Corona Diprediksi Akan Tewaskan Hingga 200.000 Warga Amerika

Corona Diprediksi Akan Tewaskan Hingga 200.000 Warga Amerika
Presiden Donald Trump (kiri) menunjuk ke grafik kasus Covid-19 didampingi Direktur Institut Nasional Bidang Alergi dan Penyakit Menular Anthony Fauci (kanan) di Gedung Putih, Washington DC, 31 Maret 2020. (Foto: AFP)
Heru Andriyanto / HA Rabu, 1 April 2020 | 08:10 WIB

Beritasatu.com – Satuan tugas penanganan wabah virus corona Amerika Serikat menyampaikan prediksi yang dibuat para pakar bahwa korban jiwa akibat wabah tersebut akan mencapai angka 100.000 hingga 200.000.

Dalam jumpa pers yang dihadiri Presiden Donald Trump di Gedung Putih, Selasa (31/3/2020) malam waktu setempat atau Senin pagi WIB, satgas Covid-19 mengatakan prediksi itu dibuat berdasarkan asumsi bahwa warga mematuhi protokol kesehatan, salah satunya untuk tetap menjaga jarak dengan yang lain.

Jika protokol itu dipatuhi, angka kematian bisa “ditekan” ke kisaran 100.000 hingga 200.000, yang juga “masih sangat besar angkanya,” kata Dr Deborah Birx, koordinator Satgas Covid-19 Gedung Putih.

Birx merujuk pada tingkat kasus di Washington dan California yang jauh lebih rendah dibandingkan New York, artinya bahwa jumlah kasus bisa ditekan jika warga betul-betul patuh.

"Saya tahu ini permintaan yang sulit," ujarnya.

"Saya tahu sangat sulit untuk mematuhi panduan, namun lebih sulit lagi bagi para tentara yang berada di garis depan,” kata Birx, merujuk pada para petugas kesehatan Amerika yang kewalahan menangani banyaknya pasien Covid-19, nama resmi penyakit menular ini.

"Tidak ada vaksin atau terapi ajaib [penangkal virus corona]. Ini cuma soal perilaku – setiap tindakan kita bisa membawa perubahan pada tingkatan pandemik ini dalam 30 hari ke depan."

Baca juga: Kapal Induk Amerika Terjangkit Wabah Corona dan Menyebar Cepat

Dr Anthony Fauci, pakar Amerika di bidang penyakit menular, mengatakan bahwa satgas Covid-19 akan melakukan yang terbaik agar bisa menekan jumlah kematian jauh di bawah prediksi tersebut.

"Angka itu memang membuat sedih, tetapi kita harus siap menghadapinya. Apakah benar bakal sebanyak itu? Saya harap tidak, dan makin keras kita melakukan upaya-upaya mitigasi, makin besar peluang angka itu bisa lebih kecil,” kata Fauci dalam jumpa pers yang sama.

"Namun secara realistis, kita perlu mempersiapkan diri. Ini akan sulit, tidak ada yang bisa membantah bahwa kita tengah memasuki era yang sangat sulit sekarang ini," kata Fauzi.

Baca juga: Pertama Kalinya, 700 Tewas dalam Sehari Akibat Corona di AS

Upaya-upaya mencegah penularan virus ini akan diterapkan hingga 30 hari ke depan dan berlaku untuk semua warga Amerika, ujarnya.

Menurut Fauci, jatuhnya korban jiwa bisa berlanjut hingga Juni, meskipun nantinya laju penyebaran virus ini akan menurun drastis.

Angka korban minimal 100.000 itu pun sudah didasarkan pada sejumlah upaya mitigasi yang telah diberlakukan, kata Fauci, pria yang menjadi pusat rujukan di AS sejak pandemik virus corona ini terjadi.

Koordinator Satgas Covid-19 Gedung Putih, Deborah Birx (kiri), dan Direktur Institut Nasional Bidang Alergi dan Penyakit Menular Anthony Fauci. (AFP)

Bisa Jutaan Korban
Sementara itu, Presiden Trump mengatakan bahwa tanpa upaya-upaya mitigasi, korban jiwa di Amerika bisa mencapai 1,5 juta orang.

“Pertanyaannya, ‘apa yang akan terjadi seandainya kita tidak melakukan apa-apa, dan memutuskan kita jalani saja?’,” ujar Trump.

“Itu tidak boleh kita lakukan karena menurut simulasi jika tidak ada upaya mitigasi sama sekali jumlah [korban jiwa] akan mencapai 1,5 juta hingga 2,2 juta, atau malah lebih," kata Trump.

Presiden melanjutkan bahwa prediksi itu memilukan, terutama angka 100.000 yang disebut sebagai "angka minimal".

"Seratus ribu, menurut simulasi, adalah angka yang sangat rendah,” kata Trump.

Baca juga: Lampaui Tiongkok, Kematian Akibat Corona di AS Tembus 3.807 Orang

Dia juga mengatakan banyak orang bertanya kalau Covid-19 setara dengan flu, "dan saya juga bertanya hal yang sama ".

"Namun, ini bukan flu, ini sesuatu yang jahat," tandasnya.

Ironisnya, Trump sendiri pernah menyampaikan pendapat serupa. Presiden pernah menyebut bahwa Covid-19 akan segera berlalu seperti flu musiman. Pada 24 Maret, dalam wawancara dengan Fox News dia mengatakan "Kita tidak pernah menutup negara ini hanya gara-gara flu.”



Sumber: BBC