AS, Tiongkok dan Eropa Desak Gencatan Senjata di Suriah

AS, Tiongkok dan Eropa Desak Gencatan Senjata di Suriah
Pasukan pemerintah Suriah mengibarkan bendera nasional dan gambar Presiden Bashar al-Assad di pangkalan udara Tabqa di wilayah Raqqa Suriah di Suriah utara pada Rabu (16/10/2019). ( Foto: AFP / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Kamis, 17 Oktober 2019 | 20:18 WIB

New York, Beritasatu.com- Amerika Serikat( AS), Tiongkok dan lima anggota dewan Eropa yakni Inggris, Prancis, Jerman, Polandia dan Belgia - secara terpisah meminta Turki untuk menghentikan serangannya di Suriah, Rabu (16/10).

“Tiongkok menyerukan untuk segera mengakhiri tindakan militer oleh Turki. Diskusi Dewan Keamanan, dalam satu atau lain cara, masih berlangsung jadi mari kita bekerja menuju solusi yang tepat,” kata Duta Besar Tiongkok Zhang Jun kepada wartawan.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyuarakan keprihatinan pada Rabu (16/10) atas risiko memburuknya situasi kemanusiaan di timur laut Suriah dan pelarian milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), tetapi tidak membuat pernyataan apapun.

DK memang tidak mengatakan apa pun tentang Suriah timur laut setelah bertemu Kamis lalu. Pernyataan Dewan disetujui oleh konsensus dan Duta Besar Rusia untuk Rusia Vassily Nebenzia. Dia mengatakan pada saat itu dewan harus mempertimbangkan aspek-aspek lain dari krisis Suriah bukan hanya operasi militer Turki.

Nebenzia mengatakan bahwa Dewan Keamanan tidak membahas menyerukan gencatan senjata di Suriah timur laut. Sekutu Suriah Rusia telah memveto 13 resolusi DK PBB sejak perang Suriah dimulai pada 2011 dan telah lama menyerukan Amerika Serikat untuk menarik pasukannya dari Suriah.

“Pihak Turki memberi tahu kami bahwa mereka akan menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Suriah. Kami memahami masalah keamanan nasional Turki tetapi kami percaya bahwa operasi militer yang mereka lakukan harus proporsional dengan tujuan yang dinyatakan,” kata Nebenzia kepada wartawan.

Serangan Turki memaksa AS untuk menarik pasukannya keluar dari Suriah utara. Pasukan pemerintah Suriah, yang didukung oleh musuh-musuh Washington, Rusia dan Iran, telah dengan cepat maju ke wilayah yang sebelumnya dipatroli oleh pasukan AS.



Sumber: Suara Pembaruan