Pesan Warga Wuhan: Ini Bukan Perampasan Kebebasan, Tapi Cara Ilmiah Lawan Wabah

Pesan Warga Wuhan: Ini Bukan Perampasan Kebebasan, Tapi Cara Ilmiah Lawan Wabah
Seorang petugas medis dari Provinsi Jilin (kanan) menangis ketika memeluk seorang perawat dari Wuhan setelah mereka bekerja dalam satu tim selama periode wabah Covid-19, dalam upacara perpisahan di Bandara Tianhe di Wuhan, Provinsi Hubei, 8 April 2020. (Foto: AFP)
Heru Andriyanto / HA Rabu, 8 April 2020 | 14:30 WIB

Beritasatu.com – Setelah hampir tiga bulan seluruh Wuhan diisolasi akibat wabah virus corona, akhirnya warga kota itu boleh keluar dari rumah masing-masing dan bahkan bepergian ke kota lain mulai Rabu (8/4/2020).

Mereka juga tahu bahwa ketika mereka mulai menghirup udara kebebasan, warga di berbagai kota lain di dunia justru sedang menjalani masa berat yang baru saja mereka lewati.

“Jika Anda merasa gelisah, tertekan dan marah, itu hal yang normal. Lockdown jangan diartikan sebagai perampasan kebebasan, ini merupakan metode ilmiah untuk melawan suatu penyakit menular sehingga nantinya Anda bisa mendapatkan kebebasan itu lagi,” kata seorang perempuan dalam video kompilasi yang dihimpun BBC.

Video tersebut berisi testimoni sejumlah warga yang selama periode lockdown atau karantina wilayah harus terus berada di rumah atau apartemen selama dua bulan lebih, agar virus tersebut tidak makin menyebar.

“Saya berharap semua orang bisa belajar dari Wuhan, sehingga tidak perlu ada pengorbanan sebesar kami dan makin sedikit kesalahan yang dilakukan,” kata yang lainnya. BBC tidak mencantumkan identitas orang-orang yang bicara di video tersebut.

Kota berpenduduk 11 juta itu merupakan sumber pandemik virus corona yang kemudian diberi nama Covid-19 oleh WHO.

“Jika menengok beberapa bulan ke belakang, itu merupakan periode sangat penting dalam hidup kami. Memori yang sangat berharga tetapi juga mengerikan,” kata seorang wanita lainnya.

Warga Berjasa karena Tetap di Rumah
Seorang warga lain memuji langkah cepat pemerintah untuk segera menerapkan lockdown di Wuhan meskipun awalnya menimbulkan kemarahan dan membuat banyak warga kota menjadi sengsara. Sekarang, mereka sudah berada di tahap akhir perang melawan virus ini ketika banyak wilayah lain di dunia baru mulai berjuang dan masih jauh dari puncaknya.

“Alih-alih menyebut lockdown ini sebagai sebuah ‘pengorbanan’, saya justru ingin mengatakan bahwa kota ini telah melakukan yang terbaik untuk melawan wabah bersama seluruh negeri. Semua orang yang tetap tinggal di rumah telah berjasa,” ujarnya.

Di awal masa karantina, pasokan bahan pokok ke Wuhan terhenti, dokter dan perawat juga sampai mengemis di internet agar pasokan medis segera dikirim. Jangankan penanganan dokter, dipan rumah sakit pun tidak tersedia bagi begitu banyak pasien yang jumlahnya melonjak secara tiba-tiba.

Namun, secara bertahap pasokan bahan pokok, alat medis, obat-obatan dan tenaga medis mulai berdatangan ke Wuhan dari berbagai penjuru di Tiongkok. Jumlah kasus baru per hari juga ikut turun.

Warga Wuhan sekarang menyaksikan dunia tengah menghadapi masalah mereka dulu.

“Ini mirip seperti yang terjadi di Wuhan pada akhir Januari dan awal Februari. Saya bisa paham keputusasaan yang mereka rasakan sekarang,” kata seorang warga.

Pengalaman Berkesan
Masa karantina menciptakan banyak kenangan tak terlupakan bagi warga yang tiba-tiba harus melupakan semua kegiatan normal harian, seperti ke kantor, belanja ke pasar, atau sekedar jalan-jalan.

“Keluarga saya Muslim, dan sangat sulit mendapatkan makanan halal selama pandemik ini. Akhirnya kami berhasil membeli satu boks pastel halal dan seorang rekan sesama Muslim mengantar boks itu ke rumah, dan isinya sangat berat. Kami begitu terharu,” ujar seorang warga.

Sepasang suami istri akhirnya harus terus berkumpul di apartemen karena karantina tersebut.

“Sangat jarang bagi pasangan seperti kami untuk bisa terus bersama selama 24 jam sehari selama berbulan-bulan, jadi kelemahan masing-masing makin terlihat. Jangan bertengkar atau saling mendiamkan kalau ada masalah,” kata si suami.

“Juga, ketika Anda bekerja dari rumah, harus dipisahkan antara urusan pekerjaan dan pribadi.”

Untuk mengatasi masalah akibat pembatasan sosial ini, mereka rajin menelepon kerabat di wilayah-wilayah lain yang tidak terdampak.

“Mereka pasti khawatir dengan kondisi kita, jadi harus sering-sering diberi kabar,” ujarnya.



Sumber: BBC