Gara-Gara Brexit, Hampir 15.000 Warga Inggris Pindah Jadi WN Jerman

Gara-Gara Brexit, Hampir 15.000 Warga Inggris Pindah Jadi WN Jerman
Heiko Maas (Foto: Istimewa)
Jeany Aipassa / JAI Jumat, 5 Juni 2020 | 12:27 WIB

Berlin, Beritasatu.com - Biro Statistik Federal Jerman, Rabu (3/6/2020), melaporkan sepanjang 2019, hampir 15.000 warga negara Inggris yang pindah menjadi warga negara Jerman. Hal itu, dipicu oleh keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) atau dikenal dengan istilah Brexit.

Dalam pernyataan pers yang dirilis Rabu (3/6/2020), Biro Statistik Federal Jerman menyatakan, pada 2019, sekitar 128.900 orang asing memperoleh kewarganegaraan Jerman, atau terjadi peningkatan 155 dibandingka tahun sebelumnya.

“Setengah dari jumlah peningkatan itu ternyata berasal dari proses naturalisasi warga negara Inggris,” demikian bunyi pernyataaan Biro Statistik Federal Jerman, di Berlin, Rabu.

Dijelaskan, sepanjang 2019, terdapat 14.600 warga negara Inggris yang dinaturalisasi menjadi warga negara Jerman. Angka tersebut jauh lebih tinggi daripada jumlah gabungan dua tahun sebelumnya, bahkan sebelum referendum Brexit pada 2015.

“Sebelum sebelum referendum Brexit pada 2015, kami mencatat hanya 600 warga negara Inggris yang dinaturalisasi menjadi warga negara Jerman,” bunyi pernyataan itu.

Inggris resmi meninggalkan Uni Eropa sejak 31 Januari lalu. Namun, pembicaraan mengenai bagaimana hubungan masa depan Inggris dengan blok itu melalui proses cukup panjang dan mengalami kebuntuan.

Sejumlah survei menunjukkan, banyak warga negara Inggris khawatir Brexit akan menyebabkan mereka kehilangan hak untuk tinggal dan bekerja di Jerman, ekonomi terbesar di Eropa, sehingga mendorong mereka untuk memiliki kewarganegaraan Jerman.

Saat Inggris masih menjadi anggota UE, warga negara Inggris bisa memiliki kewarganegaraan ganda, termasuk kewarganegaraan Jerman. Namun, seiring efektifnya Brexit, Jerman tidak mengakui status kewarganegaraan ganda bagi warga Inggris.

Warga negara asing diharuskan pernah tinggal di Jerman selama delapan tahun untuk bisa mengajukan aplikasi kewarganegaraan Jerman. Proses aplikasi itu sendiri memakan waktu lebih dari enam bulan. Hal itu, juga diberlakukan bagi warga Inggris sejak Brexit efektif.

Risiko

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman, Heiko Maas, mengatakan ada peningkatan risiko dari Brexit di tengah-tengah krisis pandemo virus corona (Covid-19), karena negosiasi antara Inggris dan UE tentang hubungan perdagangan di masa depan hampir tidak menunjukkan kemajuan.

Inggris meninggalkan Uni Eropa pada bulan Januari 2020, dan pembicaraan dengan blok tersebut sekarang difokuskan pada penetapan ketentuan perdagangan baru mulai 2021, ketika periode transisi status-quo London berakhir. Namun pembicaraan dengan cepat menemui jalan buntu ketika negosiasi dilanjutkan bulan lalu.

"Ini mengkhawatirkan bahwa Inggris semakin menjauh dari deklarasi politik yang disepakati bersama tentang masalah-masalah utama dalam negosiasi. Ini sama sekali tidak aktif, karena negosiasi adalah paket lengkap seperti yang tercantum dalam deklarasi politik," kata Maas kepada surat kabar Augsburger Allgemeine.

Menurut Maas, saat ini tidak ada landasan bersama tentang bagaimana membentuk kesepakatan perdagangan yang komprehensif, atau tentang apakah akan memperpanjang periode negosiasi setelah akhir tahun.

"Pemerintah Inggris masih menolak untuk memperpanjang tenggat waktu. Jika tetap seperti itu, kita harus berurusan dengan Brexit selain masalah corona, pada pergantian tahun," ujar Maas.

Menteri Luar Negeri Irlandia, Simon Coveney, mengatakan pandemi Covid-19 telah membuat pertemuan sulit dilakukan untuk mencapai kesepakatan perdagangan Inggris-UE, sehingga sangat masuk akal untuk memperpanjang batas waktu.



Sumber: Bloomberg, AFP, Suara Pembaruan