Uni Eropa Suram, ECB Proyeksi Ekonomi Terkontraksi 8,7%

Uni Eropa Suram, ECB Proyeksi Ekonomi Terkontraksi 8,7%
Christine Lagarde. (Foto: AFP)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Jumat, 5 Juni 2020 | 06:39 WIB

Brussel, Beritasatu.com - Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde dalam konferensi pers, Kamis (5/6/2020) mengatakan zona Uni Eropa menghadapi kontraksi yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat pandemi virus corona (Covid-19).

Bank sentral memperbarui perkiraan ekonomi di wilayah itu. "ECB memperkirakan ekonomi zona euro terkontraksi sebesar 8,7 persen pada 2020, sebelum menguat (rebound) tumbuh 5,2 persen pada 2021 dan 3,3 persen pada 2022," kata Lagarde.

Proyeksi ini lebih buruk dari perkiraan ECB sebelumnya yang dirilis Maret, yakni PDB Uni Eropa tahun 2020 masih tumbuh 0,8 persen.

Baca juga: Pulihkan Ekonomi, ECB Beli Obligasi Pandemi Jadi 1,35 Triliun Euro

Bank sentral juga mengatakan inflasi utama diperkirakan 0,3 persen pada 2020 dan 0,8 persen pada 2021, jauh di bawah mandat ECB untuk mendorong inflasi di bawah 2 persen.

Lagarde menjelaskan bahwa proyeksi itu tergantung durasi pandemi dan efektivitas kebijakan yang diambil di seluruh wilayah Uni Eropa.

Paket darurat bank sentral, yang juga mencakup langkah-langkah meningkatkan pinjaman bank, merupakan tambahan dari langkah yang diambil sebelum pandemi untuk meningkatkan rendahnya inflasi di zona tersebut. Ini termasuk pembelian bulanan obligasi pemerintah 20 miliar euro sebagai bagian pelonggaran kuantitatif yang diumumkan pada 2019.

Baca juga: Bank Sentral Eropa Diperkirakan Tambah Stimulus Covid-19

ECB juga mengumumkan pada Kamis untuk mempertahankan suku bunganya tidak berubah, seperti yang diharapkan. Tingkat operasi refinancing utama, fasilitas pinjaman marjinal dan fasilitas deposito masing-masing sebesar 0 persen, 0,25 persen dan -0,50 persen.

Itu terjadi setelah data mengungkapkan tingkat keparahan akibat krisis Covid-19 di Eropa. Tingkat pengangguran di zona euro naik menjadi 7,3 persen di bulan April, dari 7,1 persen pada Maret, karena lockdown sehingga pekerjaan terganggu.

Aktivitas bisnis di wilayah tersebut sedikit pulih setelah jatuh ke rekor terendah awal tahun ini. Aktivitas manufaktur dan jasa mencapai level tertinggi tiga bulan pada Mei, setelah beberapa ekonomi mulai dibuka kembali. Namun, masih ada kekhawatiran seputar kinerja ekonomi secara keseluruhan pada kuartal kedua 2020.

ECB sebelumnya memperingatkan bahwa ekonomi kawasan euro dapat mengalami kontraksi 15 persen dalam skenario terburuknya akibat krisis corona.



Sumber: CNBC