Setelah Sarkozy, Mantan PM Prancis Balladur Juga Didakwa Korupsi
Logo BeritaSatu

Setelah Sarkozy, Mantan PM Prancis Balladur Juga Didakwa Korupsi

Kamis, 4 Maret 2021 | 23:34 WIB
Oleh : Grace Eldora Sinaga / JAS

Paris, Beritasatu.com - Pengadilan Prancis akan segera menjatuhkan putusan terhadap mantan Perdana Menteri Edouard Balladur, atas skandal pembiayaan kampanye puluhan tahun lalu. Beberapa hari sebelumnya, mantan Presiden Nicolas Sarkozy dinyatakan bersalah atas tindak korupsi.

Balladur (91) dituduh menggunakan suap dari kesepakatan senjata pada 1990-an, dengan pemerintah Pakistan dan Arab Saudi membantu membiayai tawaran presiden dalam kasus yang telah melihat enam orang dijatuhi hukuman penjara.

Mantan menteri pertahanan Balladur, Francois Leotard (78) juga diadili. Kedua pria itu membantah tuduhan tersebut.

Jaksa penuntut telah menyerukan agar Balladur dijatuhi hukuman percobaan penjara satu tahun dan denda 50.000 euro (setara Rp 860 juta).

Balladur dan Leotard, keduanya sayap kanan, didakwa pada 2017 dengan keterlibatan dalam penyalahgunaan aset perusahaan atas penjualan kapal selam ke Pakistan dan kapal pengawal fregat ke Arab Saudi antara 1993 dan 1995.

Penyelidik menemukan sekitar 13 juta franc dalam suap dari kesepakatan tersebut, yang sekarangnya bernilai 2,8 juta euro setelah memperhitungkan inflasi.

Sebagian besar uang itu diduga telah disalurkan ke pencalonan Balladur pada 1995 untuk posisi presiden yang gagal, yang dia mulai saat masih menjabat sebagai perdana menteri di tahun-tahun terakhir kepresidenan Francois Mitterrand.

Kasus ini dikenal di Prancis sebagai kasus Karachi.

Hal ini terungkap selama penyelidikan pemboman 2002 di Karachi, Pakistan, menargetkan sebuah bus yang mengangkut insinyur Prancis. Lima belas orang tewas, termasuk 11 insinyur yang mengerjakan kontrak kapal selam. Jaringan teror Al-Qaeda awalnya dicurigai dalam serangan itu.

Tetapi fokus kemudian bergeser ke kesepakatan kapal selam, ketika para penyelidik mempertimbangkan apakah pemboman itu mungkin menjadi balas dendam atas keputusan mantan Presiden Jacques Chirac. Ia menghentikan pembayaran komisi untuk kesepakatan senjata, tidak lama setelah mengalahkan Balladur dalam pemilihan presiden.

Leotard dituduh telah menciptakan jaringan buram perantara, untuk kontrak yang ditandatangani Pakistan dan Arab Saudi.

Pada Senin (1/3), mantan presiden Sarkozy dinyatakan bersalah melakukan korupsi dan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara dalam keputusan yang mengejutkan Prancis.

Dia ditemukan telah membentuk pakta korupsi dengan pengacaranya Thierry Herzog, meyakinkan hakim untuk mendapatkan dan berbagi informasi tentang penyelidikan atas pembiayaan kampanye kepresidenan Sarkozy pada 2007.

Sarkozy (66) membantah tuduhan itu dan berjanji akan membersihkan namanya dengan banding.

Dalam dua wawancara Rabu (3/3), ia mengecam putusan tersebut dan mengatakan dirinya sedang mempertimbangkan untuk mengajukan keluhan ke pengadilan hak Eropa.

"Saya tidak pernah mengkhianati kepercayaan rakyat Prancis," Presiden Prancis dari 2007 hingga 2012 tersebut mengatakan kepada saluran TF1 pada saat wawancara Rabu malam waktu setempat.



Sumber: AFP


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

KJRI New York Luncurkan Indonesia Dangdut Coffee House

KJRIdi New York menggelar acara silaturahmi virtual dari Komunitas Dangdut Amerika Serikat (AS) sekaligus peluncuran Indonesian Dangdut Coffee House (IDCH).

DUNIA | 4 Maret 2021

Regulator Inggris Percepat Pembuatan Vaksin untuk Varian Baru Covid-19

Terdapat kekhawatiran bahwa sejumlah varian, yang ditemukan di Afrika Selatan dan Brasil, mungkin dapat mengurangi kemanjuran generasi perpertama vaksin.

DUNIA | 4 Maret 2021

Kemlu: KBRI Yangon Siaga 2, WNI Diminta Berdiam di Rumah

KBRI telah mengeluarkan imbauan agar WNI tetap tenang dan berdiam diri di tempat tinggal masing-masing.

DUNIA | 4 Maret 2021

Meghan Markle Tersangkut Kasus Bullying Anggota Staf Kerajaan

Istri Pangeran Harry ini disebut-sebut pernah mengintimidasi dua orang anggota staf kerajaan tersebut.

DUNIA | 4 Maret 2021

Tiongkok Jadi Ujian Geopolitik Terbesar AS

Antony Blinken menggambarkan Tiongkok sebagai "ujian geopolitik terbesar" abad ini.

DUNIA | 4 Maret 2021

Demi Euro dan Dolar, Venezuela Jual Cadangan Emas

Venezuela telah menjual cadangan emas negara untuk ditukar dengan uang euro dan dolar Amerika Serikat (AS).

DUNIA | 4 Maret 2021

PBB: Upaya Korut Bendung Covid-19 Perburuk HAM

Langkah-langkah drastis yang diambil oleh Korea Utara (Korut) untuk menahan laju penyebaran Covid-19 telah memperburuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM).

DUNIA | 4 Maret 2021

PM Kamboja Disuntik Dosis Pertama Vaksin Covid-19

Perdana Menteri Kamboja Samdech Techo Hun Sen pada Kamis (4/3) menerima dosis pertama vaksin Covid-19

DUNIA | 4 Maret 2021

Biden Kecam Pencabutan Aturan Wajib Masker Texas dan Mississippi

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada Rabu (3/3) mengecam pencabutan aturan wajib masker yang dilakukan gubernur Texas dan Mississippi

DUNIA | 4 Maret 2021

Interpol Bongkar Sindikat Vaksin Covid-19 Palsu di Tiongkok dan Afsel

Interpol berhasil membongkar sindikat jaringan vaksin Covid-19 di Tiongkok dan Afrika Selatan (Afsel).

DUNIA | 4 Maret 2021


TAG POPULER

# Sepeda Motor Masuk Tol


# Pemerasan Wali Kota


# KRI Nanggala


# Universitas Nusa Mandiri


# Larangan Mudik



TERKINI

Dampak Pandemi, Pemprov DKI Jakarta Hanya Tata 11 RW Kumuh

MEGAPOLITAN | 16 menit yang lalu










TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS