Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Penerapan AI Mampu Tingkatkan PDB Asia Tenggara Hingga US$ 1 T pada 2030

Jumat, 9 Oktober 2020 | 09:53 WIB
Oleh : Happy Amanda Amalia / PYA

Jakarta, Beritasatu.com – Hasil riset terbaru EDBI dan Kearney menunjukkan bahwa penerapan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Asia Tenggara mampu meningkatkan produk domestik bruto (PDB) di kawasan Asia Tenggara hingga US$ 1 triliun pada 2030.

Dalam hasil riset yang berjudul “Racing towards the future: artificial intelligence in Southeast Asia”, terungkap, meskipun penerapan AI masih dalam tahap awal di seluruh kawasan Asia Tenggara, tetapi lebih dari 70% responden yang terdiri dari pengguna, penyedia, dan investor telah memandang AI sebagai hal yang penting bagi masa depan Asia Tenggara. Para responden pun menyatakan penerapan AI perlu dipercepat.

AI adalah kesempatan dan juga tantangan bagi Asia Tenggara. Kendati AI dapat meningkatkan 10% hingga 18% PDB kawasan, hasil riset menunjukkan masih ada lima tantangan yang harus diatasi untuk meningkatkan ekonomi, mengatasi kesenjangan keterampilan di bidang AI, fragmentasi dan belum matangnya ekosistem AI, keterhambatan pengelolaan data, serta resistensi perusahaan dalam penerapan AI.

“Riset ini mengungkapkan bahwa Asia Tenggara dapat meraih keuntungan ekonomi yang signifikan apabila para pengguna dan penyedia di bidang AI dapat mempertajam fokus mereka dalam penggunaan contoh kasus tertentu. Selain itu, mereka juga harus fokus pada penggunaan dan pengembangan aplikasi yang dapat memberikan dampak bisnis secara positif serta berkelanjutan. Terbentuknya minat dan terciptanya lapangan pekerjaan di sektor ini akan menjadi sebuah momentum di masa yang akan datang. Disisi lain, para investor juga berperan sebagai katalisator efektif untuk mengendalikan pengembangan, penerapan, dan pertumbuhan AI di setiap wilayah,” demikian pemaparan CEO dan President EDBI Chu Swee Yeok, yang dikutip dari siaran pers Kamis (8/10).

AI sendiri sering diperlakukan sebagai solusi terefektif dalam suatu permasalahan, dan hasil riset ini mengungkapkan pentingnya fokus serta penggunaan kasus bisnis yang jelas sebelum menerapkan AI. Hal itu dibuktikan dari 80% potensi nilai AI yang diperoleh berdasarkan kurang dari 20% penggunaan kasus. Oleh karena itu, penting bagi perusahaan untuk dapat memprioritaskan kasus yang akan menerapkan AI. Mereka juga harus melibatkan seluruh stakeholders guna memastikan bahwa solusi AI yang diterapkan telah sesuai untuk menangani prioritas bisnis, dan mampu membawa dampak dalam waktu dekat.

Hasil riset juga mengindikasikan, bahwa Asia Tenggara tertinggal antara 2 hingga 3 tahun dari negara-negara maju dalam investasi AI. Negara di kawasan Asia Tenggara hanya menerima investasi untuk pengembangan AI sebesar US$ 2 per kapita antara 2015 dan 2019. Investasi ini tentunya sangat rendah apabila dibandingkan dengan investasi per kapita milik Amerika Serikat (AS) yang mampu mencapai nilai US$ 155, dan Tiongkok yang mencapai US$ 21.

Bahkan Singapura menjadi negara paling unggul di kawasan Asean yang mampu mencapai nilai investasi AI sebesar US$ 68 per kapita. Penerapan digitalisasi ekonomi dan pengembangan bisnis pada sektor jasa menjadikan Singapura sebagai negara yang dilihat sangat mampu memanfaatkan potensi penuh dari AI.

Selain itu, riset juga mengungkapkan pemanfaatan AI dalam bidang management revenue memperoleh perhatian 2-3 kali lebih banyak daripada management cost. Penerapan AI mampu memberikan pengaruh yang tinggi pada bidang marketing, sales dan supply chain. Hal ini berbeda dengan kawasan lain, yaitu Eropa dimana sekitar 70% perusahaannya lebih fokus menerapkan AI untuk produktivitas dan efisiensi. Masalah perbedaan fokus penerapan AI di setiap negara dipengaruhi oleh perbedaan kondisi sektoral, kematangan relatif infrastruktur AI, dan kesiapan suatu wilayah dalam penerapan AI.

Meskipun kesenjangan keterampilan dianggap sebagai penghalang dalam penerapan AI di Asia Tenggara, hasil riset menunjukkan bahwa persepsi tersebut terlalu berlebihan. Kesenjangan dapat segera tertutupi dengan tersedianya model dan penyedia yang cakap di bidang AI saat ini. Saat ini pun sudah banyak talenta sumber daya manusia (SDM) yang mampu meningkatkan keterampilan di bidang bisnis secara relevan.

Untuk mengoptimalisasi manfaat AI yang diperoleh di kawasan Asia Tenggara, riset ini memberikan rekomendasi bagi lima kelompok pemangku kepentingan yaitu pemerintah, perusahaan pengguna AI, penyedia dibidang teknologi dan AI, investor, dan akademisi. Penerapan rekomendasi ini diharapkan membantu mempercepat pengembangan AI serta memajukan 5 sektor utama yaitu manufaktur, ritel, jasa finansial, pemerintah, dan kesehatan di kawasan Asia Tenggara.

“Nilai AI tidak terletak pada teknologi, tetapi pada bagaimana AI dapat membantu bisnis untuk memecahkan suatu masalah dan menciptakan perubahan dalam waktu dekat. Hasil riset kami menekankan perlunya sebuah agenda perbaikan yang komprehensif baik dalam tingkat perusahaan maupun tingkat nasional untuk memperoleh rewards ekonomi jangka panjang yang menarik,” kata Nikolai Dobberstein, partner Kearney dan penulis hasil riset.

Sebagai informasi, riset dilakukan melalui sebuah survei terhadap lebih dari 110 pengguna, penyedia, dan investor yang bergerak dalam bidang AI. Selain itu, riset ini juga menuangkan hasil wawancara terhadap lebih dari 25 perusahaan dan lembaga pemerintah yang tersebar di Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Filipina.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA LAINNYA

Tingkat Inflasi Lebanon Lebih Buruk dari Zimbabwe dan Venezuela

Tingkat inflasi Lebanon lebih buruk daripada Zimbabwe dan Venezuela.

DUNIA | 22 September 2021

Taliban Minta Kesempatan Pidato di Majelis Umum PBB

Menlu Afghanistan dari pemerintah Taliban Suhail Shaheen telah meminta kesempatan untuk pidato di hadapan para pemimpin dunia pada pertemuan Majelis Umum PBB

DUNIA | 22 September 2021

Dampingi Presiden Bolsonaro di Sidang PBB, Menkes Brasil Positif Covid-19

Menteri Kesehatan Brasil Marcelo Queiroga terbukti positif Covid-19 beberapa jam seusai mendampingi Presiden Jair Bolsonaro di Sidang Majelis Umum PBB.

DUNIA | 22 September 2021

Indonesia Khawatir, Inisiatif AUKUS Bisa Tingkatkan Ketegangan di Indo-Pasifik

Kesepakatan AUKUS dianggap bertujuan untuk menyaingi kekuatan Tiongkok yang semakin meningkat di kawasan.

DUNIA | 22 September 2021

Gempa di Australia, KJRI: Tak Ada WNI Jadi Korban

KJRI di Melbourne menyampaikan bahwa sejauh ini tidak ada warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban dalam peristiwa gempa.

DUNIA | 22 September 2021

ADB Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi ASEAN

ADB memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara menjadi 3,1%. Padahal sebelumnya ADB memproyeksikan ekonomi Asia Tenggara tumbuh sebesar 4,4%.

DUNIA | 22 September 2021

Turun ke Jalan, Biksu di Thailand Sumbangkan Makanan untuk Warga Terdampak Pandemi

Misi mereka adalah untuk menyumbangkan makanan dan kebutuhan kepada orang-orang yang rentan terkena dampak pandemi Covid-19.

DUNIA | 22 September 2021

Bertemu Menlu Saudi, Retno Minta Kebijakan Umrah untuk Indonesia Ditinjau Ulang

Menlu Retno Marsudi bertemu Menlu Arab Saudi Faisal bin Farhan untuk melobi negara itu agar meninjau ulang kebijakannya terkait ibadah umrah.

DUNIA | 22 September 2021

Liburan Musim Gugur Saat Pandemi, Pariwisata Tiongkok Raup Rp 81 T

Industri pariwisata Tiongkok meraup pendapatan sebesar 37,1 miliar yuan (Rp 81,7 triliun) dalam tiga hari libur pertengahan musim gugur.

DUNIA | 22 September 2021

Sekjen PBB Tegur Dunia Terkait Distribusi Vaksin Covid-19 yang Tak Adil

Ia menyebutkan, ketidakadilan vaksin itu sebagai hal yang vulgar dan memberi dunia nilai “F dalam Etika".

DUNIA | 22 September 2021


TAG POPULER

# Rocky Gerung vs Sentul City


# Napoleon Bonaparte


# Anies Baswedan


# PPKM


# Bangga Buatan Indonesia



TERKINI
Pengacara Sebut Fatia dan Haris Azhar Kritik Luhut Sebagai Pejabat Publik

Pengacara Sebut Fatia dan Haris Azhar Kritik Luhut Sebagai Pejabat Publik

MEGAPOLITAN | 5 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings