Trump Dinilai Gagal Tanggapi Wabah Virus Corona

Trump Dinilai Gagal Tanggapi Wabah Virus Corona
(Kiri ke kanan) Koordinator Respons Virus Corona Gedung Putih Duta Besar Debbie Birx, Wakil Presiden Mike Pence, Presiden AS Donald Trump, Menteri Kesehatan AS Alex Azar, Emma Walmsley, CEO Glaxo SmithKline bersama pertemuan lainnya di Ruang Kabinet Gedung Putih di Washington, DC pada 2 Maret 2020. ( Foto: MANDEL NGAN / AFP) )
Natasia Christy Wahyuni / FER Sabtu, 28 Maret 2020 | 22:03 WIB

Washington, Beritasatu.com - Amerika Serikat (AS) saat ini tercatat memiliki kasus infeksi virus corona atau coronavirus disease 2019 (Covid-19) tertinggi di dunia, mencapai 104.837 kasus per Sabtu (28/3/2020) berdasarkan data dari Johns Hopkins University. Adapun jumlah kematian akibat virus corona di AS setidaknya mencapai 1.500 orang.

Baca Juga: Donald Trump Teken Stimulus Virus Corona US$ 2 T

Terkait hal itu, Profesor dan Direktur Pusat untuk Pembangunan Berkelanjutan di Universitas Columbia, Jeffrey Sachs, mengatakan, Presiden AS, Donald Trump, bertanggung jawab langsung atas ketidaksiapan dan kegagalan AS dalam menanggapi wabah tersebut.

Menurut Sachs, Trump secara sistematis membongkar perlindungan sistem kesehatan masyarakat sejak berkuasa. Trump juga membubarkan tim pengendali wabah di bawah Pusat untuk Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) yang ada di 39 negara, termasuk Tiongkok.

"Ketika wabah melanda, Trump mengabaikannya, meremehkannya, dan berulang kali membuat klaim palsu. Bahkan sekarang, dia menyuarakan omong kosong tentang memulai kembali ekonomi saat Paskah di saat para pakar kesehatan mengatakan ancaman akan bertahan lebih lama,” kata Sachs lewat tulisan opininya seperti dilansir CNN, Jumat (27/3/2020).

Menurut Sachs, warga AS telah menderita dan sekarat karena pemerintahan Trump gagal bertindak cepat dan tegas untuk mencegah penyebaran virus corona. Pada Kamis (26/3/2020) lalu, AS melihat peningkatan lebih dari 15.000 kasus dalam sehari, dan menjadi lonjakan mengejutkan setelah tindakan pencegahan dan pengujian kasus corona hanya dilakukan dalam jumlah minim. "Krisis ini sangat mengerikan dan merupakan kegagalan luar biasa Presiden Donald Trump,” ujar Sachs.

Baca Juga: Donald Trump Kembali Remehkan Ancaman Covid-19

Sachs menjelaskan, terdapat perbedaan mendasar antara Tiongkok dan AS. Tiongkok berhasil memutus penyebaran virus dengan melalukan tindakan karantina wilayah atau lockdown saat virus pertama kali terdeteksi di Wuhan pada 23 Januari 2020. Sedangkan, AS tidak memutus wabah tersebut.

Sachs mengatakan, jika Trump memilih jalannya dengan melonggarkan panduan tetap di rumah sampai Paskah, maka AS akan gagal menghentikan wabah tersebut dan jutaan orang lagi dipastikan bakal terinfeksi.

"Bahkan dengan kontrol aktif, kita mungkin menghadapi sekitar 81.000 kematian sampai Juli berdasarkan analisis detil terbaru dari Institut untuk Metrik Kesehatan dan Evaluasi di Unviersitas Washington, Seattle," tegasnya.

Sachs menambahkan, sejak kasus virus corona terkonfirmasi pertama kalinya, negara-negara Asia Timur langsung bertindak. Negara-negara itu memiliki pengalaman dalam wabah SARS dan mempunyai tim kesehatan publik untuk mewaspadai epidemi baru.

Baca Juga: Trump Klaim FDA Setujui Klorokuin Obat Corona

"Namun lebih dari dua bulan kemudian, jumlah kasus terkonfirmasi di ASm eroket, dengan lebih dari 250 kasus per satu juta orang, jauh lebih tinggi dibandingkan Tiongkok, yang memiiki sekitar 57 kasus per satu juta, Hong Kong 60, Taiwan 11, Singapura 117, Jepang 11, dan Korea 180," tandas Sachs.



Sumber: BeritaSatu.com