NY Times Akan Pindahkan Kantor Perwakilan di Hong Kong ke Seoul

NY Times Akan Pindahkan Kantor Perwakilan di Hong Kong ke Seoul
Seorang demonstran pro-demokrasi Hong Kong, menunjukkan paspor Inggris miliknya saat berunjuk rasa menentang RUU Keamanan Nasional yang disetujui Parlemen Tiongkok, pekan lalu. (Foto: Istimewa)
/ WBP Rabu, 15 Juli 2020 | 16:49 WIB

Hong Kong, Beritasatu.com- New York Times akan memindahkan sebagian kantor perwakilannya di Hong Kong ke Seoul, korea Selatan ketika kekhawatiran muncul bahwa Undang-Undang Keamanan Nasional baru yang diberlakukan Tiongkok pada pusat keuangan dua minggu lalu akan mengekang media dan kebebasan lainnya di kota.

The Times mengatakan para karyawannya menghadapi tantangan dalam mendapatkan izin kerja dan akan memindahkan tim digital jurnalisnya, kira-kira sepertiga dari staf Hong Kong, ke ibukota Korea Selatan pada tahun berikutnya.

Langkah ini memberikan pukulan bagi status kota itu sebagai pusat jurnalisme di Asia. Hal itu terjadi ketika Tiongkok dan Amerika Serikat berselisih mengenai jurnalis yang bekerja di negara masing-masing.

Baca juga: Trump Teken Sanksi untuk Tiongkok atas Isu Hong Kong

Awal tahun ini, Beijing mengatakan bahwa para jurnalis tidak lagi diizinkan bekerja di Tiongkok daratan dan tidak dapat bekerja di Hong Kong.

"Mengingat ketidakpastian saat ini, kami membuat rencana untuk mendiversifikasi staf pengeditan kami secara geografis," kata juru bicara The Times kepada Reuters.

"Kami akan mempertahankan kehadiran kami di Hong Kong dan memiliki niat untuk mempertahankan jangkauan kami di Hong Kong dan Tiongkok".

Hong Kong kembali dari Inggris ke pemerintahan Tiongkok pada tahun 1997 dengan janji otonomi khusus, yang telah melestarikan tradisi kebebasan pers dan memungkinkan media internasional untuk menjadikan Hong Kong sebagai pusat jurnalisme mereka di Asia.

Undang-undang keamanan nasional yang baru, menghukum apa yang secara luas didefinisikan Tiongkok sebagai pemisahan diri, subversi, terorisme, dan kolusi dengan kekuatan asing, telah memicu kekhawatiran tentang kebebasan berbicara dan media.

Pihak berwenang bersikeras kebebasan itu tetap utuh, tetapi mengatakan keamanan nasional adalah garis yang tidak boleh dilanggar.

Pemimpin Hong Kong Carrie Lam mengatakan wartawan dapat melaporkan secara bebas di kota jika mereka tidak melanggar undang-undang keamanan.

Awal tahun ini, Washington mulai memperlakukan lima entitas media besar yang dikelola pemerintah Tiongkok sama dengan kedutaan asing, kemudian memangkas jumlah wartawan yang diizinkan bekerja untuk media pemerintah Tiongkok menjadi 100 dari 160, sebelumnya.

Sebagai pembalasan, Tiongkok mengatakan pihaknya mencabut akreditasi koresponden Amerika dengan New York Times, Wall Street Journal News Corp dan Washington Post yang mandatnya berakhir pada akhir 2020.

Beijing juga telah mengusir tiga koresponden Wall Street Journal yaitu dua warga Amerika dan seorang warga Australia.



Sumber: Reuters, Antara