Cegah Diabetes, Singapura Negara Pertama Larang Iklan Minuman Manis

Cegah Diabetes, Singapura Negara Pertama Larang Iklan Minuman Manis
Cegah risiko diabetes
Heriyanto / HS Minggu, 13 Oktober 2019 | 14:58 WIB

Singapura, Beritasatu – Singapura menjadi negara pertama di dunia yang melarang total iklan minuman manis dalam kemasan. Langkat itu dilakukan sebagai upaya memerangi penyakit diabetes.

Seperti ditulis Businessmirror.com, Minggu (13/10), salah satu negara di Asia dengan pendapatkan per kapita tinggi itu sudah mengumumkan kebijakan sejak Kamis (10/10) lalu. Larangan iklan minuman manis mencakup seluruh platform media massa dan kanal online seperti televisi, internet, surat kabar, radio, dan iklan luar ruangan.

Kementerian Kesehatan Singapura menyebut, label nutrisi juga akan ditempatkan pada kemasan minuman manis. Label dengan tulisan "Tidak Sehat" akan dicantumkan pada minuman dengan kadar gula sedang hingga tinggi.

Aturan tersebut berlaku pada minuman manis dalam kemasan botol, paket, dan kaleng. Ini termasuk minuman instan, minuman berkarbonasi, jus, minuman susu fermentasi, dan yogurt. Adapun rincian aturan tersebut akan segera diumumkan pada tahun 2020 mendatang.

Menteri Negara Senior untuk Bidang Kesehatan Edwin Tong seperti disiarkan Channel NewsAsia menyatakan, tujuan aturan dan pelarangan tersebut adalah untuk memberikan informasi yang baik dan menurunkan pengaruh iklan, serta mendorong produsen menurunkan kadar gula dalam minuman manis. Kementerian Kesehatan Singapura juga akan menyertakan label dengan pembeda warna untuk menunjukkan jika minuman tersebut sehat, netral, atau tidak sehat. Label tersebut juga disertai informasi kadar gula dan persentase rasio gula di dalam minuman.

Singapura memiliki angka diabetes paling tinggi dan semakin menjadi permasalahan pelik. Survei yang dilakukan pada 2018 lalu menunjukkan rata-rata warga Singapura mengonsumsi 12 sendok teh atau 60 gram gula dalam sehari. Dari angka itu, separuhnya berasal dari minuman manis dalam kemasan.

"Ini menjadi kekhawatiran, karena secara rata-rata, tambahan sajian minuman manis sebesar 250 ml per hari akan menambah risiko diabetes hingga 26 persen," ujar Tong.



Sumber: Suara Pembaruan