Pascaperang Dagang, AS-Tiongkok Kini Bersaing Temukan Vaksin Covid-19
Logo BeritaSatu

Pascaperang Dagang, AS-Tiongkok Kini Bersaing Temukan Vaksin Covid-19

Jumat, 15 Mei 2020 | 09:05 WIB
Oleh : Jeany Aipassa / JAI

Washington, Beritasatu.com - Pascaperang dagang, Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kini bersaing untuk menjadi negara pertama yang menemukan atau memperoleh keuntungan dari vaksin virus corona (Covid-19).

Hal itu, terungkap dari pernyataan beberapa lembaga penelitian dan perusahaan farmasi terkemuka dunia yang telah mendapat investasi dari AS dan Tiongkok untuk penelitian dan pengembangan vaksin Covid-19. Salah satunya adalah Sanofi, raksasa farmasi dari Prancis.

Kepala Eksekutif Sanofi, Paul Hudson, mengatakan AS berhak menjadi pihak pertama dalam jalur pasokan vaksin Covid-19 Sanofi, karena telah berinvestasi mendanai penelitian yang dilakukan Sanofi, sejak Februari 2020.

"Pemerintah AS memiliki hak atas pemesanan terbesar karena melakukan investasi tanpa memikirkan risiko (kerugian, Red) dan memperluas kemitraan dengan kami untuk penemuan vaksin Covid-19," ujar Paul Hudson.

Dia menjelaskan, kerja sama dengan AS dilakukan melalui Departemen Penelitian dan Pengembangan Biomedis Lanjutan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (BARDA) AS, yang memiliki hubungan jangka panjang dengan Sanofi dalam penelitian untuk obat-obatan dan vaksin.

Pada Desember 2019, BARDA AS telah mengucurkan dana sebesar US$ 226 juta atau sekitar Rp 3,372 triliun untuk meningkatkan kemampuan produksi vaksin pandemi influenza. Kerja sama itu dilanjutkan dengan penelitian untuk pengembangan vaksin Covid-19 pada Februari 2020.

Menurut Paul Hudson, selain AS, Sanofi juga menerima infestasi dari Tiongkok untuk mengembangkan vaksin virus corona. Untuk penelitian tersebut, Sanofi juga bermitra dengan pesaingnya di Inggris, GlaxoSmithKline Plc, pada proyek penelitian vaksin Covid-19 yang didukung AS. Jika berhasil menemukan virus korona, Sanofi menargetkan dapat menghasilkan 600 juta dosis vaksin per tahun, bahkan bisa digandakan.

"Jadi kedua negara ekonomi terbesar dunia tersebut akan mendapat vaksin (Covid-19) terlebih dahulu, jika kami menemukannya. Itulah sebabnya, sangat penting bagi negara-negara eropa untuk membuat langkah yang sama. Jangan sampai eropa tertinggal,” kata Paul Hudson.

Dia mengungkapkan, beberapa negara telah menawarkan untuk berbagi risiko keuangan dalam penelitian dan pengembangan vaksin Covid-19 yang sedang dilakukan Sanofi. Perusahaan farmasi itu, kini mendapat panggilan diskusi dari berbagai negara.

AS gencar melakukan investasi untuk penelitian vaksin corona di sejumlah lembaga farmasi terkemuka, baik di dalam maupun luar negeri. Selain Sanofi, AS juga menjalin kerja sama dengan AstraZeneca Plc, yang melakukan penelitian vaksin Covid-19 bersama Universitas Oxford, Inggris.

Di dalam negeri, pemerintah AS juga bekerja sama dengan Johnson&Johnson (JJ) dan Moderna Inc. BARDA AS telah mengucurkan US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,921 triliun kepada JJ dan Moderna untuk pembiayaan bersama penelitian vaksin corona.

Langkah yang sama juga dilakukan Tiongkok yang menjalin kerja sama dengan beberapa negara untuk penelitian dan pengembangan vaksin corona, antara lain dengan Kanada. Tiongkok telah mengirim sampel darah pasien Covid-19 untuk diuji coba di Kanada. Sebaliknya, Perusahaan Tiongkok mengajukan aplikasi untuk dapat melakukan uji klinis ke lembaga Health Canada.

Pengamat memperkirakan negara mana pun yang berhasil membawa vaksin corona ke pasar untuk pertama kalinya, kemungkinan akan mengklaim kepemilikan atas beberapa proses distribusi, sehingga dipastikan akan mendapat keuntungan besar karena corona telah menjadi pandemi global.



Sumber: Suara Pembaruan, Bloomberg, Xinhua


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Ingin Putus Hubungan? Komentar Trump Diejek Media Tiongkok

Komentar Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk memutus hubungan diplomatik dengan Tiongkok diejek media Negeri Tirai Bambu.

DUNIA | 15 Mei 2020

Bantah Kajian Medis, Trump Paksa Sekolah Dibuka

Trump pun memaksa para gubernur negara bagian untuk segera membuka kembali sekolah-sekolah yang telah diliburkan terkait pencegahan wabah virus corona

DUNIA | 15 Mei 2020

Akibat Pandemi, 6.000 Anak di Dunia Terancam Meninggal Per Hari

UNICEF memperingatkan, sekitar 6.000 anak di bawah usia 5 tahun dapat meninggal setiap hari selama enam bulan ke depan akibat wabah corona.

DUNIA | 15 Mei 2020

WNI Terinfeksi Bertambah di AS dan Saudi

Penambahan kasus corona terkonfirmasi berasal dari dua WNI di Amerika Serikat (AS) dan empat WNI di Arab Saudi.

DUNIA | 15 Mei 2020

Nenek 113 Tahun Asal Spanyol Kalahkan Covid-19

Maria Branyas, seorang perempuan berusia 113 tahun, yang diyakini sebagai orang tertua di Spanyol, berhasil sembuh dari Covid-19.

DUNIA | 15 Mei 2020

Trump Pertimbangkan Putus Hubungan Diplomatik dengan Tiongkok

Menurut Trump, AS bisa menyelamatkan US$ 500 miliar jika memutus hubungan sepenuhnya dengan Tiongkok.

DUNIA | 15 Mei 2020

Korban Jiwa Corona Tembus 300.000 Seluruh Dunia

Lebih dari seperempat jumlah korban jiwa global terjadi di Amerika Serikat.

DUNIA | 15 Mei 2020

Agustus 2020, Kematian Akibat Covid-19 di AS Diprediksi Capai 147.000 Jiwa

Para ahli dari John Hopkins University memperkirakan pembukaan kembali negara bagian yang terlalu cepat akan membuat 147.000 warga AS meninggal akibat Covid-19

DUNIA | 14 Mei 2020

AS Diam-Diam Investasi Penelitian Vaksin Covid-19 di Eropa

Amerika Serikat diam-diam menginvestasikan dana penelitian vaksin virus corona (Covid-19) di lembaga penelitian dan perusahaan farmasi terkemuka di Eropa

DUNIA | 14 Mei 2020

PM Inggris: Vaksin Covid-19 Mungkin Tak Akan Ditemukan

Perdanan Menteri Inggris, Boris Johnson, mengatakan vaksin virus corona (Covid-19) mungkin 'tidak akan pernah ditemukan'.

DUNIA | 14 Mei 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS