washington, Beritasatu.com - Gagasan untuk menghapuskan utang yang dimiliki oleh negara-negara miskin dengan imbalan investasi "hijau" yang ramah lingkungan semakin menguat pekan ini, selama pertemuan musim semi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Usulan nyata diharapkan pada waktu yang tepat untuk konferensi tingkat tinggi (KTT) iklim global pada musim gugur ini.

Negara-negara berpenghasilan rendah menghadapi krisis ganda, juga berada di bawah tekanan untuk membayar utang sementara masih menghadapi masalah lingkungan.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan pekan lalu, hal itu membuat negara-negara tersebut sangat rentan. Ia menambahkan, adalah masuk akal bagi dunia untuk mengejar apa yang disebut penukaran utang hijau (green debt-swap).

Seorang juru bicara Bank Dunia menggarisbawahi hal itu.

"Krisis Covid-19 telah mempersulit negara berkembang secara signifikan untuk menangani risiko yang meningkat, disebabkan oleh perubahan iklim,” dan bencana lingkungan, kata juru bicara itu, yang menolak disebutkan namanya.

Dengan anggaran yang sudah ketat, negara-negara ini harus menggunakan bantuan keuangan darurat untuk mengatasi masalah dari dampak pandemi yang parah dan krisis ekonomi yang diakibatkannya.

"Dengan memperbesar beban utang pemerintah, yang sudah mencapai rekor tertinggi pada masa krisis, hal itu telah membuat mereka memiliki lebih sedikit sumber daya untuk diinvestasikan dalam pemulihan yang juga akan menempatkan planet ini pada pijakan yang lebih berkelanjutan," juru bicara tersebut menjelaskan kepada AFP.

Opsi Kreatif

Sebuah kelompok kerja teknis diluncurkan pekan lalu untuk memeriksa apa yang disebutnya opsi kreatif untuk membantu negara-negara mengatasi tantangan simultan ini, menurut juru bicara Bank Dunia.

Adapun kelompok kerja tersebut dibentuk untuk menyatukan para perwakilan, tidak hanya dari IMF dan Bank Dunia, tetapi juga dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

"Pekerjaan ini baru saja dimulai. Tetapi kami pikir pendekatan proaktif sangat penting. Kita harus melihat erat pada bagaimana solusi potensial untuk tantangan iklim dan utang dapat diintegrasikan untuk mengatasi masalah pembangunan utama di zaman kita," ungkapnya.

Meskipun belum ada batas waktu untuk mengumumkan langkah-langkah konkret, semua pihak yang terlibat sudah menunjuk dengan jelas menuju KTT iklim COP26 yang akan diadakan November mendatang di Glasgow, Skotlandia.

"Kami akan bekerja sama dengan Bank Dunia dan pada COP26 kami akan memajukan opsi penukaran utang," Georgieva berkata. Ia juga menambahkankan, tergantung oleh kreditor dan debitur untuk memutuskan apakah akan mengambil bagian.

Pendiri dan CEO grup Meridiam Thierry Deau menilai, jika opsi green debt-swap dikejar, maka harus dikaitkan dengan persyaratan yang jelas untuk memastikan penghapusan utang pada kenyataannya mengarah pada peluncuran proyek-proyek hijau atau ramah lingkungan.

Meridiam adalah investor global dan manajer aset yang berbasis di Paris, mengkhususkan diri dalam pengembangan dan membiayai proyek infrastruktur.

Kesempatan Kerja

“Tanggung jawab utama atas keringanan utang ini ada di antara negara-negara yang berada di kedua sisi. Ada banyak basa-basi tentang topik ini dan saya pikir kita harus menghentikannya serta menciptakan kenyataan kemitraan yang sebenarnya,” kata dia.

IMF dan Bank Dunia juga harus mempertimbangkan keadaan buruk beberapa negara kepulauan dengan perekonomian pendapatan menengah yang menerima lebih sedikit dukungan ekonomi, tetapi menghadapi tantangan lingkungan yang menakutkan.

Ekonomi mereka yang sangat bergantung pada pariwisata merasakan pendapatan mengering, karena pandemi virus corona yang parah telah membatasi aktivitas perjalanan di seluruh dunia.

Pada saat yang sama, wilayah dataran rendah tersebut kerap menjadi korban peristiwa cuaca ekstrem, termasuk angin topan atau badai yang menghancurkan.

Georgieva mengatakan pekan lalu, kerentanan terhadap guncangan iklim harus diperhitungkan saat badan internasional mengalokasikan bantuan keuangan.

Dia juga menekankan, negara-negara yang meluncurkan proyek "hijau" dapat melihat manfaat tambahan dari peningkatan angka pekerjaan.

“Ada peluang untuk penciptaan lapangan kerja. Ambil saja, misalnya, energi terbarukan, tujuh pekerjaan banding satu di sektor energi batu bara tradisional," meskipun diperlukan sejumlah pelatihan.

"Begitu pula dengan reboisasi, menjaga degradasi lahan, ketahanan terhadap guncangan iklim, ini semua aktivitas padat karya. Pembuat kebijakan perlu memikirkannya sekarang," tuturnya. (afp/eld)



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Akhir 2021, Output Vaksin Covid-19 Tiongkok Capai 3 Miliar Dosis

Tiongkok kemungkinan akan memproduksi 3 miliar dosis vaksin Covid-19 pada akhir tahun 2021.

DUNIA | 11 April 2021

Pabrik dan Bank Ditutup, Ekonomi Myanmar Runtuh

Perekonomian Myanmar mengalami keruntuhan saat banyak pabrik dan bank ditutup pascakudeta.

DUNIA | 11 April 2021

PM Kamboja Hun Sen Ancam Penjara Pelanggar Karantina Covid-19

Perdana Menteri Kamboja Hun Sen mengancam para pelanggar karantina dengan hukuman penjara pada Sabtu (10/4/2021).

DUNIA | 11 April 2021

UEA Perkenalkan Astronaut Wanita Pertama

seorang wanita UEA terpilih sebagai salah satu dari dua kandidat untuk pelatihan yang dibantu NASA sebagai awak misi di luar angkasa.

DUNIA | 11 April 2021

Pemakaman Pangeran Philip Digelar 17 April, Meghan Tak Hadir

Upacara pemakaman Pangeran Philip, suami Ratu Elizabeth II dari Inggris, akan diadakan pada 17 April. Istana menyatakan Meghan tidak akan hadir.

DUNIA | 11 April 2021

Tiongkok Akui Efektivitas Vaksin Sinovac Tergolong Rendah

Pejabat pengendalian penyakit tertinggi Tiongkok mengakui efektivitas vaksin Covid-19 Sinovac tergolong rendah.

DUNIA | 11 April 2021

Didera Gelombang Ketiga Covid-19, Bangkok Rencanakan Bangun RS Darurat

Otoritas Bangkok berencana untuk membangun rumah sakit darurat di lapangan dengan 10.000 tempat tidur rumah sakit.

DUNIA | 11 April 2021

Vaksinasi Covid-19 di India Mendekati 100 Juta Dosis

India telah memberikan lebih dari 90 juta dosis vaksin virus corona di tengah gelombang kedua infeksi yang mematikan.

DUNIA | 11 April 2021

PM Inggris Tidak Akan Hadiri Pemakaman Pangeran Philip

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson tidak akan menghadiri pemakaman Pangeran Philip pada Sabtu (17/4/2021).

DUNIA | 11 April 2021

Dubes Myanmar di Berlin Menentang Junta Militer

Duta Besar Myanmar di Berlin, Chaw Kalyar menentang junta militer. Tetapi sikap sang diplomat memicu konsekuensi besar.

DUNIA | 11 April 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS