Pasien Virus Corona "Lolos" dari Wuhan, Tiongkok Perketat Pengawasan

Pasien Virus Corona
Penumpang kereta di Tiongkok menggunakan masker sebagai alat perlindungan terhadap virus pneumonia di Kota Wuhan. ( Foto: istimewa )
/ FMB Kamis, 27 Februari 2020 | 10:12 WIB

Beijing, Beritasatu.com - Kabar mengenai lolosnya pasien virus corona dari karantina kota Wuhan di Tiongkok dengan mudah membuat kekhawatiran akan meluasnya penyebaran virus Covid-19 menguat.

Pekan ini, seorang perempuan bermarga Huang bisa mengemudikan mobil bersama keluarganya dalam waktu tempuh sekitar 24 jam untuk melakukan perjalanan Wuhan-Beijing.

Kenapa dia bisa lolos dari Wuhan dan dengan leluasanya bisa melakukan perjalanan dengan keluarganya ke Beijing? Bukankah pengamanan di Wuhan sangat ketat?

Sejumlah media di Tiongkok mendapati bahwa Huang telah berada di permukiman penduduk di Distrik Dongcheng, Beijing, pada Senin (24/2/2020).

Dia tiba dari Wuhan sejak Sabtu (22/2/2020), kemudian memeriksakan diri karena sempat mengalami demam dan sakit tenggorokan sejak 18 Februari, demikian pernyataan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Beijing (BCDPC).

Otoritas pemerintahan di Hubei langsung menggelar investigasi atas kasus tersebut pada Rabu (26/2/2020) atas dasar pemberantasan wabah Covid-19 adalah dengan menutup semua akses keluar-masuk Wuhan.

Seorang narasumber yang dikutip laman berita Yicai mengungkapkan bahwa perempuan tersebut merupakan pasien karantina yang baru saja dibebaskan dari Wuhan. Huang didiagnosis terpapar Covid-19 saat masih berada di Wuhan.

Setelah bebas, dia dijemput keluarganya untuk dibawa pulang ke Beijing dengan menggunakan kendaraan pribadi.

Persoalan wabah di Wuhan dan Hubei itu masih sangat kompleks dan jika penyebaran virus tidak dikekang, maka berbagai upaya yang dilakukan sebelumnya akan sia-sia sehingga virus pun kembali berjangkit, demikian pendapat pakar kesehatan yang dikutip Global Times.

Seorang staf Dinas Lalu Lintas Jalan Raya Kota Wuhan mengatakan bahwa warga Wuhan harus mengajukan permohonan terlebih dahulu kepada otoritas setempat. Kalau permohonannya disetujui, maka yang bersangkutan bisa meninggalkan kota itu. Hanya pemohon dengan kondisi tertentu dan bertujuan khusus yang diizinkan meninggalkan Wuhan.

Agar semua tindakan isolasi benar-benar diterapkan di Wuhan dan Hubei, Ketua Partai CPC Provinsi Hubei yang baru Ying Yong pada Selasa (25/2/2020) menekankan pentingnya memperketat lagi arus keluar-masuk Wuhan dan Hubei.

Beberapa kota di provinsi itu juga melakukan pembatasan yang sangat ketat terhadap setiap kendaraan yang hendak keluar wilayah.

Ribuan Orang Tinggalkan Wuhan?
Sempat berembus isu bahwa hampir 2.000 orang dalam jangka waktu tiga jam telah meninggalkan Wuhan menuju Changsha, Ibu Kota Provinsi Hunan yang bertetangga dengan Provinsi Hubei.

Namun isu tersebut dibantah oleh pihak otoritas Changsha pada Selasa (25/2/2020) malam.

Jingzhou, salah satu kota lainnya di Provinsi Hubei yang juga diisolasi, Rabu (26/2/2020) sore, mengeluarkan pengumuman penangguhan surat izin kepada semua warga dan kendaraan yang hendak ke luar wilayah.

Surat izin yang sudah telanjur dikeluarkan terpaksa dibatalkan dan warga Kota Jingzhou yang telanjur keluar wilayah dipaksa pulang.

Sebelumnya warga Kota Jingzhou diperbolehkan mengemudikan kendaraan pribadi ke luar wilayah setelah mengantongi surat izin dan kartu keterangan sehat dari pemerintah setempat dan pemerintah daerah tujuan yang didapatkan secara daring.

Seorang staf Pemkot Jingzhou pada Rabu (26/2/2020) mengaku pihaknya telah memberikan persetujuan kepada 2.000 pemohon setiap hari. Namun mulai Kamis (27/2/2020) ini tidak seorang pun diizinkan meninggalkan kota itu.

Pemerintah Kota Shiyan di Provinsi Hubei juga telah memperketat semua akses keluar wilayah. Jalan penghubung antarkota diperketat, kecuali bagi kendaraan petugas pengendalian dan pencegahan penyakit menular, kendaraan pengangkut kebutuhan sehari-hari, dan kendaraan petugas kegawatdaruratan.

Semua itu dilakukan demi terjaminnya upaya-upaya pengendalian dan pencegahan wabah penyakit yang hingga saat ini telah merenggut 2.718 nyawa manusia itu.

"Besarnya jumlah warga yang mendapatkan persetujuan meninggalkan Hubei sangat mencengangkan. Para pejabat dan pegawai pemerintah di daerah itu merupakan orang-orang yang sangat berkepentingan dalam memberantas penyebaran virus. Seharusnya mereka sangat ketat menjaga wilayahnya dan isolasi ini tidak sekadar formalitas," kritik Prof Wang Hongwei dari Renmin University.

Sampai saat ini terdapat 10 warga negara asing di Wuhan yang terpapar Covid-19, dua di antaranya, masing-masing berasal dari Amerika Serikat dan Jepang, meninggal dunia.

Sementara itu, tujuh WNI yang masih bertahan di Hubei sampai saat ini dilaporkan dalam keadaan sehat dan terbebas dari paparan Covid-19.

"Mencegah orang-orang meninggalkan Wuhan dan Hubei merupakan sebuah prestasi besar bagi bangsa ini. Hal ini juga berkaitan dengan kepercayaan dan optimisme seluruh masyarakat atas penanggulangan epidemi pada masa-masa yang akan datang," tulis seorang pengamat lainnya.



Sumber: ANTARA