Guatemala Resmikan Kedutaan Besar di Jakarta

Guatemala Resmikan Kedutaan Besar di Jakarta
[C-5] Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi saat menyambut kedatangan Menlu Guatemala Sandra Erica Jovel Polanco di Gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri, Selasa (10/12). Keduanya menggelar pertemuan bilateral membahas peningkatan kerja sama bilateral dan ekonomi. ( Foto: Suara Pembaruan / Unggul Wirawan )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Selasa, 10 Desember 2019 | 17:50 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Pemerintah Guatemala kembali membuka kedutaan besarnya di Jakarta setelah sempat ditutup pada 1992. Peresmian kedubes baru itu akan dilakukan secara langsung oleh Menteri Guatemala Sandra Erica Jovel Polanco dan Menlu RI Retno Marsudi pada Selasa (10/12) malam.

Menlu Retno menyambut baik dan mengucapkan selamat atas pembukaan kembali Kedubes Guatemala yang terletak di Gedung World Trade Centre (WTC) 1, Jakarta. Retno menyebut hubungan politik kedua negara selama ini berjalan sangat baik, meskipun tanpa kedubes di masing-masing ibukota negara.

"Kedutaan Besar Guatemala akan menjadi Kedutaan Besar negara sahabat ke-106 di Jakarta dan ke-14 dari negara Amerika Latin dan Karibia," kata Retno dalam pernyataan pers usai pertemuan bilateral dengan Menlu Sandra di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa.

Pemilihan Jakarta sebagai tempat berdirinya Kedubes Guatemala di Asia Tenggara menjadi pengakuan posisi Jakarta sebagai ibu kota ASEAN. Perwakilan Indonesia untuk Guatemala sendiri berada di bawah Kedubes RI di Kota Meksiko yang merangkap Guatemala, Republik El-Salvador, dan Belize.

Retno menyampaikan hubungan diplomatik RI dan Guatemala dimulai sejak 1992. Kedubes Guatemala sempat berdiri pada tahun yang sama, namun setahun kemudian pada 1993, terpaksa ditutup karena masalah ekonomi.

"Dalam pertemuan bilateral tadi, kami antara lain membahas, pertama, kami sepakat memperkuat kerja sama antara kedua negara," ujar Retno.

Kedua menlu juga melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) mengenai konsultasi bilateral untuk memfasilitasi kerja sama lebih konkret.

Perlu Ditingkatkan

Retno menuturkan nilai perdagangan RI-Guatemala tergolong masih kecil dan perlu ditingkatkan. Untuk itu, dia mendorong kehadiran Guatemala dalam forum Latin America and the Caribbean (INA-LAC) Business Forum yang sudah sempat digelar pada 2019 dan akan kembali digelar pada 2020.

Guatemala merupakan negara mitra perdagangan terbesar kedua bagi Indonesia di wilayah Amerika Tengah. Perdagangan bilateral tahun 2018 mencapai US$ 50,29 juta.

Retno menambahkan kedua menlu secara khusus juga membicarakan isu kelapa sawit. Retno mengajak Guatemala selaku negara eksportir produk minyak sawit utama di Amerika Latin, untuk bekerja sama melawan diskriminasi terhadap kelapa sawit.

"Saya juga mengundang Guatemala untuk bergabung menjadi anggota Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC)," kata Retno.

Dalam konteks hubungan orang per orang, Retno mendorong upaya penyelesaian Persetujuan Bebas Visa bagi Pemegang Paspor Diplomatik dan Dinas, serta menjajaki peluang bebas visa untuk paspor biasa.

Sementara itu, Menlu Sandra Joven berharap pembukaan Kedubes Guatemala di Jakarta akan semakin meningkatkan hubungan bilateral dan perdagangan kedua negara.

"Pembukaan kedutaan akan menjadi simbol kedekatan kedua negara meskipun dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh,” kata Jovel.

Dalam kunjungan di Jakarta, Menlu Sandra Jovel juga melakukan kunjungan kehormatan kepada Sekretaris Jenderal ASEAN dan Direktur Eksekutif Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC).

Kunjungan Menlu Sandra Jovel dan delegasi ke Jakarta, 10-11 Desember 2019, adalah kunjungan tingkat menlu yang pertama kali dilakukan, sejak dibukanya hubungan bilateral RI-Guatemala 26 tahun yang lalu pada tahun 1992.



Sumber: Suara Pembaruan