Defisit Neraca Perdagangan RI-Tiongkok Bisa Diperkecil

Defisit Neraca Perdagangan RI-Tiongkok Bisa Diperkecil
Djauhari Oratmangun dan Garibaldi Thohir. ( Foto: B1/Primus Dorimulu )
Primus Dorimulu / AB Selasa, 19 November 2019 | 09:44 WIB

Beijing, Beritasatu.com - Dengan jumlah kelas menengah yang sudah menembus 300 juta, Tiongkok membutuhkan banyak produk makanan dan minuman (mamin) tropis asal Indonesia, termasuk ikan dan produk laut lainnya. Berapa pun produk laut yang diekspor, Tiongkok akan mampu menyerap. Selain itu, Tiongkok juga meminati mebel dan baterai dari Indonesia. Jika dimaksimalkan, defisit neraca perdagangan Indonesia-Tiongkok dapat diperkecil, bahkan bisa menjadi positif.

"Potensi Indonesia untuk meningkatkan ekspor dan memperkecil defisit neraca perdagangan dengan Tiongkok cukup besar. Yang penting, kita kreatif," kata Dubes Indonesia untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun kepada sejumlah pemimpin redaksi dari Indonesia di Beijing, Minggu (17/11/2019).

Bersama CEO PT Adaro Energy Garibaldi (Boy) Thohir, para pemimpin redaksi media massa Indonesia berkunjung ke Urumqi, ibukota Xinjiang Uygur Autonomous Region, provinsi paling utara di Tingkok, Kamis (14/11/2019) dan Jumat (15/11/2019), untuk melihat langsung kehidupan beragama dan kondisi sosial warga Tiongkok yang beragama Islam di provinsi itu.

Meski dalam satu dekade terakhir defisit neraca perdagangan Indonesia dan Tiongkok membesar, demikian Dubes Djauhari Oratmangun, ekspor Indonesia ke Tiongkok berpeluang besar untuk didongkrak. Permintaan Tiongkok akan produk mamin tropis dan hasil laut terus meningkat seiring dengan kenaikan pendapatan rakyat. Jika Indonesia mampu memperkecil impor dari Tiongkok, defisit neraca perdagangan akan menurun dan bisa berubah menjadi surplus.

Tiongkok saat ini dihuni 1,4 miliar penduduk. Dari jumlah itu, kata Dubes Djauhari Oratmangun, kelas menengah sudah menembus angka 300 juta. Pola konsumsi kalangan ini berbeda dengan masyarakat lainnya. Mereka lebih membutuhkan mamin yang berkualitas dan belanja bulanan mereka cukup besar. Ikan dan aneka makanan laut sangat digemari oleh kelas menengah atas.

Saat ini, sejumlah produk mamin Indonesia sudah masuk Tiongkok, di antaranya kopi Kapal Api, Indocafe, Indomie, dan produk dari sarang burung walet. Jika dikelola dengan baik, kata Djauhari, ekspor produk sarang burung walet bisa mencapai US$ 3 miliar, Saat ini, minuman dari sarang burung walet sangat mahal di Tiongkok.

Potensi ekspor yang cukup besar, demikian Boy Thohir, adalah ikan dan aneka hasil laut dari Indonesia. Jumlah kelas menengah yang sudah menembus 300 juta merupakan pasar yang sangat besar. Kemajuan ekonomi Tiongkok akan melahirkan kelas menengah baru. Ikan dan aneka produk laut adalah makanan favorit kaum menengah atas.

"Mereka bersedia ikut berinvestasi di sektor perikanan," ujar Boy Thohir.

Dengan luas laut 70 persen dari wilayah, Indonesia mampu menjadi salah satu eksportir seafood di dunia. Defisit neraca perdagangan Indonesia dan Tiongkok bisa dikurangi lewat ekspor produk hasil laut.

Seperti sering dijelaskan Menteri Perikanan dan Kelautan periode 2014-2019, Susi Pudjiastuti, ikan segar adalah cash money. Demikian pula dengan udang, kepiting, dan kerang. Dengan penangkapan modern, ekspor ikan segar dan hasil laut lainnya bisa didongkrak. Namun, selama ini, kata Boy Thohir, sektor kelautan belum digarap optimal.

Ekspor sambal ke Tiongkok juga potensial mendulang devisa. Sambal digemari sebagian besar penduduk dengan jumlah 1,4 miliar itu. Begitu pula dengan ekspor buah-buahan, seperti pisang dan manggis. Untuk mendapatkan hasil yang bagus dan tahan lama, panen manggis menggunakan jala agar buah tidak langsung menghunjam tanah. Manggis yang jatuh ke tanah menjadi keras.

Djauhari menekankan pentingnya kreativitas pelaku bisnis. Saat ini, produk biskuit Tango dari Orangtua Group dan Elips, penyubur rambut, sudah masuk Alibaba, e-commerce terbesar di dunia asal Tiongkok. Ia berharap semakin banyak produk Indonesia yang masuk Alibaba karena e-commerce ini diakses oleh separuh rakyat di negeri dengan jumlah penduduk terbesar di dunia tersebut.

Buah tropis yang dibutuhkan Tiongkok selama ini dipasok oleh Malaysia, Vietnam, dan terutama Thailand. Ekspor durian dari Thailand ke Tiongkok mencapai US$ 2 miliar. Pisang dan nanas dari wilayah tropis sangat diminati masyarakat Tiongkok.

Di bidang industri, permintaan baterai dari Indonesia juga cukup tinggi. Seiring dengan peningkatan penggunaan mobil listrik, permintaan terhadap baterai juga ikut meningkat. Dengan dukungan bahan baku, yakni nikel, Indonesia berpotensi menjadi eksportir baterai yang kompetitif. Saat ini, perusahaan Tiongkok sudah berinvestasi di Morowali (Sulawesi Tengah) dan Maluku Utara, untuk memproduksi baterai dengan nilai investasi US$ 10 miliar.

Defisit
Sejak ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) ditandatangani, Indonesia kebanjiran impor produk Tiongkok, mulai dari aneka produk industri manufaktur hingga buah-buahan negeri subtropis. Pada 2018, impor Indonesia dari Tiogkok sebesar US$ 45,54 miliar, sedangkan ekspor Indonesia ke negara itu hanya US$ 27,13 miliar. Dengan demikian, defisit neraca perdagangan Indonesia dengan Tiongkok mencapai US$ 18,4 miliar tahun lalu. 

Pada 2018, ekspor Indonesia ke Tiongkok naik 17,4%. Namun, kata Djauhari, defisit neraca perdagangan tak terelakkan karena impor dari Tiongkok mengalir lebih deras. Hingga saat ini, ekspor terbesar Indonesia ke Tiongkok adalah batu bara dan minyak sawit mentah (CPO).

Untuk memperluas ekspor Indonesia, kata Djauhari, pihaknya tengah menjajaki pembentukan sister free trade zone (SFTZ) agar produk ekspor dengan mudah bisa dikelola dengan lebih efektif dan efisien. SFTZ di Tiongkok adalah Fujian. Dari daerah ini, produk asal Indonesia didistribusikan ke seluruh negeri Tiongkok. Sedang SFTZ di Indonesia bisa dibangun di Semarang dan wilayah di Sumatera, serta wilayah timur Indonesia. Produk Indonesia dikumpulkan di SFTZ untuk diekspor ke Tiongkok lewat Fujian.

Investasi Tiongkok di Indonesia terus meningkat. Selama 2014-2017, investasi Tiongkok di Indonesia mencapai US$ 7,8 miliar dan pada 2018 sebesar US$ 2,6 miliar.

Jumlah wisatawan Tiongkok yang melancong ke Indonesia pada 2018 tercatat 2,1 juta, naik dari 926.000 pada 2014. Jumlah wisatawan asal Indonesia yang mengunjungi Tingkok sebanyak 566.900 pada 2014.

Pada 2018, demikian data Kedubes RI di Beijing, jumlah pelajar Indonesia di Tiongkok mencapai 14.233, naik dari 7.000 pada 2009.



Sumber: BeritaSatu.com