“TikTok” Hapus 49 Juta Video yang Langgar Aturan

“TikTok” Hapus 49 Juta Video yang Langgar Aturan
Ilustrasi Aplikasi TikTok (Foto: Istimewa)
Natasa Christy Wahyuni / YS Senin, 13 Juli 2020 | 15:52 WIB

Beijing, Beritasatu.com - Perusahaan teknologi jaringan sosial asal Tiongkok, TikTok, Kamis (9/7/2020), menyatakan menghapus lebih dari 49 juta video yang telah melanggar aturannya selama periode Juli dan Desember 2019.

Sekitar seperempat dari video-video itu dihapuskan karena mengandung konten aktivitas seksual dan orang dewasa yang telanjang.

Laporan transparansi TikTok juga mengungkapkan 49 juta video yang dihapuskan mewakili kurang dari 1% dari seluruh video yang diunduh antara Juli-Desember 2019. Sebanyak 98,2% video yang dihapuskan terlihat dari mesin pembelajar atau moderator sebelum dilaporkan para pengguna.

Aplikasi berbagi video itu menambahkan telah memenuhi sekitar 480 dari 500 permintaan data dari pemerintah dan polisi. TikTok, yang bersikeras beroperasi secara independen di Beijing meskipun dimiliki Tiongkok, telah mendapat kecaman di Amerika Serikat (AS) dan India karena caranya dalam mengawasi konten yang dipakai miliaran orang.

Dalam laporannya, TikTok menyatakan 25,5% video yang dihapus berisi aktivitas sosial atau orang dewasa telanjang, 24,8% melanggar kebijakan perlindungan anak, seperti melibatkan anak dalam kejahatan atau mengandung perilaku meniru yang berbahaya, 21,5% memperlihatkan aktivitas ilegal atau “barang yang diatur”, 3% dihapuskan karena pelecehan atau perundungan, dan kurang dari 1% dihapuskan karena ujaran kebencian dan perlaku tidak otentik.

AS menyatakan sedang mengamati apakah akan mengeluarkan larangan penggunaan TikTok. Pada Senin (6/7), Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo menyatakan bahwa mengunduh TikTok akan menempatkan informasi pribadi warga di tangan Partai Komunis Tiongkok.

“Kami menganggap ini sangat serius. Kami tentu melihatnya,” kata Pompeo dalam wawancara di Fox News, Senin.

Sementara itu, pemerintah di India telah melarang penggunaan aplikasi itu, merujuk kekhawatiran keamanan di dunia maya.

TikTok dimiliki oleh perusahaan Tiongkok ByteDance. Aplikasi itu tidak tersedia di Tiongkok, tapi ByteDance mengoperasikan aplikasi serupa di sana yang disebut Douyin.

Pada Kamis, surat kabar AS, Wall Street Journal, mempublikasikan laporan bahwa perusahan itu sedang mempertimbangkan untuk membangun markas baru di luar Tiongkok.

“Ketika kami mempertimbangkan jalan terbaik ke depan, ByteDance sedang mengevaluasi perubahan kepada struktur perusahaan dari bisnis TikTok. Kami tetap berkomitmen penuh untuk melindungi privasi para pengguna kami dan keamanannya sembari membangun platform yang menginspirasi kreativitas dan membawa suka cita kepada ratusan juta orang di seluruh dunia,” kata TikTok melalui pernyataannya kepada media penyiaran Inggris, BBC.



Sumber: BBC