Korban Tewas Corona di Italia Lebih 2 Kali Lipat Tiongkok, Ini Pemicunya

Korban Tewas Corona di Italia Lebih 2 Kali Lipat Tiongkok, Ini Pemicunya
Seorang pekerja medis menggunakan alat pelindung membantu pasien corona (Covid-19) di rumah sakit Casal Palocco dekat Roma, Italia. (Foto: AFP/Alberto Pizzoli)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Jumat, 27 Maret 2020 | 15:23 WIB

Roma, Beritasatu.com - Demografi, perilaku sosial dan kapasitas pengujian yang lebih rendah hanya beberapa alasan Italia dan Spanyol memiliki jumlah kematian tertinggi di dunia akibat virus corona. Demikian diungkapkan para pakar kesehatan kepada CNBC.

Italia telah melaporkan jumlah kematian akibat corona lebih dari dua kali lipat dibanding Tiongkok, negara pertama kali virus muncul pada akhir 2019. Hingga Jumat (27/3/2020) sore pukul 15.00 WIB, ada 8.215 kematian di Italia, sementara di Tiongkok sebanyak 3.292 kematian, menurut data Worldometers.

Baca juga: 42% Kasus Covid-19 Berasal dari 5 Negara Eropa

Pada saat yang sama, angka kematian di Spanyol meningkat tajam dalam beberapa hari terakhir dan saat ini mencapai 4.365, jauh di atas Tiongkok. Sementara secara global, ada 24.114 kematian dengan 536.478 positif corona dan 124.395 dinyatakan sembuh.

Angka kematian yang mengkhawatirkan di Eropa ini menimbulkan pertanyaan apa pemicunya. Dua ahli kesehatan kepada CNBC mengatakan ada beberapa alasan.

Respon lambat
"Banyak penyebaran terjadi sebelum orang menyadari (virus ada)," kata ahli imunologi dari University of Reading, Alexander Edwards, mengatakan kepada CNBC Kamis (26/3/2020) tentang situasi di Italia.

Dia menjelaskan bahwa di sebagian besar negara-negara Eropa, orang menganggap wabah adalah masalah di tempat lain. Sikap awal seperti ini menyebabkan virus menyebar dengan cepat seperti yang terjadi di Italia dan Spanyol.

Wilayah Wuhan di Tiongkok, episentrum virus itu telah diisolasi (lockdown) dari seluruh dunia sejak pertengahan Januari 2020. Sebagian wilayah akan dibuka pada awal April, mengingat tidak ada kasus baru selama beberapa hari terakhir.

Baca juga: Salip Tiongkok, Jumlah Kasus Virus Corona di AS Terbanyak di Dunia

Ternyata extreme lockdown (penguncian ketat) berdampak positif. Namun saat itu keputusan mengkarantina 11 juta orang untuk tinggal di rumah tampaknya terlalu drastis bagi banyak orang, dan disanksikan kesuksesannya.

Sementara Italia menerapkan langkah lockdown pertama pada akhir Februari 2020, di 11 kota di bagian utara negara itu. Lockdown secara nasional dilakukan pada 9 Maret. "Italia sedikit ketinggalan," kata Edwards kepada CNBC.

Kapasitas pengujian
Ahli epidemiologi Universitas Warwick, Michael Tildesley, mengatakan kepada CNBC Kamis bahwa tingkat kematian di sebha negara terkait dengan berapa banyak orang yang diuji untuk mengetahui virus tersebut. Pada dasarnya, semakin banyak orang yang dites, otoritas akan mendapat data lebih baik guna merespons wabah itu.

Akibatnya, di negara dengan banyak orang diuji, seperti Tiongkok jumlah kematian tidak setinggi di Italia dan Spanyol, di mana hanya warga menunjukkan gejala corona yang dites.

Edwards menambahkan bahwa di Tiongkok orang yang teridentifikasi positif corona diisolasi dalam sistem kesehatan, bukan di rumah seperti yang terjadi di Italia.

Populasi
Menurut Edward, ada beberapa faktor tingginya risiko kematian akibat corona di Italia. Dia menjelaskan bahwa kelompok pertama yang terkena virus di negara ini adalah orang tua.

Data Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) menunjukkan bahwa Italia memiliki populasi usia tua dua besar di dunia, setelah Jepang. Mereka yang berusia di atas 60 diyakini berisiko lebih tinggi terserang virus ini sehingga menimbulkan kematian.

"Setiap hari Minggu, (orang muda Italia) pergi menemui kakek-nenek mereka, mereka mencium mereka, mereka pergi ke gereja atau makan bersama," kata Edwards kepada CNBC, menambahkan bahwa kontak dengan orangtua ini membantu menyebarkan virus ke seluruh Italia.

Meski Spanyol tidak memiliki populasi orangtua di dunia, corona juga memukul kelompok usia ini. Data pemerintah Spanyol menunjukkan bahwa kelompok umur dengan jumlah kasus terbanyak adalah 50-59 tahun; 70-79 tahun; dan di atas 80.

Selain itu, Spanyol memiliki budaya keluarga yang mirip dengan Italia. Menurut para ahli bahwa kontak antara kaum muda dan orang tua telah berkontribusi tingginya jumlah kematian di dua negara itu. "Sebagian darinya juga bersifat budaya," kata Tildesley, dari Universitas Warwick.



Sumber: CNBC