Vaksin Covid-19 Belum Ditemukan, Social Distancing Harus Berlaku Sampai 2022
Logo BeritaSatu

Vaksin Covid-19 Belum Ditemukan, Social Distancing Harus Berlaku Sampai 2022

Jumat, 15 Mei 2020 | 10:08 WIB
Oleh : Jeany Aipassa / JAI

Massachusetts, Beritasatu.com - Dengan belum ditemukannya vaksin virus corona (Covid-19), para ahli menyarankan pembatasan jarak sosial (social distancing) harus diberlakukan berulang sampai Tahun 2022. Langkah tersebut, harus dilakukan untuk mencegah kemungkinan pandemi global virus corona (Covid-19) yang lebih dasyat di tahun-tahun mendatang.

Dalam rangkuman makalah yang diterbitkan Journal Science, Rabu (13/5/2020), para ilmuwan memaparkan analisis yang menunjukkan kemungkinan ada kebangkitan pandemi Covid-19 pada 2025, karena belum adanya vaksin atau pengobatan yang efektif.

Terkait dengan itu, para ahli menyimpulkan bahwa pemberlakuan lockdown (penguncian) dan batasan jarak sosial tidak bisa dilakukan satu kali saja, tetapi harus berulang dalam periode tertentu, mengikuti perkembangan kasus Covid-19.

"Penguncian satu kali tidak akan cukup untuk membawa pandemi di bawah kendali, dan bahwa puncak sekunder pandemi (Covid-19, Red) bisa lebih besar dari yang terjadi saat ini tanpa pembatasan (jarak sosial, Red) secara bertahap," kata Marc Lipsitch, profesor epidemiologi di Harvard University dalam makalah penelitian yang dilakukan bersama rekan-rekannya.

Marc Lipsitch mengungkapkan, infeksi Covid-19 akan terus menyebar ketika ada dua hal, yakni orang yang terinfeksi dan orang yang rentan, kecuali jika sudah terbentuk kekebalan kelompok yang jauh lebih besar.

"Masalahnya, mayoritas populasi dunia masih rentan. Jadi memprediksi akhir pandemi di musim panas, lalu melonggarkan penguncian dan mengabaikan batasan jarak sosial sama sekali tidak konsisten dengan apa yang kita ketahui tentang penyebaran infeksi virus (Covid-19, Red),” ujar Marc Lipsitch.

Menurut Marc Lipsitch, meskipun beberapa negara telah melonggarkan dan mencabut kebijakan penguncian, batasan jarak sosial harus tetap diberlakukan untuk kelompok yang berisiko tinggi, termasuk kaum lanjut usia (lansia) di atas 70 tahun, karena sistem kekebalan tubuh yang menurun.

Hal itu dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19 dan menghindari pertambahan kasus yang dapat ditanggulangi oleh layanan kesehatan, mengingat risiko infeksi akan tetap terjadi sampai vaksin atau pengobatan yang efektif tersedia.

"Dengan tidak adanya ini (vaksin dan pengobatan efektif, Red), pembatasan jarak sosial yang berulang mungkin perlu dipertahankan hingga 2022," ujar Marc Lipsitch.

Para ahli juga memperingatkan kemungkinan siklus tahunan pandemi Covid-19, selama vaksin dan pengobatan efektif belum ditemukan. Diperkirakan, pandemi Covid-19 akan terus terjadi dalam lima tahun ke depan, sampai terbentuk kekebalan permanen kelompok manusia dan ditemukannya vaksin atau pengobatan yang efektif.

Jika seseorang memiliki kekebalan terhadap Covid-19 selama sekitar satu tahun, seperti yang terlihat pada beberapa kasus virus corona jenis lain yang bersirkulasi, maka siklus wabah tahunan akan menjadi hasil yang paling mungkin.

"Jika kekebalan permanen terbentuk, Covid-19 bisa menghilang selama lima tahun atau lebih setelah wabah pertama," ujar Marc Lipsitch.



Sumber: Journal Science, BBC, Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Pascaperang Dagang, AS-Tiongkok Kini Bersaing Temukan Vaksin Covid-19

Pascaperang dagang, Amerika Serikat dan Tiongkok kini bersaing untuk menjadi negara pertama yang menemukan vaksin virus corona (Covid-19).

DUNIA | 15 Mei 2020

Ingin Putus Hubungan? Komentar Trump Diejek Media Tiongkok

Komentar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memutus hubungan diplomatik dengan Tiongkok diejek media Negeri Tirai Bambu.

DUNIA | 15 Mei 2020

Bantah Kajian Medis, Trump Paksa Sekolah Dibuka

Trump pun memaksa para gubernur negara bagian untuk segera membuka kembali sekolah-sekolah yang telah diliburkan terkait pencegahan wabah virus corona

DUNIA | 15 Mei 2020

Akibat Pandemi, 6.000 Anak di Dunia Terancam Meninggal Per Hari

UNICEF memperingatkan, sekitar 6.000 anak di bawah usia 5 tahun dapat meninggal setiap hari selama enam bulan ke depan akibat wabah corona.

DUNIA | 15 Mei 2020

WNI Terinfeksi Bertambah di AS dan Saudi

Penambahan kasus corona terkonfirmasi berasal dari dua WNI di Amerika Serikat (AS) dan empat WNI di Arab Saudi.

DUNIA | 15 Mei 2020

Nenek 113 Tahun Asal Spanyol Kalahkan Covid-19

Maria Branyas, seorang perempuan berusia 113 tahun, yang diyakini sebagai orang tertua di Spanyol, berhasil sembuh dari Covid-19.

DUNIA | 15 Mei 2020

Trump Pertimbangkan Putus Hubungan Diplomatik dengan Tiongkok

Menurut Trump, AS bisa menyelamatkan US$ 500 miliar jika memutus hubungan sepenuhnya dengan Tiongkok.

DUNIA | 15 Mei 2020

Korban Jiwa Corona Tembus 300.000 Seluruh Dunia

Lebih dari seperempat jumlah korban jiwa global terjadi di Amerika Serikat.

DUNIA | 15 Mei 2020

Agustus 2020, Kematian Akibat Covid-19 di AS Diprediksi Capai 147.000 Jiwa

Para ahli dari John Hopkins University memperkirakan pembukaan kembali negara bagian yang terlalu cepat akan membuat 147.000 warga AS meninggal akibat Covid-19

DUNIA | 14 Mei 2020

AS Diam-Diam Investasi Penelitian Vaksin Covid-19 di Eropa

Amerika Serikat diam-diam menginvestasikan dana penelitian vaksin virus corona (Covid-19) di lembaga penelitian dan perusahaan farmasi terkemuka di Eropa

DUNIA | 14 Mei 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS